LOGINMalam ketika aku mengetahui bahwa aku hamil, aku melihat sebuah video tantangan berjudul "Beranikah Nggak." Di kolom komentar, Tasya sahabatku menandai Galih, pacarku. [Berani nggak kamu bilang ke dia, kalau kamu melepas alat bantu dengarnya setiap malam, karena takut dia tahu kamu tidur denganku di kamar sebelah?] Galih menjawab dengan cepat. [Nggak berani.] [Tasya, jangan gila.] Tasya membalas lagi: [Tenang, aku nggak akan bilang.] [Aku juga sebentar lagi mati kok.] [Satu-satunya harapan terakhirku sebelum mati adalah melihat kalian bahagia.] Kolom komentar dipenuhi hujatan. Namun, orang-orang itu tidak tahu. Di masa kecilku, seorang pria di panti asuhan sering menjadikanku sasaran saat mabuk. Tasya mendorongku masuk ke gudang dan mengunci pintu dari luar. Malam itu, dia melindungiku. Sedangkan Galih melepaskan kesempatan kuliah di luar negeri dan menolak tawaran masuk universitas tanpa tes. Karena takut aku tidak lolos ujian masuk perguruan tinggi, dia menjadi guru lesku selama tiga tahun penuh. Aku berutang sangat banyak kepada mereka. Begitu banyaknya sehingga ketika mereka selingkuh di belakangku, membenci mereka jadi terasa seperti tidak tahu terima kasih. Setelah menutup video, aku menerima telepon dari rumah sakit. Mereka memberitahuku bahwa Tasya sudah tidak punya waktu lagi untuk menunggu donor hati. Dan kebetulan sekali, hasil tes menyatakan aku cocok menjadi donor. Aku menunduk melihat laporan hasil pemeriksaan di sebelahnya. Hamil enam minggu. Kemudian, aku pergi ke rumah sakit sendirian. Menandatangani formulir persetujuan donor, dan juga surat persetujuan penghentian kehamilan.
View MoreSetelah pertemuan itu, Galih dan Tasya tidak pernah datang ke sanatorium lagi.Hari-hari di sanatorium berlalu dengan lambat.Pagi-pagi menjalani terapi, siang minum obat, sore membantu di rumah kaca.Setahun kemudian, aku pulang.Aku ingin mengunjungi panti asuhan tempat aku tinggal dulu.Kepala panti tampak jauh lebih tua, dan matanya langsung berkaca-kaca saat melihatku."Syukurlah kamu sudah kembali."Aku tersenyum.Panti asuhan itu telah direnovasi.Ruang kelas untuk anak-anak tunarungu telah dilengkapi dengan peralatan baru.Dindingnya dipenuhi gambar-gambar matahari yang hasil karya anak-anak.Kepala panti berkata, "Semua ini sumbangan dari Tasya."Aku terkejut sejenak.Kepala panti melanjutkan, "Sekarang dia datang setiap minggu.""Mengajari anak-anak membaca gerak bibir, menemani mereka berlatih pengucapan dan juga bahasa isyarat.""Kesehatannya masih belum pulih sepenuhnya, tapi dia selalu datang sangat pagi."Dari balik jendela, aku melihat Tasya duduk di dalam kelas.Dia ta
Gunting di tanganku terhenti sejenak. "Aku nggak mau menemui mereka."Perawat itu mengangguk dan turun ke bawah untuk membuat mereka pergi.Kukira akan selesai sampai di situ.Namun, begitu perawat sampai di halaman, Galih tiba-tiba mendongak.Melalui jendela lantai tiga, dia melihatku.Sejenak, dia terdiam kaku.Sesaat kemudian, dia hampir berlari masuk ke dalam gedung.Dia sangat cepat hingga para perawat di koridor pun tidak bisa menghentikannya.Saat pintu kamar terbuka, aku baru meletakkan vas bunga kembali ke atas meja.Galih berdiri di ambang pintu, dadanya naik-turun dengan hebat.Tasya mengikuti di belakangnya, bersandar pada dinding, wajahnya pucat pasi.Setelah cukup lama berlalu, Galih akhirnya bisa berbicara dengan suara serak."Puspa."Aku menatapnya. "Lama nggak bertemu."Mata Galih langsung berkaca-kaca.Namun, tak lama kemudian, di balik kelegaan akan menemukan kembali sesuatu yang sempat hilang, muncul ekspresi hancur yang tak tertahankan."Kenapa kamu bohong padaku?"
Galih menghalangi semua orang yang ingin membawa pergi tempat tidur itu .Perawat sudah tiga kali datang membujuknya, tetapi dia seolah-olah tidak mendengar.Dia berlutut di samping tempat tidur, tangannya menggenggam erat tangan dingin di balik kain putih itu."Tunggu sebentar lagi.""Dia takut gelap.""Dia takut kalau sendirian."Dokter menghela napas. "Pak Galih, pasien sudah dinyatakan meninggal. Prosedur dan administrasi selanjutnya harus segera diurus."Galih mendongak dengan tiba-tiba."Siapa yang bilang dia sudah meninggal?"Matanya dipenuhi guratan merah darah."Dia sedang tidur.""Dia suka malas-malasan di tempat tidur sejak kecil. Baru bangun kalau kupanggil."Setelah mengatakan itu, dia menunduk, memanggil namaku berulang-ulang."Puspa, Puspa.""Bangun, aku nggak akan memaksamu lagi.""Aku nggak akan minta kamu mengalah kepada Tasya lagi.""Kembalilah, aku akan selalu mendengarkanmu mulai sekarang."Saat Tasya dibantu perawat untuk berdiri dan didorong masuk ke dalam ruanga
Galih sontak terhuyung ke belakang."Nggak mungkin. Kalian pasti salah."“Puspa kemarin pulang dari kuil bersamaku.”"Dia cuma darah rendah."Namun, saat mengucapkan kalimat itu, dia sendiri yang terdiam sejenak.Saat aku duduk di lantai koridor ruang gawat darurat kemarin, wajahku pucat pasi.Saat turun dari kuil, aku juga berhenti setiap beberapa langkah.Saat dia menemukanku, aku sedang duduk di ruang medis. Bibirku sangat pucat seolah tidak dialiri darah sama sekali.Galih akhirnya menghubungkan semuanya dan memahami perilaku anehku beberapa hari terakhir ini.Dokter keluar membawa berkas."Pak Galih, tolong tanda tangan dulu."Galih menggenggam pena, tangannya gemetar hebat. "Gunakan obat apa saja. Berapa pun biayanya. Saya bisa mendonorkan darah, hati, semuanya.""Dokter, saya mohon, selamatkan dia."Begitu perawat mengambil dokumen itu, dia berlari ke ruang operasi."Puspa!"Dokter dan perawat bersama-sama menghentikannya."Orang lain dilarang masuk."Galih seolah tidak mendenga






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.