เข้าสู่ระบบSekarang aku baru paham kalau bayi kembar itu lahirnya ternyata satu-satu, bukan bersamaan.
Bayi kedua Zarima berjenis kelamin perempuan. Meskipun sama-sama menguras emosi dan tenaga khususnya Zarima sendiri, tapi proses kelahirannya tidak terlalu menegangkan sebagaimana kakaknya. Suara tangisnya pun tidak selengking si sulung. Kini Zarima sudah dalam posisi duduk bersila menyamping, yang mana salah satu tumitnya dia jadikan semacam alas duduk. Jika tak salah menafsirkan, dia lakukan itu untuk mengganjal sesuatunya agar tidak mengalami pendarahan. Zarima tampak sibuk dengan bayi-bayinya. Sedangkan aku, belum lagi melakukan apa-apa kecuali sebatas mengawasi mereka. Hinggalah dia tiba-tiba berkata, "Tolong ambilkan pisau." "Apa, pisau?" Kembali aku mengkerutkan dahi, mengawasi Zarima dari sela-sela bulu mata. Begitu pula dengan rasa was-was, secepat ini juga kembali memenuhi diri. "Untuk apa cari pisau, Kak?" ulangku.tatkala dia tak kunjung menyahut. "Untuk potong tali pusarnya, Bary... memangnya untuk apa lagi?" ungkapnya tenang. "Oh.. kirain." Pada akhirnya aku bisa kembali bernafas lega. Aku kemudian beredar mencari pisau dapur. Tapi belum sempat menyerahkannya, Zarima sudah lebih dulu menolak. "Bukan pisau, Bary, tapi gunting! Cepatlah sedikit, sudah mau kehabisan napas kayaknya anak-anak ini!" 'Duh, kakakku!' Aku melenguh tanpa nada. Mendapati emosinya yang ternyata belum sepenuhnya normal kembali, aku tidak lagi banyak bicara. Cepat kuraih sebuah toples plastik berisi gunting, kain kasa, dan beberapa benda lainnya. "Ini, Kak." Aku serahkan toplesnya, dan menambahkan, apakah masih ada yang dia butuhkan atau tidak. "Belum." Hanya itu yang keluar dari mulutnya. Tapi biarpun begitu, sampai di sini dia sudah mulai terlihat tenang. Ketika mengurusi bayinya pun dia lakukan dengan sangat lembut lagi natural. Bayi-bayinya satu per satu dia tangani Tali pusar dia potong, lalu dia tempelkan potongan kain kasa yang sudah lebih dulu dia celup ke darah potongan tali pusar itu sendiri. "Supaya apa itu, Kak?" tanyaku coba memastikan. "Ini gantinya antiseptik," katanya tanpa mengubah arah pandangan. Dia benar-benar fokus dengan apa yang dia lakukan. "Kita tidak punya antiseptik, sih," tambahnya. Diam-diam aku mengkerutkan dahi. Dalam hati aku berkata, benarkah? Tau dari mana dia tentang hal ini? Jangan-jangan dia hanya asal saja? Tapi jika yang dia lakukan ini memang benar adanya, tunggu dulu! Siapa yang sudah mengilhami dia? Aku tidak tahu persis bagaimana awal mulanya, tapi Zarima ini sempat digosipkan mengalami gangguan kejiwaan. Bahkan, Halija--ibu kandungnya, adalah orang yang paling vokal menyebarkan informasi tersebut ke tetangga kiri dan kanan. Zarima dia berhentikan sekolah pun, juga karena alasan ganguan kejiwaan. Padahal, waktu itu Zarima ini sudah kelas XI. Sedangkan sekarang, malam ini ... tidak-tidak, Zarima tidak gila! Orangnya yang menganggapnya tidak waraslah yang sebenarnya otaknya bermasalah! "Bary, boleh tolong aku lagi?" Zarima sudah selesai mengurusi tali pusar bayinya. "Tentu Kak, tolong apa?" jawabku tanpa ada keraguan. "Tolong ambilkan gentong. Ambil yang sudah terpotong ya. Kebetulan sudah aku siapkan dua tuh," terangnya. Tanpa kata aku langsung beredar ke sisi belakang gubuk, mencari gentong-gentong dimaksud. Yang kami sebut gentong ini adalah buah maja kering. Biasanya kami gunakan sebagai wadah air minum saat bepergian. Ada beberapa gentong menggantung di dinding dekat tungku. Segera kupilih dua buah gentong yang sudah dikerat bagian atasnya, lalu kembali ke sisinya. "Ini buat naruh tembuni