เข้าสู่ระบบ
"Kakakku su-su-sudsh mau melahirkan, Bu!" ucapku terbata-bata, masih dengan napas tersengal-sengal setelah berlari kencang sejauh tiga kilometeran.
"Terus, kalau sudah mau melahirkan memangnya kenapa?" sahut Bu Marwiyah, seorang bidan kampung yang rumahnya paling dekat dengan gubuk kami. "Kakakku bilang, dia minta tolong dibantu melahirkan, Bu," jawabku menirukan ucapan Zarima, saat dia memintaku untuk datang menemui wanita lima puluhan ini. "Kalian punya uang berapa?" tanyanya lagi. Kebetulan aku sedang mengantongi uang. Cepat kurogoh saku, mengeluarkan kresek kecil berisi semua 'harta' yang kumiliki lalu menyerahkannya dengan penuh semangat. "Ini Bu, semuanya ada dua puluh tujuh ribu." "Apa?" Bu Marwiyah menjerit, lengking seperti orang terluka. Aku yang tidak berpikiran sama sekali bahwa dia akan merespon sekeras itu, tanpa sadar seret ke belakang, jantung pun serasa mau lompat keluar dibuatnya. Belum sempat menguasai diri, dia sudah kembali berkata; "Pulang kasih tau si Rima, bayar di muka!" "Kalau kalian tidak punya uang, apalagi rumah kalian jauh di hutan sana, tidak usah kembali lagi!" "Ba-baik, Bu," jawabku, dan langsung berlalu dari hadapannya. Begitu meninggalkan halaman rumahnya, kembali kupacu langkah, berlari sekuat tenaga. Untuk mencapai gubuk kami yang berdiri sunyi di tengah 'hutan' sana, aku harus melintasi jalan raya pedesaan sekira dua kilometer dari rumah Bu Marwiyah barusan, kemudian satu kilometeran jalan setapak yang berada dalam hutan adat. Tiba di gubuk, aku tidak langsung naik, tapi lebih dulu berdiam di kolong, menajamkan pendengaran hingga beberapa saat lamanya. Gubuk kami ini adalah gubuk panggung. Tinggi kolongnya sekira dua meter. Untuk naik ke gubuk, kami harus menapaki lima anak tangga yang terbuat kayu gelondongan seukuran lengan orang dewasa. "Sepertinya dia belum melahirkan," gumamku kala tak mendengar adanya suara tangis bayi atau semacamnya. Setelah itu, aku pun naik ke gubuk. Berpijak pada anak tangga ke-tiga, barulah aku menyapa; "Assalamualaikum, Kak!" "Mana Bu Marwiyah?" Separuh badanku belum berada dalam jangkauan tatapannya, tapi Zarima sudah menyongsongku dengan pertanyaan penuh harap begitu. Dia bahkan tidak lagi membalas salam yang kuucapkan. Sebelum menimpali, aku lebih dulu mengambil tempat di sampingnya. "Bu Marwiyah belum datang, Kak. Tadi itu dia minta aku untuk datang kasih tau kamu dulu. Katanya, bayar di muka. Kamu ada uang?" "Ada ada! Itu, cari di bawah tikar itu, bawa saja semuanya!" Zarima sambil mengarahkan sedikit wajah pada sebuah tikar anyaman daun pandan muara yang tergeletak di salah satu sudut ruangan. Tanpa menunggu, sigap kuraih teplok, lalu menerangi sekitar tikar dimaksud. "Hati-hati Bary, jangan sampai kita kebakaran;" ucapnya tiba-tiba. Diam-diam kuhela napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya secara perlahan-lahan. Dalam hatiku, kasian ya Zarima ini. Dalam kondisi darurat begini, dia masih sempat berlagak tenang-tenang saja? Tapi sepertinya dia mulai menyadari gelagatku, Tanganku memang gemeteran. Nyala teplok dalam genggaman pun sampai meliuk-liuk seperti tertiup angin karenanya. Namun, bagaimana mungkin aku bisa berlagak tenang-tenang saja, sedangkan di gubuk ini