共有

Masa Lalu Tanpa Suara
Masa Lalu Tanpa Suara
作者: Nana

Bab 1

作者: Nana
Setelah menyelesaikan serangkaian pemeriksaan sebelum donor, aku duduk cukup lama di lorong rumah sakit.

Aku ingin menghabiskan lebih banyak waktu dengan janin kecil yang masih tumbuh di dalam kandunganku.

Saat aku menyalakan ponsel, video tadi malam sudah tidak bisa kutemukan lagi.

Komentar-komentarnya pun sudah hilang.

Terdapat 13 panggilan tak terjawab dari Galih dan 17 panggilan tak terjawab dari Tasya.

Aku menelepon balik.

Galih langsung mengangkatnya.

"Puspa, kamu ke mana saja?"

Suaranya terdengar berat.

"Tasya hari ini kesakitan sampai basah kuyup keringat dingin. Dia bahkan nggak mau disuntik obat penghilang rasa sakit kalau kamu belum ketemu."

"Di saat-saat begini, kamu tega bikin kami khawatir?"

Aku membuka mulut, tenggorokanku terasa sangat kering.

Di seberang sana, Galih terdiam beberapa detik, lalu menyadari keheninganku. "Kamu di mana?"

Aku memasukkan hasil pemeriksaan ke dalam tas. "Aku nggak apa-apa."

Dia menghela napas lega. "Kalau nggak apa-apa, cepat ke sini. Tasya mau difoto."

Dari telepon, Tasya tertawa pelan.

"Puspa, aku ingin foto pemakamanku cantik."

"Biar waktu aku pergi nanti, yang kalian kenang bukan aku dengan wajah jelek."

Galih langsung mengumpat.

"Mukamu mirip hantu begini, malaikat maut saja ogah lihatnya."

Kata-katanya kasar.

Namun, aku mendengar dia menuangkan air dan cangkirnya terbentur tepi meja. Tangannya gemetar.

Saat tiba di studio foto, Tasya sudah berganti gaun putih.

Gaunnya sangat cantik, tapi dia terlalu kurus, sehingga pinggangnya terlihat kosong.

Galih berdiri di belakangnya, matanya merah.

Saat melihatku, dia mengerutkan kening. "Kenapa kamu pucat sekali?"

Sebelum aku sempat menjawab, Tasya tersenyum kepadaku. "Puspa."

Galih segera berbalik dan membantunya berdiri.

Aku menghampiri dan merapikan gaun Tasya.

Dia juga sekurus ini ketika masih kecil.

Namun, dia mendorongku ke dalam gudang dan mengunci pintunya dari luar.

Kemudian, saat dia dibawa pergi dengan ambulans, dia masih sempat menghiburku. "Puspa, jangan remehkan badan kurusku. Aku kuat melindungimu."

Suara fotografer menarikku keluar dari kenangan.

"Mau difoto sendiri dulu?"

Tasya menggeleng. "Bisa foto bertiga dulu?"

"Mereka semua orang-orang terpenting dalam hidupku."

"Setelah itu foto sendiri untuk foto pemakaman."

Wajah Galih berubah muram. "Jangan sebut-sebut foto pemakaman."

Mata Tasya memerah.

Aku menatapnya dan berkata pelan, "Nggak usah foto bertiga."

Mereka semua menatapku.

Aku tersenyum. "Kalian foto pasangan saja."

Tasya terkejut.

Galih mengerutkan kening. "Puspa, jangan bikin ribut."

Aku tidak menatapnya, hanya berjongkok dan menatap mata Tasya. "Aku takut kamu nggak ada yang bela, nanti diganggu hantu-hantu di sana."

Galih terdiam.

Tasya tiba-tiba menangis, dan aku menyeka air matanya dengan lembut.

Fotografer meminta mereka berdiri lebih dekat.

Tasya tidak berani menyentuh Galih.

Aku menggenggam tangannya dan meletakkannya di lengan Galih. "Nggak apa-apa."

Galih menunduk menatapnya.

Fotografer berkata, "Mempelai pria, peluk mempelai wanita."

Dia tidak membantah, hanya mengulurkan tangannya dan mendekap Tasya dalam pelukannya.

Aku berdiri di luar jangkauan kamera, memegang kantong obat Tasya dan jaket Galih.

Lampu kilat menyala.

Aku tiba-tiba teringat, aku dan Galih belum pernah berfoto pernikahan.

Jadi, diam-diam aku melangkah masuk ke dalam jangkauan kamera. Sehingga sosokku yang sedikit buram ada dalam foto berdua mereka, mewujudkan keinginan terakhirku.

Setelah pemotretan selesai, Tasya berkata ingin jalan-jalan sebentar.

"Sebentar saja, aku ingin lihat langit di luar lagi."

Galih tidak setuju. "Kamu nggak boleh terlalu banyak gerak sekarang."

