Arka terus menggenggam tangan Kalla sepanjang perjalanan menuju kediaman mamanya. Perasaan membuncah. Kelegaan tak terkira. Sekian minggu diimpit keresahan, akhirnya sang istri luluh.“Sayang, terima kasih.” Arka mencium punggung tangan Kalla di perempatan lampu merah. Sambil menunggu rambu lalu lintas itu berubah hijau, dia terus menatap wanita di kursi penumpang dengan binar cinta. Kalla bergeming. Kini, sikap manis Arka terasa memuakkan. Setelah pengkhianatan yang dilakukan laki-laki itu, sulit untuknya memaafkan."Sayang ....”“Mas, bisakah berhenti memanggilku seperti ini? Sayangmu itu diumbar ke mana-mana.”Arka ciut.“Jujur, setiap mendengar kata sayang keluar dari mulutmu, rasanya jijik, Mas.”Pria di balik kemudi itu tertunduk. Kata-kata Kalla seperti belati. Kecil, tetapi mampu mematikannya. Dia tak bisa membela diri setiap kekhilafannya diungkit kembali. Salah? Sudah pasti. Di belahan dunia mana pun, tindakannya tak bisa dibenarkan.“Seperti tidak ada harganya lagi sayangm
Last Updated : 2026-08-15 Read more