Share

Bab 2

Author: Myosotis
"Aku harus ke dokter hari ini."

Waktu baru tunjukkan jam delapan pagi. Daniel sudah berdiri di dekat pintu depan, siap berangkat ke kantor pusat keluarga di pusat kota.

"Ke dokter? Memangnya kenapa?"

"Leherku. Masih sakit sekali."

"Aku antar," katanya ringan. "Aku cuma perlu mampir sebentar ke gudang Belini dulu. Ada pengantaran rahasia untuk Sara. Paling dua puluh menit. Aku nggak akan buat kamu telat."

"Bisa antar aku dulu?"

"Barang itu nggak bisa ditunda. Terlalu banyak mata yang perhatikan sekarang. Semua sopir lagi dipakai untuk pengamanan."

Nada suaranya berubah lebih tajam, ada nada keras yang perlahan muncul di balik ketenangannya.

"Cuma dua puluh menit, Vi. Masuk, keluar, selesai."

Dua jam berlalu. Dia nggak kembali. Aku telepon dia. Telepon berdering enam kali sebelum akhirnya diangkat. Suara di belakangnya terdengar jelas, begitu mudah dikenali, sebuah butik mewah di Mall Avela.

"Sara mau pilih hadiah untuk klien," katanya.

"Kamu bilang mau antar aku."

"Jadwalkan ulang saja. Cuma sakit leher. Aku nggak bisa tinggalkan Sara sendirian di sini. Kamu tahu sendiri gimana situasinya."

Aku duduk sendirian di rumah yang sunyi. Kesunyian itu terasa lebih berat daripada rasa sakit di leherku.

"Sudahlah. Kamu jalan-jalan saja."

Aku tutup telepon, lalu hubungi Dokter Haris, dokter keluarga yang sudah tangani Keluarga Suhardi selama lima belas tahun. Dalam empat tahun pernikahan, aku belum pernah sekali pun hubungi dia sendiri. Daniel sudah buat batas itu sangat jelas, jangan habiskan sumber daya keluarga untuk "keluhan pribadi". Dokter Haris pasang alat scan portabelnya di kamar tamu. Begitu gambar hasil scan muncul di layar, raut santainya langsung lenyap.

"Hernia diskus akut. Saraf di lehermu terjepit. Kapan ini terjadi?"

"Seminggu lalu. Turbulensi parah di atas pesawat. Tubuhku terhempas keras ke kursi, dan selama sepuluh menit aku nggak bisa gerak."

"Seharusnya kamu telepon begitu pesawat mendarat," katanya tegang.

"Kamu butuh istirahat total dan terapi fisik. Mulai sekarang, kamu nggak boleh naik penerbangan jarak jauh lagi. Sama sekali nggak boleh."

"Kalau aku harus?"

Dia menatapku lama.

"Nyonya, aku tahu kamu wanita yang kuat. Tapi suamimu kendalikan setengah kota ini. Kenapa kamu masih kerja dua belas jam melintasi samudra?"

Jarinya mengetuk hasil pemindaian.

"Kalau ini memburuk, rasa sakitnya akan jadi kronis. Bisa sebabkan kelumpuhan sebagian. Kerusakan yang nggak bisa dipulihkan."

Kenapa? Karena Daniel bukanlah janji yang bisa aku andalkan. Seumur hidupku, satu-satunya orang yang benar-benar bisa aku andalkan hanyalah diriku sendiri.

Aku duduk lama sambil pegang hasil scan itu, lalu aku telepon Lina Daryanti.

"Mutasi ke Dulako sudah dikonfirmasi. Aku berangkat hari Senin. Permanen."

"Kamu beneran akan tinggalkan dia?"

Dia nggak pernah datang. Nggak sekali pun. Seharusnya aku sudah pergi sejak bertahun-tahun lalu.

"Vi ...." Suara Lina melunak. "Aku ingat ibumu. Di ICU."

Itu setahun yang lalu. Aku jaga ibu di samping tempat tidurnya selama tujuh hari penuh. Daniel nggak pernah telepon. Nggak pernah datang. Pada hari keempat, dalam keadaan putus asa, aku telepon dia.

Dia jawab dengan santai, "Sara lagi flu. Aku di apartemennya, lagi buatkan sup."

Ketika aku bilang kalau ibuku sedang sekarat, dia cuma jawab, "Tinggallah selama yang kamu butuhkan. Aku urus semuanya di sini."

Daniel datang sesaat sebelum pemakaman dimulai. Dan pergi satu jam setelahnya.

