Short
Masa Lalu Tanpa Suara

Masa Lalu Tanpa Suara

By:  NanaCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
8Chapters
0views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Malam ketika aku mengetahui bahwa aku hamil, aku melihat sebuah video tantangan berjudul "Beranikah Nggak." Di kolom komentar, Tasya sahabatku menandai Galih, pacarku. [Berani nggak kamu bilang ke dia, kalau kamu melepas alat bantu dengarnya setiap malam, karena takut dia tahu kamu tidur denganku di kamar sebelah?] Galih menjawab dengan cepat. [Nggak berani.] [Tasya, jangan gila.] Tasya membalas lagi: [Tenang, aku nggak akan bilang.] [Aku juga sebentar lagi mati kok.] [Satu-satunya harapan terakhirku sebelum mati adalah melihat kalian bahagia.] Kolom komentar dipenuhi hujatan. Namun, orang-orang itu tidak tahu. Di masa kecilku, seorang pria di panti asuhan sering menjadikanku sasaran saat mabuk. Tasya mendorongku masuk ke gudang dan mengunci pintu dari luar. Malam itu, dia melindungiku. Sedangkan Galih melepaskan kesempatan kuliah di luar negeri dan menolak tawaran masuk universitas tanpa tes. Karena takut aku tidak lolos ujian masuk perguruan tinggi, dia menjadi guru lesku selama tiga tahun penuh. Aku berutang sangat banyak kepada mereka. Begitu banyaknya sehingga ketika mereka selingkuh di belakangku, membenci mereka jadi terasa seperti tidak tahu terima kasih. Setelah menutup video, aku menerima telepon dari rumah sakit. Mereka memberitahuku bahwa Tasya sudah tidak punya waktu lagi untuk menunggu donor hati. Dan kebetulan sekali, hasil tes menyatakan aku cocok menjadi donor. Aku menunduk melihat laporan hasil pemeriksaan di sebelahnya. Hamil enam minggu. Kemudian, aku pergi ke rumah sakit sendirian. Menandatangani formulir persetujuan donor, dan juga surat persetujuan penghentian kehamilan.

View More

Chapter 1

Bab 1

Setelah menyelesaikan serangkaian pemeriksaan sebelum donor, aku duduk cukup lama di lorong rumah sakit.

Aku ingin menghabiskan lebih banyak waktu dengan janin kecil yang masih tumbuh di dalam kandunganku.

Saat aku menyalakan ponsel, video tadi malam sudah tidak bisa kutemukan lagi.

Komentar-komentarnya pun sudah hilang.

Terdapat 13 panggilan tak terjawab dari Galih dan 17 panggilan tak terjawab dari Tasya.

Aku menelepon balik.

Galih langsung mengangkatnya.

"Puspa, kamu ke mana saja?"

Suaranya terdengar berat.

"Tasya hari ini kesakitan sampai basah kuyup keringat dingin. Dia bahkan nggak mau disuntik obat penghilang rasa sakit kalau kamu belum ketemu."

"Di saat-saat begini, kamu tega bikin kami khawatir?"

Aku membuka mulut, tenggorokanku terasa sangat kering.

Di seberang sana, Galih terdiam beberapa detik, lalu menyadari keheninganku. "Kamu di mana?"

Aku memasukkan hasil pemeriksaan ke dalam tas. "Aku nggak apa-apa."

Dia menghela napas lega. "Kalau nggak apa-apa, cepat ke sini. Tasya mau difoto."

Dari telepon, Tasya tertawa pelan.

"Puspa, aku ingin foto pemakamanku cantik."

"Biar waktu aku pergi nanti, yang kalian kenang bukan aku dengan wajah jelek."

Galih langsung mengumpat.

"Mukamu mirip hantu begini, malaikat maut saja ogah lihatnya."

Kata-katanya kasar.

Namun, aku mendengar dia menuangkan air dan cangkirnya terbentur tepi meja. Tangannya gemetar.

Saat tiba di studio foto, Tasya sudah berganti gaun putih.

Gaunnya sangat cantik, tapi dia terlalu kurus, sehingga pinggangnya terlihat kosong.

Galih berdiri di belakangnya, matanya merah.

Saat melihatku, dia mengerutkan kening. "Kenapa kamu pucat sekali?"

Sebelum aku sempat menjawab, Tasya tersenyum kepadaku. "Puspa."

Galih segera berbalik dan membantunya berdiri.

