"Sorry, Dra, bentar ya..." pangkas Willy terburu-buru, lalu menggeser tombol hijau di layarnya. Andra bergeming, matanya tak lepas menatap ponsel yang kini menempel di telinga pria tua itu. Ia memperhatikan setiap pergerakan Willy—angukan kepalanya yang teratur, hingga kerut halus di sudut matanya."Oh, gitu... Iya, iya," gumam Willy pelan. Ia miringkan sedikit pergelangan tangannya, melirik arloji emas yang melingkar di sana. "Jam berapa? Oh, habis makan siang? Oke, oke. Saya datang nanti." Bip. Panggilan terputus. Willy meletakkan kembali ponselnya di atas meja kayu dengan ketukan pelan. "Sampe mana tadi kita, Dra?" tanya Willy menatap lurus. Andra menyandarkan bahunya, memamerkan raut datar. "Sampe mana? Kayaknya dari tadi kita cuma ngobrol basa-basi aja, Om." "Haha... Iya, iya," tawa Willy meledak halus, geleng-geleng kepala melihat ketegangan anak muda di depannya. "Kamu sih waspada banget ngobrol sama Om, jadi Om bingung mau ngobrol apa." Andra menyu
Last Updated : 2026-08-18 Read more