Transmigrasi ke Tubuh Istri Bisu Sang Mafia

Transmigrasi ke Tubuh Istri Bisu Sang Mafia

last updateLast Updated : 2026-08-06
By:  Kholifah shafaUpdated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Not enough ratings
6Chapters
7views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Kylie Slavonia, seorang gadis jalanan berjiwa tangguh yang tewas dalam kecelakaan tragis, mendapati jiwanya bertransmigrasi ke tubuh Kyara Ardennes Hargens. Kyara adalah wanita muda kaya raya yang tunarungu, dibenci oleh keluarganya sendiri, dan terkurung dalam pernikahan tanpa cinta. ​Suaminya, Calvin Hargens, seorang pria berkuasa yang dingin dan kejam, menatap Kyara dengan penuh kebencian. Calvin terpaksa menikahi Kyara hanya demi memenuhi janji kepada sang Nenek, sementara cintanya telah habis untuk wanita lain bernama Belva. Di mata Calvin, Kyara tak lebih dari sekadar "pajangan bisu" dan pemuas amarahnya. ​Jika Kyara yang asli selalu pasrah, menangis, dan menerima setiap hinaan serta kekerasan batin dari Calvin, kehadiran jiwa Kylie mengubah segalanya. Mengandalkan ketangguhan masa lalunya dan kemampuan membaca gerak bibir, Kylie menolak menjadi korban!

View More

Chapter 1

1

"Ayah... Sudah lama kita duduk berhadapan, tapi entah kenapa percakapan kita selalu berhenti di permukaan. Aku ingin bercerita banyak. Aku tahu Ayah peduli. Ayah hanya tak pandai merangkai kata. Namun hari ini... aku ingin kita bicara dari hati ke hati. Tanpa gengsi, tanpa jarak. Ayo kita cerita, Yah. Aku rindu didengarkan... seperti dulu."

Kylie Slavonia menatap layar ponselnya yang retak di ujung. Ibu jarinya melayang di atas tombol Kirim, sebelum akhirnya ia kembali menekan Simpan sebagai Draf.

Pesan itu hanya akan bermukim di sana, di tumpukan catatan kusam ponselnya. Tidak akan pernah terkirim. Padahal, pria yang seharusnya membaca pesan itu—beserta wanita yang paling merengkuhnya di dunia—kini hanya tersisa sebagai dua gundukan tanah berdampingan di bawah nisan yang dingin. Ia sendirian di dunia yang terlalu bising ini.

Langit Jakarta sore itu seolah ikut menanggung beban Kylie. Awan kelabu menggantung rendah, memuntahkan gerimis yang perlahan berubah menjadi hujan deras.

Gadis berusia 24 tahun itu merapatkan jaket hijau kedodorannya, mencoba mencari kehangatan yang tersisa. Di balik kaca helm yang dipenuhi baret, mata indahnya menatap kosong ke deretan lampu merah. Tangannya yang kebas mencengkeram setang motor matic tuanya yang mulai bergetar ringkih.

Dulu, tangan itu bergerak lincah dan anggun. Ia merangkai isyarat, menjembatani dunia hening anak-anak tunarungu yang begitu ia cintai. Namun, keheningan yang indah itu tak bisa membayar tunggakan utang peninggalan orang tuanya. Kylie terpaksa menukar kedamaiannya dengan bisingnya ibu kota. Menjadi pelayan hotel yang membuat punggungnya serasa remuk di pagi hari, lalu membelah macet sebagai kurir makanan hingga petang menyapa.

Wajah ayunya yang lelah tertutup masker dan debu basah. Jakarta tidak peduli pada kecantikan; kota ini hanya menagih keringat dan air mata.

"Satu pesanan lagi, Ky," gumamnya dengan bibir gemetar menahan dingin. "Cuma satu lagi. Habis itu pulang, makan mi instan kuah, lalu tidur."

Lampu lalu lintas di depan matanya akhirnya berpendar hijau.

Kylie menarik tuas gas perlahan, membiarkan motornya melaju menembus tirai hujan di persimpangan jalan. Dalam bayangannya, ia sudah melihat kasur tipisnya yang hangat. Ia hampir sampai.

Namun, di tengah deru hujan, sebuah klakson panjang yang memekakkan telinga merobek udara.

Brummm! TIIIIIINNN!

Kylie menoleh dari balik bahunya. Semuanya terjadi dalam sepersekon yang terasa seperti ditarik paksa. Dua sorot lampu kuning menyilaukan dari sebuah truk tronton yang kehilangan kendali menerjang deras ke arahnya, laksana monster besi yang buta.