Pukul tiga sore, pesan WhatsApp dari Daniel masuk.

[Hadiahnya sudah beres. Kamu masih perlu ke dokter?]

Baru setelah urus Sara, dia teringat kalau aku sedang kesakitan.

[Nggak. Sudah nggak apa-apa. Aku cuma perlu istirahat.]

[Bagus. Butuh sesuatu?]

[Nggak usah.]

[Oke. Aku akan tanya Sara mau mampir atau nggak. Masakannya enak banget.]

Aku simpan HP-ku, lalu telepon Marvin.

"Bisa majukan penerbanganku ke Dulako jadi hari Sabtu?"

"Lebih cepat? Kamu yakin?"

Aku takut berubah pikiran. Takut satu kalimat baik darinya akan buat aku bertahan lagi.

"Aku yakin. Makasih."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Paket Terkirim dengan Selamat, Istri Ditinggalkan   Bab 10

    Meskipun sudah istirahat di tempat tidur selama beberapa hari, penerbangan terakhir itu tetap tinggalkan rasa sakit yang luar biasa di tubuhku. Saat itulah aku ambil keputusan terakhir, tinggalkan pekerjaan yang telah aku cintai selama sepuluh tahun."Vivi! Ada paket untuk kamu! Dari Nevala!"Beberapa rekan kerjaku panggil dari luar ruangan.Aku buka paket itu perlahan. Hal pertama yang aku lihat adalah surat perceraian. Halaman terakhirnya, di sudut kanan bawah tertera tanda tangan Daniel. Tintanya begitu tebal. Seolah dia tekan bolpoin dengan sekuat tenaga saat torehkan itu. Di bawah map itu masih berisi beberapa benda lain, foto pernikahan kita dibungkus dengan sangat rapi agar nggak rusak. Di balik bingkainya terselip secarik catatan. [Foto ini untuk kamu. Buang saja, bakar kalau kamu mau. Lakukan apa pun yang kamu mau. Tapi apa pun yang terjadi hari itu tetap jadi hari paling bahagia dalam hidupku.]Aku ambil surat perceraian itu, lalu telepon pengacaraku. Dokumen itu segera aku

  • Paket Terkirim dengan Selamat, Istri Ditinggalkan   Bab 9

    "Dia beneran duduk di sana selama seminggu?"Aku baru kembali ke kantor di Dulako setelah seminggu penuh jalani penerbangan internasional tanpa jeda. Seorang rekan kerja berdiri di ambang pintu kantorku dengan mata membulat."Petugas keamanan bilang dia datang setiap hari. Dari gedung dibuka sampai tutup. Hampir seminggu penuh."Namun hari ini dia sudah nggak ada. Menjelang siang, rekanku letakkan sebuah amplop tebal di atas mejaku. Di halaman paling atas terselip secarik surat tulisan tangan. Tulisan Daniel tampak kaku, bergetar.[Aku susun semua ini selama dua hari terakhir. Kamu harus lihat.]Aku buka halaman berikutnya. Di bawah surat itu terdapat setumpuk kertas hasil cetak. Sebuah tabel yang digambar sendiri oleh Daniel. Di bagian atas tertulis:[Catatan Penerbangan Vivi.]Semua. Seratus dua belas kali penerbanganku. Tanggal. Nomor penerbangan. Jam keberangkatan. Jam kedatangan. Semuanya diambil dari arsip maskapai yang berhasil dia paksa untuk kasih ke dia. Namun yang buat aku t

  • Paket Terkirim dengan Selamat, Istri Ditinggalkan   Bab 8

    "Permisi, apa Nona Vivi Suhardi sedang bertugas hari ini?"Aku kenali suara itu bahkan sebelum sempat lihat wajahnya dari balik dinding kaca ruang kru. Darahku seolah membeku.Daniel.Dia temukan aku.Padahal aku sudah peringatkan dia, jangan pernah datang ke sini. Namun dia tetap datang. Penampilannya berantakan. Tubuhnya tampak lebih kurus. Seolah-olah sudah seminggu penuh dia nggak pernah benar-benar tidur. Janggut tipis penuhi rahangnya. Lingkaran hitam membayang di bawah kedua matanya. Di salah satu tangannya, dia genggam kantong kertas yang sudah kusut. Rekan kerjaku noleh ke aku, minta kepastian.Aku menggeleng pelan."Nona Vivi lagi nggak tugas hari ini.""Nggak bertugas?" Suara Daniel pecah."Kalau gitu kapan dia balik tugas?""Maaf, kita nggak bisa kasih informasi itu. Kalau Anda mau, Anda bisa tinggalkan suatu pesan untuk dia."Daniel terdiam cukup lama, lalu perlahan keluarkan sesuatu dari dalam kantong kertasnya."Tolong …. Tolong berikan ini ke dia."Lalu dia pergi. Semen

