"Tante benar-benar mau saya pergi dan gak datang lagi ke toko ini?" tanya Devan pelan. Arini mengepalkan jemarinya di samping tubuh, menahan rasa sesak di dadanya saat mengangguk pelan. "Ya. Demi kebaikan kita bertiga. Demi Rian, demi kamu, dan demi Tante sendiri." "Baik kalau itu keputusan Tante," sahut Devan lembut tanpa nada bantahan. Pemuda itu membalikkan badan, memasukkan buku sketsanya ke dalam tas ransel cokelat yang tergeletak di atas kursi kayu. Namun, alih-alih langsung melangkah menuju pintu keluar, Devan justru memutar tubuhnya dan kembali berjalan mendekati Arini. Arini refleks mundur setengah langkah, menegakkan bahunya demi membangun tembok pertahanan di dalam dirinya. Devan menghentikan langkahnya tepat di batas jarak yang aman, lalu menatap wajah Arini yang terlihat begitu tegang dan rapuh. "Tante boleh membangun tembok setinggi dan setebal apa pun buat membentengi diri Tante dari saya," Devan bersuara lirih, namun setiap katanya terdengar sangat jelas, bergema
Last Updated : 2026-08-27 Read more