hanya ada aku dan dia? Tempat tinggal kami ini hanyalah sebuah gubuk reyot peninggalan almarhum ayahku. Berdiri di tengah ladang tua. Salah satu sisinya berbatasan langsung dengan hutan adat, sedangkan tiga sisi lainnya adalah ladang-ladang terbengkalai yang sudah sekian lama tidak dijamah manusia. Tetangga terdekat adanya jauh di desa sana, kira-kira satu kilometer dari sini. Bisa dibayangkan bagaimana sekiranya Zarima ini sudah keburu melahirkan sebelum bidannya datang! "Di mana uangnya, Kak?" tanyaku pada Zarima yang tengah berbaring terlentang dengan kedua lutut ditegakkan. Aku tidak melihat adanya uang yang dia bicarakan. "Yang kain hitam itu, Bary! Cepatlah sedikit, kayaknya ini waktunya tidak lama lagi!" jawabnya. Kain hitam? Cepat kucari kembali uangnya. Kali ini aku mencarinya dengan jauh lebih teliti dari sebelumnya. Dan, ketemu. Kantung uangnya ternyata adalah potongan kain yang dia jahit segi empat. Ada tali sepatu pada salah satu sisinya. "Berapa ini, Kak?" tanyaku sambil menautkan kembali teplok ke paku yang tertancap di salah satu tiang gubuk. "Seratus tujuh puluh delapan kalau aku tidak salah hitung. Turunlah cepat. Hati-hati uangnya jangan sampai tercecer di jalan!" ujarnya mewanti-wanti. "Baik, Kak!" balasku dan langsung menuju pintu, menuruni tangga gubuk, sebelum kemudian kembali memacu langkah. Tok tok tok! "Siapa?" Itu suara Bu Marwiyah. "Aku, Bu, Bary!" jawabku. Aku lalu sempatkan diri beruku; berjongkok dengan kedua tangan menumpu di lutut, sekadar untuk menetralisir deru pernapasan yang rasa-rasanya sudah pun berada di ambang tenggorokan. Berlari kencang secara bolak-balik dalam keadaan panik begini, ternyata memang luar biasa melelahkan! "Astaga anak ini, sudah mau jam satu dia masih datang juga?" Bu Marwiyah membuyarkan konsentrasiku. Sadar dia sudah pun berdiri tepat di hadapanku, cepat aku tegakkan badan. "Ini uangnya, Bu. Kak Rima bilang, ambil saja semuanya!" Aku sambil menyerahkan kantung uang Zarima. Bu Marwiyah menyambutnya, tapi tatapannya justru terpaku ke wajahku. "Berapa ini?" tanyanya setelah itu. "275, Bu. Tapi itu sudah termasuk ...." "275? Kurang ajar!" Plak! Selain tidak lagi menunggu sampai aku merampungkan perkataan, Bu Marwiyah justru melempar kantung uang ke wajahku. Lagi-lagi dia melakukannya dengan sangat tiba-tiba, sampai-sampai aku tidak punya kesempatan sama sekali walau sekadar untuk menghindar atau bagaimana. "Bu, ke-ke-kenapa ....." "Kenapa apanya, ha?" pangkasnya sengit. "Suruh si Rima kasih belorot sendiri saja anaknya! Kalian pikir ongkos melahirkan itu berapa, ha? Kalian pikir sama murahnya dengan waktu kalian buka celana lalu baku tindis?" "Dasar anak-anak mesum. Pulang sana, awas kalau kamu sampai berani datang ganggu aku lagi!" Brak! Bunyi bantingan pintu itu menjadi akhir dari dialog kami. Setelahnya, aku hanya bisa tercenung di tempat seraya menatap pintu rumahnya dengan tatapan yang berangsur-angsur nanar. Cukup lama, sebelum kemudian aku berjongkok, menjumput kantung uang barusan, lalu beredar dengan perasaan yang entah seperti apa menggambarkannya. Sepuluhan meter membelakangi halaman rumah Bu Marwiyah, air mata yang sedari barusan sudah coba kutahan-tahan, pada akhirnya menetes juga. "Ya Allah, Kak, kenapa