เข้าสู่ระบบZarima tiba-tiba menggerakkan badan, salah satu tangannya dia tautkan ke dinding. Dinding gubuk kami ini terbuat dari anyaman bambu buluh. Butuh sedikit kehati-hatian saat berpegangan padanya jika tidak ingin tergores.
Tangannya yang lain pula, bertumpu pada lututnya sendiri. Sepertinya dia hendak meninggalkan tempat duduknya. "Kak, kamu butuh apa? Ayo, biar aku saja. Tolong jangan memaksakan diri!" Aku menyela, berkata-kata dengan penuh penekanan, dan tidak ingin bernegosiasi. Terpaksa kulakukan, karena untuk berdiri dari duduknya saja, kulihat dia harus melakukannya dengan sangat susah payah. "Tolong ambilkan pakaian anak-anak ini," katanya juga, "Ambilkan saja sekalian buntalannya," tambahnya. Lalu, masih sambil berpegangan pada dinding, pelan-pelan dia duduk kembali di sisi bayi-bayinya. Setelah mengambil buntalan yang dia maksudkan, aku himpun pakaian kotornya menjadi satu, lalu menaruhnya pada suatu tempat. Setelah itu barulah aku beralih pada gentong-gentong berisi tembuni. "Tembuninya ini Kak, mau langsung ditanam atau gimana?" Saat mengatakannya, aku tak berkedip mengawasi dia yang sedang memakaikan baju bayi-bayinya. Baju-baju itu... "Besok saja." Dia tanpa menolehi aku. "Kalau kamu belum ngantuk, tolong rebuskan aku air." "Aman, Kak." Aku pantas-pantaskan emosi dan nada bicara, supaya semuanya terkesan baik-baik saja. Tak berapa lama, tembuni sudah kuamankan. Kini saatnya untuk merebus air. "Airnya direbus pakai panci mana, Kak?" "Pakai panci apa ya?" sambungnya. Dia sambil mengangkat wajah, mengarahkannya pada dinding dekat tungku, tempat di mana peralatan dapur tertautkan sebagai ganti rak piring. "Pakai panci besar itu saja kayaknya. Aku mau sekalian bilas-bilas, sih. Badanku bau anyir, 'kan?" "Iya, sedikit," balasku sekenanya. Kami punya tiga buah panci. Sedangkan panci besar yang dia maksudkan adalah panci ukuran dua liter. Segera mengisi air ke dalam panci lalu meletakkannya di tungku. Berpikir bagaimana caranya supaya airnya lekas mendidih, aku tumpuk saja potongan kayu bakar lebih banyak dari biasanya. "Ya Allah, Zarima.. kamu memang manusia terhebat!" desisku berat, nyaris tak terdengar bahkan oleh telingaku sendiri. Aku baru saja kembali diam-diam melempar lirik pada Zarima, yang mana kini dia rebahan di sisi bayi-bayinya. Tahukah kalian baju apa yang dia pakaikan ke bayi-bayinya? Itu bukan pakaian bayi, tapi kaos oblong yang dia gunting-gunting sedemikian rupa. Kaos kaki dan kaos tangan pun demikian. "Orang secerdas ini kok dibilang tidak waras, ya?" gumamku lagi, takjub sekaligus sedih. Aku kemudian menyandarkan punggung ke dinding, di dekat tungku, lalu melamunkan banyak hal. Namun, siapa sangka larut dalam lamunan aku justru tertidur, tanpa tahu lagi bagaimana kondisi air yang kurebus. Aku baru terjaga kala merasa ada yang menggangu saluran pernapasanku. Saat mencari tahu, ternyata itu karena asap yang menyebar dari tungku. "Astaga! Maaf Kak, maaf, tadi aku terlalu ngantuk sampai tidak sadar ketiduran." Aku benar-benar menyesal justru mendapati Zarima yang duduk di dekat tungku, bukan lagi aku Dia yang sedang fokus menjerang kayu bakar di tungku, perlahan menoleh, lalu menatapku dengan raut wajah tak biasa. "Kenapa bangun-bangun kamu langsung