"AWAS!"

Jeritan seseorang dari trotoar terdengar samar, tenggelam oleh suara decit ban yang bergesekan putus asa dengan aspal basah. Kylie tak sempat berteriak. Ia bahkan tak sempat bernapas.

BRAKK!

Logam menghantam daging dan tulang dengan suara yang memualkan.

Dunia Kylie berputar hebat. Tubuh rampingnya terlempar ke udara, seringan boneka kain yang terlepas dari pelukan pemiliknya, sebelum akhirnya terhempas menghantam aspal merah dengan bunyi gedebuk yang kasar.

Motor tuanya hancur berantakan beberapa meter darinya. Namun, Kylie tak lagi memedulikannya. Rasa sakit yang semula merobek sekujur tubuhnya kini perlahan surut, digantikan oleh rasa kebas yang menjalar dari ujung kaki hingga ke dada.

Hujan turun membasuh wajahnya. Bau karat dari darah segar yang mengalir dari pelipisnya bercampur dengan aroma aspal basah. Napasnya tersengal, pendek, dan sangat berat. Kelopak matanya menolak untuk tetap terbuka.

Di ambang batas kesadarannya yang kian menipis, bisingnya klakson dan jeritan orang-orang perlahan memudar. Berganti dengan sebuah keheningan yang familiar. Keheningan yang sangat ia rindukan.

Di ujung cahaya yang hangat, ia melihat dua siluet berdiri menunggunya. Ayah dan Ibunya. Mereka tersenyum, merentangkan tangan dengan kasih yang tak pernah pudar.

"Ayah... Ibu..." batin Kylie lirih. Sudut bibirnya tanpa sadar melengkung, membentuk senyuman tipis yang melegakan. "Apakah akhirnya... aku boleh istirahat?"

Gelap merengkuhnya dengan lembut. Di tengah derasnya hujan Jakarta yang tak mau peduli, Kylie Slavonia—gadis tangguh yang lelah itu—akhirnya tertidur, memeluk keheningannya untuk selamanya.

Aroma lavender yang mahal menyeruak, menyamarkan bau obat-obatan yang kebas.

Sakit...

Itu kesadaran pertamanya. Namun, rasa sakit ini berbeda. Ini bukan ngilu tulang yang remuk dihantam monster besi di tengah hujan Jakarta. Ini adalah denyutan tajam di dalam tengkoraknya, seolah ribuan jarum memaksa masuk, menyuntikkan kepingan memori yang bukan miliknya.

Kelopak mata itu perlahan terbuka.

Alih-alih melihat langit-langit kamar indekosnya yang bernoda air hujan, retinanya menangkap pendar kemilau dari lampu gantung kristal. Langit-langit ruangan itu tinggi, berlapis warna putih gading dan aksen emas yang mengintimidasi.

Kylie—atau jiwa yang kini mendiami tubuh itu—mencoba bangkit. Jemarinya mencengkeram seprai. Ia menunduk, menatap tangannya sendiri dengan kening berkerut. Kulit yang putih, pucat, dengan kuku-kuku lentik yang terawat sempurna. Ke mana perginya kapalan bekas setang motor? Ke mana perginya luka bakar akibat cipratan minyak panas?

Dengan napas tertahan, ia menurunkan kakinya, membiarkan telapak kakinya tenggelam dalam karpet bulu tebal di lantai. Langkahnya tertatih menuju cermin besar berbingkai ukiran klasik di sudut kamar.

Pantulan di sana membuat napasnya tercekat.

Seorang wanita asing menatapnya dengan raut pias. Rambut hitamnya panjang bergelombang, membingkai wajah rapuh dengan sepasang mata bulat yang memancarkan kesedihan pekat.

"Siapa... kau?" gumam Kylie.

Ia merasakan getaran di pita suaranya. Ia merasakan bibirnya bergerak. Namun, dunia di sekitarnya tetap hening. Sunyi senyap. Tidak ada gema. Tidak ada pantulan suara. Kylie menelan ludah, menepuk kaca cermin di depannya keras-keras. Ia merasakan getarannya di telapak tangan, tapi telinganya tak menangkap bunyi apa pun.

Sebuah keheningan absolut. Keheningan yang sangat ia kenal selama bertahun-tahun mengajar anak-anak tunarungu, tapi kini keheningan itu menelannya bulat-bulat.

Bersamaan dengan kesadaran itu, gelombang memori menghantamnya tanpa ampun.

Kyara Ardennes Hargens.

Istri dari Calvin Hargens.

Seorang tunarungu.