kita ... astaga, Kak Rima?" Separuh jiwaku seperti sedang melayang entah kemana di ketika ini. Tapi begitu terbayang Zarima yang mungkin sudah tidak sabar menunggu, cepat kuseka air mata, lalu kembali berlari pulang. "Mana Bu Marwiyah?" Lagi-lagi Zarima menyambutku dengan pertanyaan itu. Aku terdiam, benar-benar terdiam. Sungguh tidak tahu lagi harus berkata apa. Sedangkan Zarima, sepertinya dia sudah tahu berita apa yang kubawa pulang. Dia tak lagi mengulang perkataan, tidak pula .....Pagi-pagi sekali aku sudah terjaga. Tidak ingin Zarima melakukan sendiri pekerjaannya seperti kemarin pagi, begitu selesai mencuci muka dan minum segelas air putih, aku langsung menghimpun pakaian kotor mereka lalu turun membawanya ke kamar mandi. Di kamar mandi pun cepat aku pisahkan pakaian mereka, membersihkan kotoran bayinya, sebelum kemudian merendamnya secara terpisah. Setelah itu, aku kembali ke gubuk untuk merebus air, Untuk airnya, tidak akan kutinggalkan sampai benar-benar mendidih. Zarima bilang, airnya akan bau asap kalau tidak mendidih secara sempurna.Selagi menunggu airnya mendidih, aku siapkan air dingin pada sebuah baskom. "Tumben tidak ada yang menangis?" Bayi Zarima dua-duanya sudah terjaga. Tangan mereka tampak bergerak-gerak, tapi tidak ada yang memperdengarkan suara tangisnya. Bahkan Karma yang biasanya paling mudah menangis itupun, pagi ini hanya diam saja.Sedangkan Zarima sendiri, dia tampak masih selelap itu. Mungkin kelelahan hingga kepagian begitu.Tak
Tergesa kutinggalkan titik berlangsungnya ritual, mengambil jalan pintas dalam semak-semak, cepat menuju hutan di ujung desa. Kakiku mungkin sudah tertusuk duri. Tapi siapa yang peduli itu? Telur dan nasi ritual barusan pun sudah tidak kuhiraukan.Jantungku pula, masih saja seperti tidak berada pada tempat semetinya. Padahal, aku sudah coba menanamkan keyakinan bahwa barusan itu hanyalah halusinasi semata.Tiba di jalan raya tak jauh dari rumah Yulianti, aku gandakan kecepatan, berlari kencang menuju jalan setapak yang menuju ladang kami."Astaghfirullah, siapa lagi itu?"Akan mendesis kaget setelah lebih dulu mengehentikan lari secara tiba-tiba. Pada jalan setapak kira-kira lima belas meter dari jalan raya tempat di mana aku berpijak kini, tampak bayangan seseorang. Dia seperti berdiri mengadang di sana."Siapa ya?" Aku menyipitkan mata, memandangnya hingga beberapa lama, lalu beralih ke sekeliling.Jalan raya ujung desa sana, lengang. Tak ada satu bayangan manusia pun yang terliha
"Wih, banyak memang yang datang rupanya!" Aku bermonolog, kagum sekaligus lega.Saat ini aku sudah berada sekitar dua puluhan meter dari titik di mana tempat berlangsungnya ritual. Sedangkan ritualnya sendiri belum dimulai.Lewat pantulan cahaya obor yang ditajak pada beberapa titik sekaligus, tampak olehku warga yang duduk memanjang, menghadap pada sekumpulan tetua. Entah berapa banyak warga yang hadir. Mereka duduk semacam saf pada ibadah salat, berlapis-lapis jauh ke belakang sana, hingga ada yang tinggal menyisakan bayangannya saja dari penglihatan.Tapi memang selalu seperti inilah kaago-ago!Setiap kali diadakan, ritualnya akan selalu diikuti oleh nyaris seluruh warga desa. Dari anak-anak bahkan balita, orang dewasa, apalagi para paruh baya hingga lanjut usia, nyaris tidak ada yang mau ketinggalan.Sedangkan yang tidak ikut serta, biasanya mereka-mereka yang memiliki keyakinan kalau ritual seperti ini bertentangan dengan ajaran agama yang dianut.Tak berapa lama dari itu, seper