panik kayak gitu? Habis mimpi buruk, atau gimana?" Ada jeda beberapa saat lamanya barulah dia mengatakan itu. Kini giliranku yang terdiam, sebelum kemudian balik bertanya dengan nada tidak kalah bingungnya, "Sudah pagi?" Dari celah-celah dinding kulihat, bumi telah pun terang benderang. Sekarang bukan lagi malam hari sebagaimana yang ada dalam pikiranku. Zarima justru tersenyum. Senyumnya kali ini terlihat sangat tulus sekali. "Cuci muka sana lalu sarapan. Itu sarapannya sudah aku siapkan." Kuhela nafas dalam-dalam. Aku sudah tidak ingat kapan terakhir kali melihat dia yang sangat bersahaja dan tanpa beban sama sekali seperti ini. "Lho, Bary, kok malah bengong? Lagi tidak enak badan... atau gimana?".Zarima mengagak-agak seraya menatapku lekat. Cepat kusangkal, "Tidak Kak, aku baik-baik saja kok. Tunggu sebentar, biar aku cuci muka dulu." Aku lalu bergeser mencari air. Gubuk ini luasnya kira-kira 4X4 meter. Ruangannya los, tanpa sekat sama sekali. Selain itu, hanya ada satu pintu serta satu jendela. Di bagian pintu, itu yang kami sebut depan. Sedangkan tempat tungku yang terbuat dari tanah liat serta menaruh peralatan dapur, juga wadah-wadah air bersih, kami menyebutnya dapur. Zarima, kini ditambah bayi-bayinya, 'berkamar' pada salah satu sisi ruangan, tepat di samping jendela. Sedangkan aku, tidak tentu. Kadang tidur di depan pintu, kadang dekat tungku, kadang juga di dekat dinding sejajar Zarima. "Ayo Kak, sarapan bareng. Sebenarnya tadi malam ini sengaja aku bawa pulang untuk kamu, lho." Sekarang aku sudah duduk bersila di hadapan hidangan yang ditawarkan Zarima barusan. "Tadi aku sudah icip-icip sedikit," ucapnya juga. "Buat kamu saja, aku belum boleh makanan berminyak begini. Kasian adik-adikmu kalau aku paksakan diri." Apa katanya, adik-adikmu? Aku memang sangat menyayangi Zarima, tapi untuk menerima bayi-bayinya, apalagi sampai harus menganggap mereka sebagai... "Lho.. kok melamun lagi? Sarapanlah, Bary, aku minta tolong lagi nih. Masih banyak yang harus dikerjakan, sih." "Oh iya Kak, maaf. Baiklah, aku sarapan sekarang." Pelan-pelan, atau boleh dibilang ragu-ragu kunikmati hidangannya. Bahkan, andai situasinya memungkinkan, tidak akan kusentuh. Tapi yang tidak terpikirkan olehku adalah, saat ini aku berada di hadapan Zarima. Mungkin karena melihat gelagatku, dia pada akhirnya menyela. "Kenapa, hambar, ya?" "Tidak Kak, enak kok! Sayang sekali, kamu belum boleh makan yang beginian." Tapi jika ingin berkata jujur, khususnya kuah lauknya, memang sudah terlalu hambar. Sepertinya Zarima terlalu banyak menambahkan air saat memanasinya. "Oh ya Bary," katanya lagi, "ini kamu dapat dari mana, sih? Maksudku, beli atau gimana?" "Anu Kak, orang di kecamatan sana yang ngasih. Tadi malam ada halalbihalal di sana," jawabku setelah memikirkannya sebentar. "Dari acara halalbihalal? Yah, siapa tukang masaknya, ya? Kok nyucinya asal-asalan saja? Ayamnya masih berpasir, lho. Tadi itu terpaksa aku cuci kembali. Itulah kenapa jadi hambar kayak gitu. Tapi kita tidak punya bumbu dapur juga, sih," urainya panjang lebar. Aku terdiam, dan tidak lagi mengatakan apa-apa! Tadi malam aku memang ke gedung serbaguna di kecamatan sana. Namun, saat halalbihalal berlangsung, alih-alih berbaur dengan warga, aku