Dering ponsel Arka nyaris tak berjeda. Siapa lagi kalau bukan sang mama. Pria itu memilih menulikan pendengarannya dan fokus pada jalan raya. Di sebelah, Kalla terus membuang muka dan tak mau diajak bicara.“Sayang ....” Cengkeram Arka pada kemudi makin mengencang. Dia menelan ludah tatkala istrinya melengos, membuang pandangan dan tak mau menatapnya. Duduk tenang, Kalla hanya menikmati jalanan menuju pulang dan bungkam.“Kamu masih marah, Sayang?”Arka bertanya di sela dering panggilan. “Terima teleponnya, Mas. Berisik!” Kalla melipat tangan di dada.“Biarkan saja. Mama yang ....”“Terima, Mas. Nanti ... aku lagi yang disalahkan. Aku tak mau!” tegas Kalla, makin melempar jauh pandangannya. Setiap teringat sang mertua, lukanya makin menganga.“Biarkan saja. Mama hanya caper.” Arka melirik layar ponsel yang terus menyala dengan dering berteriak nyaring.“Terima, Mas. Takutnya Mama benar-benar membutuhkanmu. Aku tidak mau jadi alasan seorang anak durhaka pada orang tuanya, Mas.”Arka
Last Updated : 2026-09-01 Read more