  • Paket Terkirim dengan Selamat, Istri Ditinggalkan   Bab 7

    "Vivi, kamu baik-baik saja? Daniel benar-benar berantakan sekarang. Aku khawatir banget sama dia."Aku sudah ada di Dulako selama empat hari. Dan pesan itu datang dari Sara. Tentu saja yang dia khawatirkan adalah Daniel. Satu-satunya hal yang benar-benar dia pedulikan adalah ketua mafia kesayangannya sedang hancur. Dan keadaan itu mulai bikin dia repot.Aku balas dengan nada datar.[Aku baik-baik saja. Makasih sudah tanya.]Balasannya datang seketika.[Vivi, apa di antara kalian berdua ada salah paham? Minggu ini dia nggak jemput aku di bandara satu kali pun. Dia juga hampir nggak pernah angkat teleponku.]Ah. Jadi itu masalahnya. Bukan karena pernikahanku telah berakhir. Bukan karena aku pergi. Bukan karena Daniel sedang hancur. Melainkan karena sekarang Daniel nggak lagi tinggalkan segala urusannya hanya untuk penuhi kebutuhan Sara.[Belakangan ini dia memang lagi sibuk.]Beberapa detik kemudian, sebuah pesan panjang masuk.[Vivi, sebenarnya aku nggak enak bilang ini. Daniel sangat s

  • Paket Terkirim dengan Selamat, Istri Ditinggalkan   Bab 6

    Tiga hari ada di Dulako. Dan selama itu pula, HP-ku nggak pernah berhenti bergetar. Pagi itu aku mulai kerja di kantor baru. Tim di sana sopan, cerdas. Nggak ada seorang pun yang tahu kalau aku adalah mantan Nyonya dari Keluarga Suhardi. Dan justru itulah yang buat semuanya terasa sempurna.Saat makan siang, HP-ku kembali bergetar.Nama Lina muncul di layar."Vi, dia pergi ke bandara hari ini."Aku letakkan garpu di atas piring. Perutku terasa tegang."Bandara? Ngapain?""Dia lacak semua sopir yang pernah jemput kamu dari bandara Kelala selama empat tahun terakhir. Dia hubungi mereka satu per satu."Bagi Keluarga Suhardi, temukan para sopir itu di Nevala bukan hal sulit."Sudah berapa banyak yang dia hubungi?""Mungkin setengahnya. Ada satu sopir yang ingat kamu. Katanya dia jemput kamu beberapa kali. Selalu sekitar pukul empat pagi. Dan kamu selalu sendirian. Dia juga bilang, suatu kali kamu masuk ke mobilnya dengan luka robek di tangan. Kamu bilang kena resleting koper."Itu bukan re

  • Paket Terkirim dengan Selamat, Istri Ditinggalkan   Bab 5

    Tiga puluh panggilan nggak terjawab. Semuanya dari Daniel. Notifikasi WhatsApp menumpuk penuhi layar. Namanya terus muncul, seolah bakar pandanganku. Isi pesannya berubah-ubah. Dimulai dari rasa nggak percaya, lalu kemarahan, kemudian tuntutan, ancaman. Hingga pesan terakhir yang masuk tepat saat pesawatku mendarat.[Kamu pergi. Kamu beneran pergi.]Aku kunci layar HP, lalu selipkan itu ke dalam saku. Untuk pertama kalinya dalam empat tahun udara yang aku hirup nggak lagi berbau mesiu, bourbon, dan penyesalan. Belum sempat aku sampai ke mobil yang telah disiapkan Marvin, HP-ku kembali berdering.Itu Lina."Vi …." Nada suaranya terdengar tegang. "Dia benar-benar kehilangan akal.""Siapa?""Daniel. Dia acak-acak seluruh rumah. Setelah itu dia datangi kantor keluarga di pusat kota, lalu ke kantormu. Dia teriak kepada semua orang, paksa mereka kasih tahu kamu di mana. Marvin bilang kamu bakal mutasi permanen ke Dulako. Begitu dengar itu, Daniel hampir saja tembakkan peluru ke dinding. Sela

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status