Aku menghampiri dan merapikan gaun Tasya.

Dia juga sekurus ini ketika masih kecil.

Namun, dia mendorongku ke dalam gudang dan mengunci pintunya dari luar.

Kemudian, saat dia dibawa pergi dengan ambulans, dia masih sempat menghiburku. "Puspa, jangan remehkan badan kurusku. Aku kuat melindungimu."

Suara fotografer menarikku keluar dari kenangan.

"Mau difoto sendiri dulu?"

Tasya menggeleng. "Bisa foto bertiga dulu?"

"Mereka semua orang-orang terpenting dalam hidupku."

"Setelah itu foto sendiri untuk foto pemakaman."

Wajah Galih berubah muram. "Jangan sebut-sebut foto pemakaman."

Mata Tasya memerah.

Aku menatapnya dan berkata pelan, "Nggak usah foto bertiga."

Mereka semua menatapku.

Aku tersenyum. "Kalian foto pasangan saja."

Tasya terkejut.

Galih mengerutkan kening. "Puspa, jangan bikin ribut."

Aku tidak menatapnya, hanya berjongkok dan menatap mata Tasya. "Aku takut kamu nggak ada yang bela, nanti diganggu hantu-hantu di sana."

Galih terdiam.

Tasya tiba-tiba menangis, dan aku menyeka air matanya dengan lembut.

Fotografer meminta mereka berdiri lebih dekat.

Tasya tidak berani menyentuh Galih.

Aku menggenggam tangannya dan meletakkannya di lengan Galih. "Nggak apa-apa."

Galih menunduk menatapnya.

Fotografer berkata, "Mempelai pria, peluk mempelai wanita."

Dia tidak membantah, hanya mengulurkan tangannya dan mendekap Tasya dalam pelukannya.

Aku berdiri di luar jangkauan kamera, memegang kantong obat Tasya dan jaket Galih.

Lampu kilat menyala.

Aku tiba-tiba teringat, aku dan Galih belum pernah berfoto pernikahan.

Jadi, diam-diam aku melangkah masuk ke dalam jangkauan kamera. Sehingga sosokku yang sedikit buram ada dalam foto berdua mereka, mewujudkan keinginan terakhirku.

Setelah pemotretan selesai, Tasya berkata ingin jalan-jalan sebentar.

"Sebentar saja, aku ingin lihat langit di luar lagi."

Galih tidak setuju. "Kamu nggak boleh terlalu banyak gerak sekarang."

Tasya menunduk tanpa berkata apa-apa.

Saat aku hendak berbicara, pandanganku tiba-tiba gelap sejenak.

Kakiku terasa lemas dan perut bagian bawahku sakit setelah pengambilan darah tadi.

Aku berpegangan pada sandaran kursi.

Galih melihatnya dan mengerutkan kening.

"Puspa, Tasya sedang kelelahan fisik dan mental."

"Jangan sampai kamu sakit di saat-saat begini dan membuat dia sedih."

Aku berusaha keras untuk mengangguk dan mengambil syal Tasya.

"Ayo keluar, aku temani."

Di luar angin dingin.

Galih membantu Tasya berjalan lebih dulu.

Aku mengikuti di belakang.

Tasya berdiri di tepi pagar, menatap ke kejauhan cukup lama.

Tiba-tiba dia berkata, "Galih, aku masih punya satu keinginan lagi."

Suara Galih terdengar tegang. "Kamu banyak sekali keinginannya hari ini?"

Tasya tidak tersenyum. Dia menoleh kepadaku.

Galih juga menatapku.

Beberapa detik kemudian, dia berbisik.

"Sayang, lepas dulu alat bantu dengarmu."

Aku menurut dan melepas alat bantu dengarku. Dunia pun menjadi sunyi.

Galih menoleh lagi ke Tasya dan mengucapkan satu kalimat dengan ekspresi serius.

Tasya awalnya terkejut, lalu tersenyum dan menangis.

Mereka berpikir aku tidak bisa mendengar.

Tapi aku bisa membaca gerak bibir.

Dia berkata ‘Aku mencintaimu’.

Rasa pahit tiba-tiba membuncah dalam hatiku, dan aku menyeka air mata yang terus mengalir.

Aku perlahan mengangkat sudut bibirku, lalu mengucap tanpa suara kepada mereka berdua, "Aku juga mencintai kalian."

Karena itulah aku bersedia mengalah.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
8 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status