Nadya bergegas menyembunyikan obat itu ke belakang tubuhnya, bersikap seolah tak terjadi apa-apa, “Hanya vitamin.”“Vitamin?”Roni terkekeh sinis. Dia melangkah mendekat, merampas obat itu dari tangannya. Saat membaca tulisan di kemasan, sorot matanya jadi menajam.“Nadya, kamu selalu minum obat kb selama ini?”Suaranya sangat rendah, menyiratkan amarah luar biasa karena merasa dibohongi.“Kamu nggak berniat untuk melahirkan anak denganku, ‘kan?”Nadya menunduk, menjawab dengan nada datar, “Kondisiku belum pulih sepenuhnya…”“Cukup!”Roni membanting kotak obat itu ke lantai hingga butiran tabletnya berserakan di mana-mana.Melihat raut wajah Nadya yang tetap tenang dan berjarak, rasa amarah membakar kepalanya, menyisakan kepanikan samar yang mendadak muncul di dalam dada.Rasanya seolah sosok kekasih yang dulu pernah tertawa, menangis dan cemburu demi dirinya telah benar-benar lenyap tak berbekas.“Bagus!” Roni menggeram, menatapnya dengan dingin, “Nadya, kamu bakal menyesal.”Usai bic
Leer más