Mahesa terkejut dengan sesuatu yang dia lupakan. Dia merasa gagal dalam membangun usaha ini. "Kamu kenapa Mahesa?" Siska ikut merasa khawatir saat wajah Mahesa penuh ketegangan. "Dari awal sampai saat ini, kita ... belum menemukan nama cafe ini." Mahesa mengusap wajahnya kasar. Siska yang semula menegang, langsung berubah tertawa dengan renyah. "Oh soal itu, ya." "Kenapa kamu ketawa?" Mahesa bingung dengan reaksi Siska. Siska menghentikan tawaannya."Tenang aja, nama cafe ini udah aku buat. Sorry banget, aku enggak bilang sama kamu." Mahesa bernapas lega."Kenapa kamu enggak ngabarin aku?" "Karena lupa. Maaf ya, Mahesa." Siska merasa bersalah pada Mahesa, dengan sikapnya yang pelupa. Siska mengambil ponselnya dari atas meja, kemudian membuka sebuah catatan di ponsel yang sudah tersimpan sejak beberapa hari lalu. “Aku sebenarnya sudah punya beberapa pilihan.” Siska yakin, Mahesa akan suka. Mahesa mendekat. “Coba lihat.” Siska memperlihatkan layar ponselnya. “Yang p
Last Updated : 2026-09-09 Read more