Compartir

Bab 6

Autor: Neon
Terus-terusan ditusuk oleh ucapan Nadya membuat dada Roni terasa makin sesak. Namun, dia malah tertawa pelan dan melangkah maju mendekatinya selangkah demi selangkah.

“Kamu benar juga.”

Dia mengangkat tangan menepuk dagu Nadya, mengusap pipinya dengan ujung jarinya, lalu berkata dengan santai.

“Nadya, kamu memang punya bakal alami jadi simpanan. Lahir dengan wajah yang pintar memikat pria. Tadi beberapa orang di dalam bilang kalau aku sudah bosan, mereka mau menampungmu.”

Roni berhenti sejenak, lalu mendekatkan wajahnya ke telinga Nadya dan membiarkan hembusan napas hangatnya menerpa daun telinganya.

“Ada yang rela menukar sebidang tanah di tengah kota. Ada lagi yang rela menyerahkan proyek kerja sama yang baru didapat, nilainya triliunan.”

Nadya menepis tangannya dengan tenang, memalingkan kepala dan menjawab asal,

“Oh iya? Ternyata aku lumayan bernilai juga.”

Seketika, sorot mata Roni berubah tajam. Dia langsung menunduk, menggigit bibir Nadya, membuatnya mengerutkan kening menahan sakit.

“Kamu nggak takut aku benar-benar menyerahkanmu pada orang lain? Aturan main di lingkaran kami, wanita simpanan itu memang bisa digilir.”

Roni menatapnya tajam, dengan emosi yang berkecamuk tak menentu di dasar matanya, lalu menghela napas panjang.

“Nadya, kamu itu hanya memanfaatkan rasa cintaku, tahu kalau aku nggak bakal melepaskanmu.”

Rasa mual akibat alkohol dan kejengkelan terus mengaduk-aduk isi perut Nadya. Mendengar rentetan kata cinta yang keluar dari mulut pria itu hanya membuatnya merasa makin muak.

“Kamu mencintaiku?” Dia tertawa pelan dengan nada penuh sindiran, “Roni, cintamu itu murah sekali. Bisa dibagi-bagi ke Liana, ke Lena dan ke wanita-wanita lain yang tak terhitung jumlahnya.”

“Kalau dipikir-pikir rasanya nggak adil juga. Dulu aku terlalu bodoh, cuma tahu mencintai satu orang. Harusnya aku juga mencoba, seperti apa rasanya berganti-ganti pasangan.”

Wajah Roni tampak memuram, tatapannya tampak tajam.

“Kamu seriusan?”

Nadya mengangguk tanpa ragu.

Roni menatapnya lekat-lekat selama beberapa detik, lalu tiba-tiba terkekeh.

Detik berikutnya, dia membuka pintu ruang VIP, lalu mendorong Nadya ke dalam dengan kasar.

Tatapannya menyapu dingin ke arah pria kaya di dalam sana, lalu berkata,

“Malam ini dia milik kalian, main saja sepuasnya.”

Usai bicara, pintu itu dibanting hingga tertutup rapat.

Nadya berdiri membeku di tempat. Butuh beberapa detik baginya untuk menyadari bahwa Roni benar-benar telah menyerahkan dirinya pada orang lain.

Baru saja Nadya hendak berbalik pergi, sebuah tangan menahan bahunya.

“Nona Lena, jangan buru-buru pergi.”

Nadya menghempaskan tangan itu, mundur satu langkah dan berkata dengan dingin,

“Aku bukan Lena, aku Nadya.”

Beberapa pria di sana terkejut, saling bertatapan dengan cemas.

Suasana sempat membeku selama beberapa detik, hingga akhirnya seseorang tertawa, “Pak Roni... bercanda ya?”

Nadya berbalik lagi hendak melangkah keluar.

Namun, pintu kembali terbuka.

Seorang pria kaya lainnya melangkah masuk sambil celoteh, “Kalian tebak aku baru lihat apa?”

“Istri Roni datang sendiri untuk menjemput Pak Roni! Pak Roni benar-benar mesra sekali dengannya... tsk tsk. Katanya besok hari peringatan pernikahan ketujuh mereka. Pak Roni sudah memesan seluruh restoran kelas atas dan menolak semua janji temu.”

Tatapan semua orang di ruangan terhadap Nadya langsung berubah total.

“Pura-pura jadi nyonya?” Seseorang terkekeh dingin, “Berani juga kamu.”

“Ayo, kita bantu Pak Roni memberi pelajaran untuk simpanan kecil yang nggak tahu diri ini.”

Nadya membuka mulut hendak menjelaskan, tapi tubuhnya sudah terlanjur ditarik paksa kembali ke dalam.

Dia berjuang mati-matian, menampar wajah mereka, tetapi hal itu justru dibalas dengan kungkungan yang jauh lebih kasar.

Seseorang mencengkeram dagunya lalu memaksakan cairan alkohol masuk ke tenggorokannya. Dia tersedak dan terpaksa menelannya saat tenggorokannya terasa terbakar hebat.

Minuman itu sudah diberi obat.

Saat kesadarannya mulai mengabur, dia melihat bayangan lampu di langit-langit berputar-putar.

