“Apa yang Ibu inginkan?” Aeri mengangkat dagu sedikit. Matanya menatap lurus ke arah Ibunya.“Ivy, kenapa kau menatap Ibumu seperti itu? Kau membuat Ibu takut,” suaranya lembut, nyaris rapuh, sesuatu yang tak pernah Aeri dengar darinya sebelum ini.Mendengar itu, Aeri mendengus. Ia mengulas senyum tipis, senyum yang tak sampai ke matanya, menatap wanita yang tiba-tiba begitu peduli itu seolah sedang melihat lelucon paling lucu hari ini.“Takut? Apa aku tidak salah dengar, Ibu?”Ada jeda. Senyap yang aneh. Ibunya tidak lagi menatap wajah Aeri, melainkan lehernya, tempat bekas merah itu membentuk pola yang tak mungkin disalahartikan sebagai apa pun selain cekikan.“Ya ampun … apa ini?”Napas ibunya tercekat. Ia mendongak, menatap Aeri lekat-lekat, seolah tatapan itu bisa memaksa kebenaran keluar lebih cepat.“Siapa yang mencelakaimu barusan?”“Ibu jangan bermain-main,” Aeri balas menatap, datar. “Ibu tahu siapa yang melakukan ini, kan?”“Ibu tidak mengerti maksudmu,” suara itu terlalu t
最終更新日 : 2026-09-10 続きを読む