ya, Kak?" kataku sambil menaruh gentong-gentongnya di samping dia. "Hah ... iya," sahutnya setelah lebih dulu memperdengarkan bunyi napas panjangnya. Dia lalu memasukkan tembuni masing-masing satu pada setiap gentong. Tidak terlalu lama, dia sudah selesai melakukannya. "Tolong jaga mereka sebentar, ya!" katanya setelah itu. "Aku mau urus ini dulu, sekalian rebus air," tambahnya sembari menjumput kain sarung yang barusan ia gunakan untuk menaruh tembuni. "Itu mau diapakan, Kak? Biar aku saja!" Aku menepis secara halus. "Tidak apa-apa biar aku saja. Kamu baring-baring saja sekalian temani mereka. Kamu sudah ngantuk, 'kan?" "Tidak, Kak, aku belum ngantuk, kok, sungguh!" Biarpun sudah beberapa kali menguap, tapi aku merasa masih cukup mampu jika hanya untuk mengamankan kain kotor, gentong-gsntong, hingga merebus air. "Biar aku sajalah. Kamu pasti capek, lho bolak-balik ke kampung sana." Zarima bersikeras. "Aku baik-baik saja,, Kak,, percayalah! Yang capek itu justru kamu. Apalagi, banyak yang bilang, orang yang baru habis melahirkan seperti kamu, pamali lho, kalau langsung kerja." Kali ini aku berkata dengan sungguh-sungguh. Zarima tiba-tiba tersenyum. "Sebenarnya itu bukan pamali, tapi takut. Mereka itu takut jatuh sakit, takut mati.. Sedangkan orang seperti kita ini kira-kira apa yang perlu ditakutkan, coba? Mati?" Dia lalu tersenyum lagi, sebelum akhirnya menarik pandang. Aku terdiam. Meskipun tidak tuntas, tapi kata-katanya cukup masuk akal, dan mudah dipahami. Hanya saja, senyumnya .... ya Tuhan, ada apa ini? Kenapa senyumannya itu justru membuat jantungku berdetak kencang?Tidak ingin membuang-buang waktu, begitu selesai sarapan, aku langsung menghampiri Zarima."Kak," ucapku membuka percakapan, "tadi kamu minta tolong apa?" "Itu Bary," jawabnya, "tembuni tadi malam, nanti tolong tanamkan ya. Pamali lho, kalau terlalu lama dibiarkan."Zarima yang tengah bersiap memandikan bayi-bayinya ini, berkata-kata tanpa menoleh aku. Apa yang dia sampaikan juga memang hanyalah perkara biasa. Hanya saja, tumben dia menyelipkan kata 'pamali' dalam kalimatnya. Pada saat yang sama, mungkin karena mendapati aku yang belum juga merespon, dia kemudian berkata lagi."Iya, tidak apa-apa, nanti saja. Maksudku, tunggulah sampai makanan tenang di perutmu."Sampai di sini barulah langsung kubalas, "Tidak, Kak, sekarang saja, biar aku bisa cari kerjaan lain lagi juga, 'kan? Matahari sudah tinggi, lho!""Iya juga sih," sambungnya.Zarima hanya sampai di situ. Aku juga tidak lagi menambahkan, dan langsung bergeser menyambar gentong-gentong berisi tembuni, juga golok tua untuk men
Zarima tiba-tiba menggerakkan badan, salah satu tangannya dia tautkan ke dinding. Dinding gubuk kami ini terbuat dari anyaman bambu buluh. Butuh sedikit kehati-hatian saat berpegangan padanya jika tidak ingin tergores.Tangannya yang lain pula, bertumpu pada lututnya sendiri. Sepertinya dia hendak meninggalkan tempat duduknya."Kak, kamu butuh apa? Ayo, biar aku saja. Tolong jangan memaksakan diri!" Aku menyela, berkata-kata dengan penuh penekanan, dan tidak ingin bernegosiasi. Terpaksa kulakukan, karena untuk berdiri dari duduknya saja, kulihat dia harus melakukannya dengan sangat susah payah."Tolong ambilkan pakaian anak-anak ini," katanya juga, "Ambilkan saja sekalian buntalannya," tambahnya. Lalu, masih sambil berpegangan pada dinding, pelan-pelan dia duduk kembali di sisi bayi-bayinya.Setelah mengambil buntalan yang dia maksudkan, aku himpun pakaian kotornya menjadi satu, lalu menaruhnya pada suatu tempat. Setelah itu barulah aku beralih pada gentong-gentong berisi tembuni.