Malam yang penuh kekacauan.

Dia tidak ingat lagi ada berapa orang, tidak ingat apa saja yang sempat dia teriakan. Yang tersisa di benaknya hanyalah rasa sakit, seluruh tubuhnya terasa sakit tak tertahankan.

Saat terbangun keesokan harinya, sinar senja sudah membayang di luar jendela.

Nadya memaksakan tubuhnya untuk merangkak bangun. Seluruh badannya terasa remuk.

Dia mencuci mukanya, mengenakan kembali gaun yang sudah robek itu, lalu mendorong pintu dan melangkah keluar.

Klub malam itu belum dibuka, sehingga koridor di luar tampak kosong.

Nadya mengeluarkan ponsel dan menyalakannya.

Pesan pertama yang muncul adalah berita utama dari media hiburan Kota Holanda,

[Penguasa Keluarga Halim mengajak istri merayakan hari peringatan pernikahan ketujuh. Makan malam romantis di restoran kelas atas dan kembang api yang menyala semalaman.]

Dalam foto itu, tatapan mata pria tersebut saat melihat Lena tampak begitu manja dan lembut, persis seperti tatapannya saat melihat Nadya dulu.

Nadya terkekeh sinis lalu menghapus pemberitahuan itu tanpa ragu.

Pesan berikutnya berasal dari pengacaranya:

[Bu Nadya, surat cerainya sudah keluar. Kamu bisa datang mengambilnya kapan saja.]

Pundak Nadya yang tegang selama berhari-hari, langsung melemas. Dia menghela napas panjang.

Setelah mengambil surat cerainya di kantor pengacara, dia kembali ke Kawasan Nago untuk mengemas koper dan dokumennya. Menatap kontrakan tua yang kini sudah dipagari seng dan siap diruntuhkan itu, tak ada lagi riak emosi apapun di dalam hatinya.

Segala keterikatan cinta, benci dan kerinduan, kini telah musnah sepenuhnya menjadi abu.

Sore harinya, dia naik ke penerbangan paling awal menuju Emrik.

Pesawat perlahan-lahan lepas landas. Di luar jendela, kembang api yang megah mendadak meletup indah di atas langit, menerangi seluruh pemandangan malam Kota Holanda.

Nadya menarik rapat penutup jendela dengan tanpa ekspresi, lalu memejamkan mata sambil menyandarkan tubuhnya di kursi.

Saat dia membuka matanya kembali nanti, itu adalah awal dari kehidupannya yang baru.

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Pintu Hati Yang Terkunci   Bab 18

    Saat pesawat mendarat di Kota Holanda, Nadya memeluk guci abu itu dengan ujung jari yang kaku.Steve dan Brian berjalan di sebelah kanan dan kirinya, tak ada satu pun yang bersuara.Pintu keluar dipenuhi oleh kerumunan wartawan, lampu kilat kamera menembak ke arahnya tanpa henti.Ada yang berteriak, “Nona Nadya, lihat ke sini.”“Pak Roni benar-benar sudah meninggal?” Ada juga yang langsung menerjang ke depan mencoba menjangkau guci abu tersebut.Brian menghalangi lensa kamera, wajahnya tampak menyelimuti amarah, “Awas!”Steve menelepon seseorang dan tak lama kemudian petugas keamanan menerobos masuk membuka jalan untuk mereka.Nadya menundukkan kepala, memeluk guci abu itu semakin erat.Shinta sudah menunggu di dermaga.Sudah tiga hari wanita tua itu berdiri menunggunya di sana.Melihat Nadya turun dari mobil, dia melangkah sempoyongan menghampiri, menggenggam tangannya dengan air mata yang mengalir deras di wajahnya.“Nadya, dia... ada menyampaikan sesuatu di akhir hidupnya?”Nadya m

  • Pintu Hati Yang Terkunci   Bab 17

    Di larut malam Kota Buston, Roni duduk di dalam apartemen dengan layar komputer yang menyala terang.Email berhasil terkirim.Itu adalah email yang ke-367.Nadya tidak pernah membalas satu pun, tetapi pria itu tetap rutin mengirimnya setiap hari. Cerita tentang apa yang dia makan hari itu, siapa yang dia temui, hujan yang turun di Buston, hingga dedaunan di bawah gedung apartemen yang mulai memerah. Dia bertingkah persis seperti kakek-kakek yang cerewet.Ponselnya mendadak berdering.Suara Steve terdengar dari balik telepon, terdengar terburu-buru dan tertahan: "Pos medis dikepung, komunikasi terputus selama tiga hari. Sinyal terakhir ada di wilayah pegunungan perbatasan, setidaknya ada dua ratus anggota kelompok bersenjata."Roni langsung berdiri tersentak."Kirim koordinatnya padaku.""Aku sudah menghubungi pasukan keamanan swasta," kata Steve. "Brian sedang mengerahkan orang-orangnya, kita berangkat tiga jam lagi."Roni menutup telepon, memesan tiket pesawat dan mengemas barang-bara

