Langkah kaki mereka menggema pelan di atas beton retak, ditelan oleh suara deru mesin pabrik dari kejauhan dan deburan ombak pesisir yang menghantam tanggul. Udara malam Tanjung Priok terasa lebih tebal, bercampur dengan aroma amis air laut, karat besi, dan bau tembaga pekat dari darah yang perlahan mengering.Atlas Mahardika berjalan bagaikan mayat hidup.Lututnya gemetar di setiap langkah. Rasa sakit yang tajam berdenyut di pelipisnya, efek dari benturan keras airbag yang meledak di wajahnya. Namun, rasa sakit fisik itu tidak sebanding dengan kekacauan yang memorak-porandakan kewarasannya. Tangannya, yang biasanya hanya memegang pena Montblanc atau setir mobil sport mahal, kini berlumuran darah kental—darah dari hidungnya, dan mungkin... darah para pria yang baru saja ia hantam hingga tewas.Gue ngebunuh orang.Kalimat itu berulang-ulang berteriak di dalam kepalanya, layaknya kaset rusak yang diputar dengan volume maksimal. Dunia mewahnya yang aman, di mana mas
Last Updated : 2026-09-13 Read more