Pagi harinya, Tiara kembali sibuk menyiapkan sarapan di dapur. Seperti biasa, dia menyiapkan segala keperluan Mahesa sebelum pria itu berangkat bekerja.Namun, pagi ini tidak ada senyum hangat yang biasanya menyambut Mahesa. Pria itu keluar dari kamar, lalu menghampiri istrinya yang sedang meletakkan piring di atas meja makan.“Pagi, Sayang.” Mahesa mengecup pelan kening Tiara.“Pagi, Mas.” Tiara menjawab singkat tanpa menoleh.Mahesa mengernyit. Dia menarik kursi, kemudian memperhatikan istrinya yang kembali sibuk di dapur.Mahesa menatap istrinya.“Ra, kamu masih marah sama aku?”Tiara menggeleng sambil membawa segelas air putih ke meja makan.“Enggak, Mas. Kenapa harus marah?”“Kalau enggak marah, kenapa dari tadi kamu diam saja?” Mahesa meraih tangan Tiara, berusaha membuat istrinya menatapnya.Tiara terdiam sesaat. Dia tidak ingin mempermasalahkan hal kecil, apalagi mengetahui Mahesa sedang berjuang mempertahankan usahanya. Namun, bukan berarti dirinya tidak membutuhkan perhatian
Last Updated : 2026-10-15 Read more