  • Pintu Hati Yang Terkunci   Bab 16

    Pada hari saat studi pelatihan yang berlangsung selama satu tahun resmi berakhir, Nadya menerima sertifikat kelulusannya dan membuat sebuah keputusan.Brian berlari menghampiri, “Kak, nanti malam kita rayain, ya! Aku sudah pesan restorannya!”Nadya menggelengkan kepala, “Aku akan pergi besok.”Brian tercengang, “Pergi? Pergi ke mana?”“Menjadi dokter lintas batas.” Nadya memasukkan sertifikat itu ke dalam tasnya.Brian melompat kaget, “Kak, kamu sudah gila? Itu tempat perang! Peluru dan bom nggak punya mata, untuk apa kamu ke sana?”Nadya tak menjawab.Steve berjalan dari arah belakang, rupanya telah mendengar percakapan tadi. Keningnya berkerut, “Terlalu bahaya, aku nggak setuju.”“Aku nggak perlu meminta persetujuanmu.” Nadya menatapnya, “Ini pilihanku.”Steve menarik napas dalam-dalam, menahan emosinya, “Fasilitas medis di sana sangat buruk dan konflik bersenjata bisa meletus kapan saja. Kamu tahu berapa tingkat kematian dokter lintas batas?”“Tahu.”“Dan kamu masih mau pergi?”Nady

  • Pintu Hati Yang Terkunci   Bab 15

    Roni berjongkok di bawah gedung apartemen Nadya. Rokok di tangannya sudah terbakar sampai ke ujung, membakar ujung jarinya.Dia baru saja menutup telepon dari ibunya.“Lena sudah gila.” Shinta mengeluh di balik telepon, “Setelah dicampakkan dan dibuang begitu saja oleh pemuda kaya itu, sekarang dia ada di rumah sakit. Sepanjang hari berteriak aku istri Roni. Sungguh malapetaka.”Roni tak berbicara.“Dia memang menjebak Nadya, tapi tindakanmu padanya...” Shinta terdiam sejenak, “Ya sudahlah, jaga dirimu baik-baik.”Panggilan terputus.Roni mematikan puntung rokoknya, lalu menyalakan satu batang lagi.Gila?Dia teringat saat Lena berdiri di depannya memakai gaun putih, wajahnya yang sangat mirip dengan Nadya saat bermanja-manja, serta telepon yang terlewat olehnya di malam badai itu.Nadya yang berada di antara reruntuhan, demam, berdarah, meneleponnya untuk meminta bantuan.Lena menyembunyikannya, lalu merayunya, memancingnya untuk mengucapkan kata-kata yang tidak tulus, tapi sangat men

  • Pintu Hati Yang Terkunci   Bab 14

    Roni benar-benar tak pergi.Keesokan paginya, saat Nadya membuka pintu, Roni sudah berdiri di depan pintu sambil membawa sarapan.“Bubur daging, telur rebus dan kue,” katanya.“Tempat langgananmu dulu, aku minta koki mempelajarinya selama tiga bulan.”Nadya menatapnya sekilas, mengambil sarapan itu, lalu membuangnya ke dalam tong sampah tepat di hadapannya.“Ke depannya nggak perlu antar lagi.”Roni mengangguk pelan, tak berbicara.Sore harinya, saat Nadya pulang kerja, Roni sudah menunggu di depan pintu dengan jarak sepuluh langkah. Saat Nadya naik ke mobil, Roti ikut naik ke mobilnya. Begitu sampai di bawah gedung apartemen, dia juga ikut tiba di sana.Brian sedang berjongkok di depan pintu apartemen. Melihat pemandangan itu, dia langsung melompat berdiri, "Om, kamu itu penguntit, ya?"Roni sama sekali tidak memedulikannya. Dia mengeluarkan sekantong bahan makanan dari bagasi mobil, lalu langsung berjalan naik ke atas.Begitu Nadya membuka pintu, Roni mengekor di belakangnya, meletak

  • Pintu Hati Yang Terkunci   Bab 13

    Nadya membuka pintu apartemennya. Begitu melihat Roni berdiri di sana, reaksi pertamanya adalah langsung menutup pintu kembali.Roni menahannya dengan tangan. Pintu pun menghantam telapak tangannya dan menimbulkan suara dentuman yang teredam."Nadya, aku sudah mencarimu selama tiga bulan."Sudut matanya tampak memerah, dagunya ditumbuhi bayangan janggut tipis dan mantel yang dikenakannya sangat kusut. Roni yang dulu begitu anggun dan berwibawa telah lenyap. Yang berdiri di depan pintu saat ini hanyalah seorang pria yang tampak sangat malang dan menyedihkan.Nadya menatapnya dengan nada datar, “Untuk apa mencariku? Bukannya kamu sudah dapat surat cerainya?”“Aku menyesal.”“Itu urusanmu.” Dia mundur selangkah dan bersiap menutup pintu.Namun, Roni tetap menghadang di pintu dan menolak pergi.Keesokan paginya, saat Nadya membuka pintu, terdapat sarapan yang diletakkan di sana. Kopi panas, sandwich, serta secarik kertas bertuliskan [Aku sudah tahu salah].Nadya mengambilnya dan membuangny

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status