Malam menelan Jakarta dengan buas, menggantikan langit sore yang jingga dengan kanvas hitam pekat tanpa bintang. Di kawasan Kota Tua, denyut nadi kehidupan justru baru saja meledak. Ribuan manusia tumpah ruah bagaikan lautan semut di bawah cahaya lampu neon warna-warni. Suara musik jalanan, tawa riang pengunjung, dan teriakan pedagang kaki lima berbaur menjadi sebuah simfoni kekacauan yang memekakkan telinga.Bagi orang awam, ini adalah festival malam minggu yang menyenangkan. Namun bagi Atlas Mahardika, lautan manusia ini hanyalah sebuah tirai kamuflase. Panggung sandiwara sempurna untuk menutupi jejak darah yang akan segera ia torehkan.Audi RS7 hitam pekat milik Atlas terparkir diam di sebuah gang sempit yang diapit oleh dua gedung tua bergaya kolonial, sekitar tiga blok dari Stasiun Jakarta Kota. Di dalam kabin yang gelap gulita itu, ketegangan terasa begitu kental, nyaris bisa diiris dengan pisau.Atlas duduk di balik kemudi, matanya menatap tajam ke arah kerumu
Last Updated : 2026-09-23 Read more