Sekarang aku baru paham kalau bayi kembar itu lahirnya ternyata satu-satu, bukan bersamaan. Bayi kedua Zarima berjenis kelamin perempuan. Meskipun sama-sama menguras emosi dan tenaga khususnya Zarima sendiri, tapi proses kelahirannya tidak terlalu menegangkan sebagaimana kakaknya. Suara tangisnya pun tidak selengking si sulung. Kini Zarima sudah dalam posisi duduk bersila menyamping, yang mana salah satu tumitnya dia jadikan semacam alas duduk. Jika tak salah menafsirkan, dia lakukan itu untuk mengganjal sesuatunya agar tidak mengalami pendarahan. Zarima tampak sibuk dengan bayi-bayinya. Sedangkan aku, belum lagi melakukan apa-apa kecuali sebatas mengawasi mereka. Hinggalah dia tiba-tiba berkata, "Tolong ambilkan pisau." "Apa, pisau?" Kembali aku mengkerutkan dahi, mengawasi Zarima dari sela-sela bulu mata. Begitu pula dengan rasa was-was, secepat ini juga kembali memenuhi diri. "Untuk apa cari pisau, Kak?" ulangku.tatkala dia tak kunjung menyahut. "Untuk potong tal
"To-tolong Bary, tolong aku! Ya Tuhan, sa-sakit..." Zarima tiba-tiba menyeru dengan panik. Raut wajahnya pula, tampak menderita. Gegas kuhampiri dia, dan balas berkata dengan ekspresi yang kurang lebih sama. "Kak, kamu kenapa? Maksudku, kamu mau dibantuin apa?" Alih-alih menyahut, Zarima justru terdiam. Dia seperti sedang menahan rasa sakit yang tak terperihkan. Permukaan wajahnya mendadak dipenuhi peluh. Dada hingga perut dia busungkan, kedua tangan mencengkram erat lantai gubuk yang terbuat dari bilah-bilah bambu. Melihatnya semakin menderita, antara sadar dan tiada, cepat kuambil tangannya, kemudian menggenggamnya erat-erat. Sangat erat! "Kak, kamu kenapa? Bicaralah, tolong jangan buat aku ketakutan;" "A-anu Bary, anu. Itu-itu, sarung, cepat ambilkan sarung! Ya Tuhan... kenapa sakit sekali?" Selain agak terkatung-katung, dia juga masih dengan ekspresi semenderita itu. "Sarung? Oh, iya Kak, baik!" Sepertinya aku sudah tahu apa yang sedang terjadi padanya. Gegas aku b
"Kakakku su-su-sudsh mau melahirkan!" ucapku terbata-bata, masih dengan napas tersengal-sengal setelah berlari kencang sejauh tiga kilometeran. "Terus, kalau sudah mau melahirkan memangnya kenapa?" sahut Bu Marwiyah, seorang bidan kampung yang rumahnya paling dekat dengan gubuk kami. "Kakakku bilang, dia minta tolong dibantu melahirkan, Bu," jawabku menirukan ucapan Zarima, saat dia memintaku untuk datang menemui wanita lima puluhan ini. "Kalian punya uang berapa?" tanyanya lagi. Kebetulan aku sedang mengantongi uang. Cepat kurogoh saku, mengeluarkan kresek kecil berisi semua 'harta' yang kumiliki lalu menyerahkannya dengan penuh semangat. "Ini Bu, semuanya ada dua puluh tujuh ribu." "Apa?" Bu Marwiyah menjerit, lengking seperti orang terluka. Aku yang tidak berpikiran sama sekali bahwa dia akan merespon sekeras itu, tanpa sadar seret ke belakang, jantung pun serasa mau lompat keluar dibuatnya. Belum sempat menguasai diri, dia sudah kembali berkata; "Pulang kasih tau







