Galih merangkulku berjalan menuruni bukit, ponselnya terus berdering.Tasya mengirim pesan setiap beberapa menit: [Puspa sudah ketemu?][Dia marah padaku, ya?][Galih, jangan kasar padanya.]Sambil membaca pesan itu, Galih berkata kepadaku, "Puspa, kita harus mengalah padanya."Setelah pulang, aku langsung pergi ke ruang rawat inap.Dokter terdiam beberapa detik. "Besok harus operasi donor hati. Dengan kondisi sekarang, sangat berisiko."Aku memejamkan mata. "Saya mengerti, tapi tolong lanjutkan saja."Malam itu, Galih meneleponku tiga kali, tapi aku tidak mengangkatnya.Dia mengirim pesan, tapi aku tidak berani membacanya. Akhirnya, aku hanya bisa mematikan ponselku.Keesokan paginya, Tasya menerima sebuah kabar.Donor hati untuknya sudah didapatkan.Galih segera bergegas ke ruang dokter.Aku bisa mendengar suaranya melalui pintu."Kapan bisa operasi?"Dokter menjawab, "Pendonor sudah siap di rumah sakit dan sudah lolos pemeriksaan."Galih berkata, "Saya bersedia memberikan kompensasi
続きを読む