Sore hari menjelang matahari terbenam."Tumben orang mau adakan kaago-ago di bulan-bulan seperti ini?" timpal Zarima, saat aku ceritakan berita yang kubawa dari desa."Kurang tau juga Kak. Tidak ada orang cerita tentang itu sih, tadi."Zarima memang wajar bertanya. Ritual tolak bala yang oleh kami menyebutnya kaago-ago, memang biasanya digelar hanya pada momen-momen tertentu.Biasanya ketika akan memasuki musim semai di awal musim penghujan. Atau, bila kemarau panjang melanda. Itupun baru akan digelar ketika kami sudah kesulitan mendapatkan air bersih. Sedangkan saat ini, kondisinya tidak sedang demikian."Tapi mungkin ini ada hubungannya dengan kematian Alif, Kak!""Alif? Lho, dia kan sudah lebih dari tujuh hari meninggalnya. Kok baru mau adakan kaago-ago sekarang?""Iya juga sih. Tapi tadi kulihat banyak orang tua-tua ngumpul di rumahnya Bu Fatimah. Kupikir ada apa. Setelah kutanya-tanya, ya itu, mereka mau bikin kaago-ago. Tempatnya juga kata mereka di belakang rumahnya Bu Fatimah.
"...Ya Allah, kita ini kenapa sebenarnya, Bary? Kenapa ada saja jalannya supaya kita sengsara?""Tuhan juga, apa maksud-Nya Dia kasih kita ujian yang tidak ada habisnya seperti ini? Dia pikir kita ini apa? Malaikat?""Tuhan.. rasa-rasanya kok aku tidak kuat lagi hadapi ujian-Mu ini, Tuhan..."Zarima meratap, dan aku tahu itu berat. Tubuhnya bahkan sampai terhempas, lepas dari memelukku barusan itu. Dan, dia pun menitikkan air mata.Nian ... amsal nelayan papa kehilangan sampannya diamuk badai, setumpah-tumpahnya air mata, itu tidak akan mampu membahasakan perih."Maafkan aku, Kak," desisku di sela-sela isak tangis. "Aku sudah pergi cari kerja di pasar sana, tapi tidak yang terima aku, Kak!""Tidak apa-apa, tidak apa-apa!"Zarima tiba-tiba menjadi tegar. Dia menyeka air matanya dengan tegas. Auranya pula, mendadak terlihat yakin!"Jangan bersedih," tegasnya lagi, "pasti ada jalan. Tuhan itu tidak tidur, Dia Maha Romantis, aku tahu itu, kamu juga harus yakin itu!"Aku hanya bisa menghel
"Oh ya Bary, aku belum kasih tau ya?'"Apa itu, Kak?""M.. anu Bary, hari ini kita hanya ada nasi jagung lagi, eh. Inipun hanya sisa jagung kita minggu kemarin, lho! Masih ada sekitar dua literan sih."Setelah memasukkannya ke dalam tas kresek, Zarima menyerahkan mangkuk plastik wadah bekal itu padaku sambil berkata, "Tidak apa-apa, 'kan bekalnya ini saja dulu?"Aku sambut dan membalas, "Iya Kak, tidak apa-apa. Malahan, ini saja sudah alhamdulilah sekali, kok. Lagipula, kita sudah biasa makan ini, 'kan?"Seperti kemarin dan lalu, aku menyambutnya dengan dada diam-diam bergemuruh, tapi berusaha untuk tetap terlihat baik-baik saja.Alhamdulillah yang kuucapkan barusan pun, sebenarnya itu adalah ungkapan rasa syukur paling munafik yang pernah aku perdengarkan padanya. Sungguh, andai ada yang tahu bahwa, semakin kesini aku semakin terpuruk saja.Begitu juga dengan di hadapan Zarima, aku semakin sangsi akan mampu mempertahankan kemunafikan yang sedang aku peragakan kali ini."Betul kamu ti







