"Ferdo, aku akan mati kan kalau anak ini lahir?" aku mulai bicara. Di rumah sakit itu, di antara aroma antiseptik yang menusuk dan suara monitor detak jantung yang berdetak pelan, akhirnya aku memberanikan diri untuk mengutarakan seluruh isi hatiku kepada Ferdo.Selama ini aku diam. Aku menahan semuanya sendirian. Rasa takut, rasa sakit, dan rasa bersalah yang terus menghantamku tanpa henti."Ferdo," suaraku bergetar. Tanganku memegang perutku yang semakin membesar. "Aku takut. Aku sangat takut, Ferdo."Aku menatapnya dengan mata yang sudah penuh air mata. Aku tidak lagi peduli terlihat lemah. Di hadapannya, aku hanyalah seorang perempuan yang sedang berusaha mempertahankan dua nyawa sekaligus, nyawaku dan nyawa janin yang ada di dalam kandunganku."Aku takut aku tidak akan kuat. Aku takut terjadi sesuatu pada anak ini. Aku takut kehilangan dia sebelum aku sempat mendengar tangisannya," ucapku terisak.Ferdo tidak langsung menjawab. Ia terdiam sejenak, sorot matanya yang biasanya teg
Last Updated : 2026-09-21 Read more