Aib bagi keluarganya. Pajangan bisu yang disiksa batinnya oleh pria yang seharusnya melindunginya.

Kylie memegangi tepi cermin, membiarkan kepalanya berdenyut hebat. Ia mengerti sekarang. Kylie Slavonia telah tamat di aspal basah Jakarta. Takdir dengan selera humornya yang kejam telah melempar jiwanya ke dalam tubuh rapuh ini. Ke dalam sebuah sangkar emas yang sunyi.

Kylie merasakan getaran kasar yang merambat dari lantai marmer ke telapak kakinya, disusul perubahan tekanan udara di dalam ruangan. Seseorang baru saja membanting pintu kamar.

Ia menoleh.

Seorang pria berdiri di ambang pintu. Posturnya tinggi menjulang, dibalut setelan jas hitam yang memeluk tubuh atletisnya. Rahangnya mengeras, membentuk garis tegas yang menakutkan, sementara sepasang mata kelamnya menatap Kylie dengan kebencian yang telanjang.

Calvin Hargens.

Suami sah dari tubuh ini. Sang algojo dari neraka Kyara.

Pria itu melangkah lebar menghampirinya. Aura dominasinya begitu pekat hingga Kylie merasa pasokan oksigen di ruangan itu tersedot habis. Tatapan Calvin beralih pada sebuah nampan di atas nakas—berisi semangkuk bubur hangat dan obat yang disiapkan Kyara asli sebelum pingsan, sebuah upaya menyedihkan untuk mencari perhatian suaminya.

Calvin berhenti tepat di hadapan Kylie. Urat di lehernya menonjol. Tanpa suara, mulut pria itu mulai bergerak.

Kylie menatap bibir itu lekat-lekat. Insting lamanya sebagai guru bahasa isyarat bekerja otomatis, membaca setiap silabel yang dimuntahkan suaminya dengan akurasi yang menyakitkan.

"Kau pikir... dengan wajah memelasmu itu... aku akan luluh?"

Tangan besar Calvin tiba-tiba mencengkeram bahu Kylie. Kuku-kukunya menembus piyama sutra tipis yang dikenakannya, menekan kulit dengan kekuatan yang memaksa Kylie mendongak.

"Ingat posisimu, Kyara," Calvin mendesis tepat di depan wajahnya, matanya menyorotkan kilat amarah. "Aku menikahimu hanya demi Nenek. Cintaku hanya milik Belva. Kau... hanyalah pajangan bisu di rumah ini."

Dalam satu gerakan kasar, Calvin melepaskan cengkeramannya, beralih menepis nampan di atas nakas.

Mangkuk porselen itu melayang, pecah berkeping-keping di lantai. Kylie tak mendengar suara pecahannya, tapi ia merasakan cipratan bubur panas yang mengenai pergelangan kakinya.

Panas. Perih.

Dalam kepingan memori Kyara, tubuh ini seharusnya sudah luruh ke lantai. Bersimpuh, menangis tanpa suara, memohon ampun, dan memunguti pecahan porselen itu dengan tangan bergetar.

Namun, yang berdiri di sini sekarang bukan lagi Kyara.

Ini adalah Kylie Slavonia. Perempuan yang pernah menghajar preman pasar demi mempertahankan lapak dagangannya. Perempuan yang terbiasa ditampar oleh kerasnya aspal jalanan. Alih-alih menunduk, Kylie berdiri tegak.

Ia mengangkat wajahnya. Sepasang mata bulat yang biasanya menyiratkan ketakutan itu kini menatap lurus menembus manik kelam Calvin. Tidak ada air mata. Tidak ada bahu yang bergetar. Yang ada hanyalah sorot mata sedingin baja—tatapan menilai dari seseorang yang tak sudi direndahkan.

Dengan gerakan lambat namun sangat disengaja, Kylie mengangkat tangannya, lalu menepis sisa cengkeraman Calvin di bahunya seolah pria itu adalah kotoran yang menempel di bajunya.

Calvin tertegun. Pria itu membeku selama sepersekian detik. Sudut matanya berkedut, tidak siap menerima perlawanan hening dari istri penurutnya. "Kau—"

Kylie mundur selangkah, menjaga jaraknya. Sudut bibirnya nyaris tak terlihat mengangkat, membentuk seringai tipis yang meremehkan. Ia tidak butuh suara untuk melawan. Biarkan kebisuan ini yang menjadi senjatanya. Biarkan pria angkuh ini menyadari, bahwa boneka porselennya baru saja hancur, digantikan oleh sesuatu yang jauh lebih berbahaya.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
6 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status