justru berdiam di belakang gedung, menunggu hingga panitia pelaksana membuang sampah. Kira-kira pukul sebelas malam, barulah situasinya terlihat lengang. Merasa takkan ada lagi yang melihat, aku pun mengendap-endap menuju bak sampah, Di bak sampah, telah lebih dulu ada dua ekor anjing dan kawanan tikus. Semula aku ragu. Tapi memikirkan apa yang membuatku jauh-jauh datang ke sana, kuketepikan semua keraguan. Mengais-kais dalam remang, aku masih kebagian beberapa potong lapa-lapa tak berbungkus, juga sedikit tulang-tulang ayam dengan sedikit daging. Terakhir, dengan menggunakan baju yang kupakai, aku bungkuslah makanan sisa ini dan membawanya pulang. Sayang sekali saat tiba di gubuk, aku justru mendapati Zarima sudah pecah ketuban. Sibuk bolak-balik ke rumah Bu Marwiyah, juga membantu proses persalinannya, aku sampai lupa dengan apa yang kubawa pulang. Padahal, lapa-lapa adalah makanan kesukaannya. Sudah sekian lama dia menginginkan makanan olahan khas daerah kami ini. Jarak antara gedung serbaguna dengan gubuk ini, itu sekira delapan kilometer. Jika bukan karena Zarima, aku akan berpikir dua kali untuk jauh-jauh ke sana hanya untuk mendapatkan makanan sisa. Sekarang, dosakah aku yang telah berbohong dari mana mendapatkan makanan sisa ini?Tidak ingin membuang-buang waktu, begitu selesai sarapan, aku langsung menghampiri Zarima."Kak," ucapku membuka percakapan, "tadi kamu minta tolong apa?" "Itu Bary," jawabnya, "tembuni tadi malam, nanti tolong tanamkan ya. Pamali lho, kalau terlalu lama dibiarkan."Zarima yang tengah bersiap memandikan bayi-bayinya ini, berkata-kata tanpa menoleh aku. Apa yang dia sampaikan juga memang hanyalah perkara biasa. Hanya saja, tumben dia menyelipkan kata 'pamali' dalam kalimatnya. Pada saat yang sama, mungkin karena mendapati aku yang belum juga merespon, dia kemudian berkata lagi."Iya, tidak apa-apa, nanti saja. Maksudku, tunggulah sampai makanan tenang di perutmu."Sampai di sini barulah langsung kubalas, "Tidak, Kak, sekarang saja, biar aku bisa cari kerjaan lain lagi juga, 'kan? Matahari sudah tinggi, lho!""Iya juga sih," sambungnya.Zarima hanya sampai di situ. Aku juga tidak lagi menambahkan, dan langsung bergeser menyambar gentong-gentong berisi tembuni, juga golok tua untuk men
Zarima tiba-tiba menggerakkan badan, salah satu tangannya dia tautkan ke dinding. Dinding gubuk kami ini terbuat dari anyaman bambu buluh. Butuh sedikit kehati-hatian saat berpegangan padanya jika tidak ingin tergores.Tangannya yang lain pula, bertumpu pada lututnya sendiri. Sepertinya dia hendak meninggalkan tempat duduknya."Kak, kamu butuh apa? Ayo, biar aku saja. Tolong jangan memaksakan diri!" Aku menyela, berkata-kata dengan penuh penekanan, dan tidak ingin bernegosiasi. Terpaksa kulakukan, karena untuk berdiri dari duduknya saja, kulihat dia harus melakukannya dengan sangat susah payah."Tolong ambilkan pakaian anak-anak ini," katanya juga, "Ambilkan saja sekalian buntalannya," tambahnya. Lalu, masih sambil berpegangan pada dinding, pelan-pelan dia duduk kembali di sisi bayi-bayinya.Setelah mengambil buntalan yang dia maksudkan, aku himpun pakaian kotornya menjadi satu, lalu menaruhnya pada suatu tempat. Setelah itu barulah aku beralih pada gentong-gentong berisi tembuni.
