Silas menarik sebuah kursi berbingkai kayu gelap, lalu mendudukinya tepat di tepi ranjang. Siku tangannya bertumpu di atas lutut, sementara jemarinya yang kokoh saling bertaut di depan wajah, menutupi sebagian rahangnya yang mengetat.Manik mata biru lautnya menatap lekat-lekat setiap inci wajah Hanaya. Di bawah terpaan cahaya lampu tidur yang temaram, perempuan itu tampak begitu rapuh. Helaian rambut hitam kecokelatan berantakan di atas bantal putih, dan kulitnya terlihat pucat pasi, jauh berbeda dari sosok yang belakangan ini selalu berdebat dan melawan setiap kata-katanya.Tidak ada lagi kepatuhan, tatapan sinis, protes bernada ketus, atau napas memburu akibat amarah. Yang tersisa hanya naik-turun dada Hanaya yang bergerak lambat seiring embusan napas lemah dari bibirnya yang sedikit terbuka.Silas terdiam cukup lama. Pria yang terbiasa memegang kendali atas segalanya, yang tidak pernah ragu menghancurkan siapa pun yang berani menentangnya, kini merasa ada du
Last Updated : 2026-09-10 Read more