Tasya menunduk tanpa berkata apa-apa.

Saat aku hendak berbicara, pandanganku tiba-tiba gelap sejenak.

Kakiku terasa lemas dan perut bagian bawahku sakit setelah pengambilan darah tadi.

Aku berpegangan pada sandaran kursi.

Galih melihatnya dan mengerutkan kening.

"Puspa, Tasya sedang kelelahan fisik dan mental."

"Jangan sampai kamu sakit di saat-saat begini dan membuat dia sedih."

Aku berusaha keras untuk mengangguk dan mengambil syal Tasya.

"Ayo keluar, aku temani."

Di luar angin dingin.

Galih membantu Tasya berjalan lebih dulu.

Aku mengikuti di belakang.

Tasya berdiri di tepi pagar, menatap ke kejauhan cukup lama.

Tiba-tiba dia berkata, "Galih, aku masih punya satu keinginan lagi."

Suara Galih terdengar tegang. "Kamu banyak sekali keinginannya hari ini?"

Tasya tidak tersenyum. Dia menoleh kepadaku.

Galih juga menatapku.

Beberapa detik kemudian, dia berbisik.

"Sayang, lepas dulu alat bantu dengarmu."

Aku menurut dan melepas alat bantu dengarku. Dunia pun menjadi sunyi.

Galih menoleh lagi ke Tasya dan mengucapkan satu kalimat dengan ekspresi serius.

Tasya awalnya terkejut, lalu tersenyum dan menangis.

Mereka berpikir aku tidak bisa mendengar.

Tapi aku bisa membaca gerak bibir.

Dia berkata ‘Aku mencintaimu’.

Rasa pahit tiba-tiba membuncah dalam hatiku, dan aku menyeka air mata yang terus mengalir.

Aku perlahan mengangkat sudut bibirku, lalu mengucap tanpa suara kepada mereka berdua, "Aku juga mencintai kalian."

Karena itulah aku bersedia mengalah.

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Masa Lalu Tanpa Suara   Bab 8

    Setelah pertemuan itu, Galih dan Tasya tidak pernah datang ke sanatorium lagi.Hari-hari di sanatorium berlalu dengan lambat.Pagi-pagi menjalani terapi, siang minum obat, sore membantu di rumah kaca.Setahun kemudian, aku pulang.Aku ingin mengunjungi panti asuhan tempat aku tinggal dulu.Kepala panti tampak jauh lebih tua, dan matanya langsung berkaca-kaca saat melihatku."Syukurlah kamu sudah kembali."Aku tersenyum.Panti asuhan itu telah direnovasi.Ruang kelas untuk anak-anak tunarungu telah dilengkapi dengan peralatan baru.Dindingnya dipenuhi gambar-gambar matahari yang hasil karya anak-anak.Kepala panti berkata, "Semua ini sumbangan dari Tasya."Aku terkejut sejenak.Kepala panti melanjutkan, "Sekarang dia datang setiap minggu.""Mengajari anak-anak membaca gerak bibir, menemani mereka berlatih pengucapan dan juga bahasa isyarat.""Kesehatannya masih belum pulih sepenuhnya, tapi dia selalu datang sangat pagi."Dari balik jendela, aku melihat Tasya duduk di dalam kelas.Dia ta

  • Masa Lalu Tanpa Suara   Bab 7

    Gunting di tanganku terhenti sejenak. "Aku nggak mau menemui mereka."Perawat itu mengangguk dan turun ke bawah untuk membuat mereka pergi.Kukira akan selesai sampai di situ.Namun, begitu perawat sampai di halaman, Galih tiba-tiba mendongak.Melalui jendela lantai tiga, dia melihatku.Sejenak, dia terdiam kaku.Sesaat kemudian, dia hampir berlari masuk ke dalam gedung.Dia sangat cepat hingga para perawat di koridor pun tidak bisa menghentikannya.Saat pintu kamar terbuka, aku baru meletakkan vas bunga kembali ke atas meja.Galih berdiri di ambang pintu, dadanya naik-turun dengan hebat.Tasya mengikuti di belakangnya, bersandar pada dinding, wajahnya pucat pasi.Setelah cukup lama berlalu, Galih akhirnya bisa berbicara dengan suara serak."Puspa."Aku menatapnya. "Lama nggak bertemu."Mata Galih langsung berkaca-kaca.Namun, tak lama kemudian, di balik kelegaan akan menemukan kembali sesuatu yang sempat hilang, muncul ekspresi hancur yang tak tertahankan."Kenapa kamu bohong padaku?"

