Pagi itu, langit Jakarta menggantung rendah, memuntahkan gerimis yang merayap turun di dinding kaca gedung Exder Group. Kalandra berdiri pongah di balik jendela ruang kerjanya, menyesap espresso ganda dengan tatapan angkuh menantang hamparan kota. Di matanya, Jakarta adalah papan catur raksasa, dan ia adalah sang raja yang tak mungkin tersentuh oleh bidak mana pun.Namun, sang raja tidak menyadari bahwa papan caturnya baru saja dibakar dari bawah.Pintu kayu ek berukir itu didobrak terbuka tanpa ketukan. Surya, tangan kanan Kalandra yang baru, menerobos masuk dengan wajah sepucat mayat. Jasnya berantakan, dan napasnya memburu seolah baru saja dikejar malaikat maut."Bapak harus melihat ini. Sekarang," suara Surya bergetar hebat, tangannya yang gemetar menyodorkan sebuah tablet elektronik.Kalandra mengerutkan kening, meletakkan cangkir porselennya dengan gurat jengkel. "Aku sudah bilang, jangan pernah masuk ke ruanganku dengan cara kampungan seperti—"Kalima
Dernière mise à jour : 2026-09-02 Read More