Sekarang aku baru paham kalau bayi kembar itu lahirnya ternyata satu-satu, bukan bersamaan. Bayi kedua Zarima berjenis kelamin perempuan. Meskipun sama-sama menguras emosi dan tenaga khususnya Zarima sendiri, tapi proses kelahirannya tidak terlalu menegangkan sebagaimana kakaknya. Suara tangisnya pun tidak selengking si sulung. Kini Zarima sudah dalam posisi duduk bersila menyamping, yang mana salah satu tumitnya dia jadikan semacam alas duduk. Jika tak salah menafsirkan, dia lakukan itu untuk mengganjal sesuatunya agar tidak mengalami pendarahan. Zarima tampak sibuk dengan bayi-bayinya. Sedangkan aku, belum lagi melakukan apa-apa kecuali sebatas mengawasi mereka. Hinggalah dia tiba-tiba berkata, "Tolong ambilkan pisau." "Apa, pisau?" Kembali aku mengkerutkan dahi, mengawasi Zarima dari sela-sela bulu mata. Begitu pula dengan rasa was-was, secepat ini juga kembali memenuhi diri. "Untuk apa cari pisau, Kak?" ulangku.tatkala dia tak kunjung menyahut. "Untuk potong tal
"To-tolong Bary, tolong aku! Ya Tuhan, sa-sakit..." Zarima tiba-tiba menyeru dengan panik. Raut wajahnya pula, tampak menderita. Gegas kuhampiri dia, dan balas berkata dengan ekspresi yang kurang lebih sama. "Kak, kamu kenapa? Maksudku, kamu mau dibantuin apa?" Alih-alih menyahut, Zarima justru terdiam. Dia seperti sedang menahan rasa sakit yang tak terperihkan. Permukaan wajahnya mendadak dipenuhi peluh. Dada hingga perut dia busungkan, kedua tangan mencengkram erat lantai gubuk yang terbuat dari bilah-bilah bambu. Melihatnya semakin menderita, antara sadar dan tiada, cepat kuambil tangannya, kemudian menggenggamnya erat-erat. Sangat erat! "Kak, kamu kenapa? Bicaralah, tolong jangan buat aku ketakutan;" "A-anu Bary, anu. Itu-itu, sarung, cepat ambilkan sarung! Ya Tuhan... kenapa sakit sekali?" Selain agak terkatung-katung, dia juga masih dengan ekspresi semenderita itu. "Sarung? Oh, iya Kak, baik!" Sepertinya aku sudah tahu apa yang sedang terjadi padanya. Gegas aku b
"Kakakku su-su-sudsh mau melahirkan!" ucapku terbata-bata, masih dengan napas tersengal-sengal setelah berlari kencang sejauh tiga kilometeran. "Terus, kalau sudah mau melahirkan memangnya kenapa?" sahut Bu Marwiyah, seorang bidan kampung yang rumahnya paling dekat dengan gubuk kami. "Kakakku bilang, dia minta tolong dibantu melahirkan, Bu," jawabku menirukan ucapan Zarima, saat dia memintaku untuk datang menemui wanita lima puluhan ini. "Kalian punya uang berapa?" tanyanya lagi. Kebetulan aku sedang mengantongi uang. Cepat kurogoh saku, mengeluarkan kresek kecil berisi semua 'harta' yang kumiliki lalu menyerahkannya dengan penuh semangat. "Ini Bu, semuanya ada dua puluh tujuh ribu." "Apa?" Bu Marwiyah menjerit, lengking seperti orang terluka. Aku yang tidak berpikiran sama sekali bahwa dia akan merespon sekeras itu, tanpa sadar seret ke belakang, jantung pun serasa mau lompat keluar dibuatnya. Belum sempat menguasai diri, dia sudah kembali berkata; "Pulang kasih tau