  • Masa Lalu Tanpa Suara   Bab 6

    Galih menghalangi semua orang yang ingin membawa pergi tempat tidur itu .Perawat sudah tiga kali datang membujuknya, tetapi dia seolah-olah tidak mendengar.Dia berlutut di samping tempat tidur, tangannya menggenggam erat tangan dingin di balik kain putih itu."Tunggu sebentar lagi.""Dia takut gelap.""Dia takut kalau sendirian."Dokter menghela napas. "Pak Galih, pasien sudah dinyatakan meninggal. Prosedur dan administrasi selanjutnya harus segera diurus."Galih mendongak dengan tiba-tiba."Siapa yang bilang dia sudah meninggal?"Matanya dipenuhi guratan merah darah."Dia sedang tidur.""Dia suka malas-malasan di tempat tidur sejak kecil. Baru bangun kalau kupanggil."Setelah mengatakan itu, dia menunduk, memanggil namaku berulang-ulang."Puspa, Puspa.""Bangun, aku nggak akan memaksamu lagi.""Aku nggak akan minta kamu mengalah kepada Tasya lagi.""Kembalilah, aku akan selalu mendengarkanmu mulai sekarang."Saat Tasya dibantu perawat untuk berdiri dan didorong masuk ke dalam ruanga

  • Masa Lalu Tanpa Suara   Bab 5

    Galih sontak terhuyung ke belakang."Nggak mungkin. Kalian pasti salah."“Puspa kemarin pulang dari kuil bersamaku.”"Dia cuma darah rendah."Namun, saat mengucapkan kalimat itu, dia sendiri yang terdiam sejenak.Saat aku duduk di lantai koridor ruang gawat darurat kemarin, wajahku pucat pasi.Saat turun dari kuil, aku juga berhenti setiap beberapa langkah.Saat dia menemukanku, aku sedang duduk di ruang medis. Bibirku sangat pucat seolah tidak dialiri darah sama sekali.Galih akhirnya menghubungkan semuanya dan memahami perilaku anehku beberapa hari terakhir ini.Dokter keluar membawa berkas."Pak Galih, tolong tanda tangan dulu."Galih menggenggam pena, tangannya gemetar hebat. "Gunakan obat apa saja. Berapa pun biayanya. Saya bisa mendonorkan darah, hati, semuanya.""Dokter, saya mohon, selamatkan dia."Begitu perawat mengambil dokumen itu, dia berlari ke ruang operasi."Puspa!"Dokter dan perawat bersama-sama menghentikannya."Orang lain dilarang masuk."Galih seolah tidak mendenga

  • Masa Lalu Tanpa Suara   Bab 4

    Galih merangkulku berjalan menuruni bukit, ponselnya terus berdering.Tasya mengirim pesan setiap beberapa menit: [Puspa sudah ketemu?][Dia marah padaku, ya?][Galih, jangan kasar padanya.]Sambil membaca pesan itu, Galih berkata kepadaku, "Puspa, kita harus mengalah padanya."Setelah pulang, aku langsung pergi ke ruang rawat inap.Dokter terdiam beberapa detik. "Besok harus operasi donor hati. Dengan kondisi sekarang, sangat berisiko."Aku memejamkan mata. "Saya mengerti, tapi tolong lanjutkan saja."Malam itu, Galih meneleponku tiga kali, tapi aku tidak mengangkatnya.Dia mengirim pesan, tapi aku tidak berani membacanya. Akhirnya, aku hanya bisa mematikan ponselku.Keesokan paginya, Tasya menerima sebuah kabar.Donor hati untuknya sudah didapatkan.Galih segera bergegas ke ruang dokter.Aku bisa mendengar suaranya melalui pintu."Kapan bisa operasi?"Dokter menjawab, "Pendonor sudah siap di rumah sakit dan sudah lolos pemeriksaan."Galih berkata, "Saya bersedia memberikan kompensasi

  • Masa Lalu Tanpa Suara   Bab 3

    Keesokan harinya, kami pergi ke kuil.Galih menggendong Tasya sepanjang perjalanan mendaki gunung.Aku mengikuti mereka dari belakang, perutku terasa sakit dari waktu ke waktu.Aku harus berhenti dan mengatur napas setiap menaiki sepuluh lebih anak tangga.Galih hanya menoleh ke belakang sekali.Kuil itu tidak terlalu ramai. Tasya terlebih dahulu mengambil undian ramalan.Saat ramalan dibuka, penjaga kuil terdiam sejenak.Nasib buruk.Ramalan itu bertuliskan: [Takdir yang rapuh dan mudah kehilangan. Keberuntungan sudah habis terpakai.]Tasya memandangnya cukup lama, lalu tertawa pelan."Lumayan akurat."Galih merebut undian itu dan meremasnya."Undiannya rusak, ambil lagi."Petugas kuil berkata, "Satu undian untuk satu urusan. Nggak bisa ambil ulang."Wajah Galih tampak sangat muram.Saat itu, aku juga mengambil ramalanku.Nasib baik.Pengurus kuil meliriknya sekilas.[Selamat dan lancar, berkah berlimpah.]Ujung jariku bergetar pelan.Ini doa yang baru saja kupanjatkan untuk anakku.B

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status