Mata ibunya melebar. Kakinya bergerak sebelum pikirannya sempat memerintah, membawanya ke ambang jendela, dan tangannya mencengkeram bingkai hingga kuku-kukunya memutih. Ia melongok ke bawah.Di sana, Aeri sedang berusaha bangkit. Tubuhnya limbung, satu tangan menahan tanah, tapi kepalanya terangkat. Matanya bertemu mata ibunya di ketinggian itu, dan seringai paling lebar yang pernah ia tunjukkan terbit di bibirnya.Dari kejauhan, raungan sirine merayap mendekat, makin keras, makin jelas. Lampu merah dan biru menyapu dinding halaman, lalu menyapu wajah ibunya.Ibunya tersenyum. Bahunya mulai berguncang, dan tawa pelan itu merambat naik menjadi terbahak-bahak, seperti orang yang akhirnya menemukan lelucon pada nasibnya sendiri.“Kau ternyata sudah mempersiapkan semuanya.”Tawa itu mati di tengah napas. Pipinya basah, dan ia tak tahu sejak kapan. Air mata mengalir turun tanpa izin, turun ke dagu, menetes ke punggung tangannya yang masih berdarah oleh bekas gigi.Di dalam dadanya, sesuat
Huling Na-update : 2026-10-11 Magbasa pa