Sylvia berlari menghampiri ranjang, lalu mencondongkan tubuhnya dan langsung memeluk Maxwell erat-erat. Air matanya menetes membasahi bahu kemeja pasien yang dikenakan pria itu. "Kamu bangun... syukurlah, kamu bangun..." isak Sylvia tersedu-sedu di ceruk leher Maxwell. "Aku takut banget tadi, Kak... aku takut kamu pergi..." Maxwell terdiam sesaat. Sudut bibirnya yang kering terangkat tipis, lalu satu tangannya yang bebas terangkat perlahan, membelai punggung Sylvia dengan sangat lembut. "Aku tidak apa-apa, Sylvia," bisik Maxwell serak di dekat telinganya. "Jangan menangis lagi." Maxwell menarik tubuhnya sedikit menjauh, lalu tatapan matanya menyapu penampilan Sylvia. Cardigan gadis itu robek di bagian bahu, bajunya ternoda tanah dan noda darah kering, sementara rambutnya berantakan. Tatapan Maxwell menajam melihat kondisi gadis itu yang mengenaskan. Saat Alex melangkah masuk ke dalam kamar, Maxwell langsung menoleh pada sekretarisnya. "Alex." "Ya, Tuan Maxwell?" "Bel
Last Updated : 2026-09-27 Read more