LOGINMobil meninggalkan halaman rumah Laurent perlahan. Jalanan belum padat, cahaya matahari menyinari wajah Arven yang duduk santai di kursi belakang. Elena di sampingnya, Kael di depan bersama pengemudi.Beberapa menit pertama hening. Elena sesekali melirik, Arven tampak terlalu baik-baik saja, bahkan membaca pesan di ponselnya."Jangan terlalu lama melihat ponsel," tegur Elena lembut akan tetapi tegas.Arven menoleh. "Kenapa?""Matamu perlu istirahat," jawabnya mantap.Arven mengangkat alis, tersenyum tipis. "Dokter jantung sekarang mengurusi mata juga?"Elena menatapnya datar. "Aku bisa mengurusi banyak hal kalau pasienku keras kepala.""Jadi aku pasienmu?" tanyanya, matanya berkilat jenaka."Kau memang pasien," jawabnya singkat."Padahal aku kira aku sudah naik tingkat," ucapnya nada kecewa dibuat-buat."Naik tingkat?" Elena mengerutkan kening."Menjadi seseorang yang kau pedulikan." Elena terdiam sejenak. "Kenapa diam?""Aku sedang menyesal," jawabnya pelan, memalingkan wajah."Menye
Arven pulang ke rumah sore itu. Setelah beberapa hari di rumah sakit, melihat langit dari jendela kamar sendiri terasa seperti kemewahan sederhana. Ia duduk di sofa ruang keluarga sambil meluruskan kaki, sementara Kael berdiri tak jauh memeriksa berkas."Besok kau istirahat," ucap Kael tenang, matanya tak lepas dari lembaran di tangan.Arven menoleh perlahan, menatap punggung sahabatnya. "Besok aku ke kantor."Kael langsung berhenti bergerak, mendongak seketika. "Apa?""Ada rapat yang tak bisa ditunda," jawab Arven, suaranya datar akan tetapi teguh."Kau baru pulang ke rumah sakit hari ini," Kael menatapnya tak percaya, alisnya berkerut."Aku tahu. Dokter bilang aku harus istirahat, aku tahu," Arven menunduk menatap lututnya. "Tapi perusahaan tak ikut sakit saat aku sakit.""Setidaknya beri waktumu menyesuaikan diri," Kael menarik nafas panjang, berusaha tetap tenang."Aku tak akan seharian di sana," sahut Arven, menyandarkan punggungnya lebih rileks."Itu tak membuatnya terdengar leb
Sejak percakapan dengan Arven kemarin, Elena terus memikirkan satu hal. Arven tidak membutuhkan penjelasan panjang darinya. Ia hanya ingin tahu apakah perubahan sikap Elena berarti ia sudah tidak peduli.Pagi itu, Elena kembali ke kamar Arven. Ia mengetuk pintu pelan sebelum masuk. Langkahnya lebih tenang, lebih ringan dibanding hari-hari sebelumnya."Pagi," sapanya lembut, senyum tipis menyapa begitu ia melihat sosok yang sudah menunggunya.Arven menoleh dan tersenyum tipis, senyum yang tulus, yang menyambutnya seperti dulu. "Pagi, Dokter."Elena mendekat dan memeriksa kondisinya seperti biasa. Akan tetapi kali ini, kehadirannya terasa lebih hangat, lebih dekat. Setelah memastikan hasil pemeriksaannya baik, ia menutup catatan di tangannya dan menatap Arven lekat-lekat."Ada kabar baik," ucapnya, senyum tipis mengembang di bibirnya.Arven mengangkat alis, matanya berbinar penasaran. "Apa?""Kalau hasil pemeriksaan terakhir tetap stabil, kemungkinan besar hari ini kau sudah bisa pulang
Pagi itu, cahaya matahari baru saja menyelinap masuk lewat celah tirai. Elena datang lebih awal dari biasanya. Langkah kakinya terdengar pelan di lantai, akan tetapi terdengar jelas di telinga Arven yang sudah terjaga sejak beberapa saat lalu. Ia mengetuk pintu sebelum masuk."Selamat pagi," sapanya, suaranya tenang dan teratur, akan tetapi ada jarak yang terasa di antara nada suaranya, seolah ia sengaja menempatkan tembok kecil di antara mereka sejak kalimat pertama terucap.Arven yang sedang duduk di tempat tidur mengangkat wajah perlahan, menatap wanita itu lekat-lekat, berusaha mencari sisa kehangatan yang dulu selalu ada di tatapan itu."Selamat pagi, Dokter," jawabnya pelan, hanya dua kata yang sederhana, akan tetapi entah mengapa terasa begitu jauh, seolah mereka bukan lagi dua orang yang pernah berbagi cerita rahasia di tengah malam, melainkan orang asing yang baru pertama kali berpapasan.Elena berjalan mendekat sambil memeluk tablet di d
Sejak pagi itu, Arven mulai memperhatikan sesuatu. Elena berubah. Awalnya ia mencoba mengabaikannya. Mungkin Elena sedang sibuk. Mungkin ia hanya terlalu banyak berpikir setelah percakapan mereka malam sebelumnya. Akan tetapi semakin hari, semakin sulit bagi Arven untuk menyangkalnya.Elena memang menjauh. Ia tidak lagi datang sesering sebelumnya. Ketika datang, sikapnya lebih formal. Tidak ada lagi percakapan kecil, tidak ada lagi perhatian yang terasa personal. Bahkan cara Elena memanggilnya pun berubah.Dulu, "Arven."Sekarang, "Anda."Perubahan kecil itu seharusnya tidak berarti apa-apa. Akan tetapi entah mengapa, setiap kali mendengarnya, dada Arven terasa sesak.Pagi itu Elena masuk untuk melakukan pemeriksaan. Ia melangkah masuk dengan langkah yang rapi, akan tetapi matanya tidak lagi menatapnya lama seperti biasanya."Selamat pagi," sapa Elena, suaranya tenang akan tetapi terasa dingin, tanpa senyum yang biasa menyambutnya."Selamat pagi, Dokter," jawab Arven pelan, matanya ta
Sejak pagi itu, Elena telah mengambil keputusan. Ia harus menjaga jarak. Bukan karena Arven melakukan kesalahan, bukan pula karena ia menyesali percakapan semalam. Justru karena kata-kata yang terucap itu begitu berarti baginya. Arven telah mempercayainya, membuka luka yang dipendam sendirian selama lima tahun. Dan Elena menyadari, sejak saat itu, perasaannya mulai berubah. Ia tidak lagi melihatnya sekadar sebagai pasien. Itulah yang membuatnya takut. Seorang dokter boleh peduli, boleh khawatir, boleh merasa lega melihat pasiennya membaik. Akan tetapi Elena mulai merasakan sesuatu yang berbeda, sesuatu yang tak seharusnya tumbuh di antara mereka. Maka ia memilih satu hal yang dianggapnya benar, menjaga jarak. Pagi itu, Elena masuk ke kamar Arven seperti biasa, akan tetapi ada sesuatu yang berbeda. Ia mengetuk pintu terlebih dahulu. "Selamat pagi," sapa Elena, senyum tipis menyungging di bibirnya. Arven yang duduk di tepi ranjang mendongak. "Dokter," jawabnya lembut. "Bagaimana ke







