Compartir

Bab 5

Autor: Neon
Badai topan menerjang seluruh Kota Holanda. Angin kencang disertai hujan lebat menghempas gedung tua di Kawasan Nago, membuat seluruh bangunan berguncang hebat.

Nadya memaksakan tubuhnya yang demam tinggi untuk bergerak. Baru saja meraba-raba sampai ambang pintu, terdengar suara dentuman yang dahsyat dari belakangnya, separuh dari gedung tua itu langsung runtuh.

Dia mengarahkan seluruh sisa tenaganya untuk berlari keluar. Air hujan langsung menyiram seluruh tubuhnya hingga basah kuyup, membuat luka-lukanya terasa perih.

Saat berlindung di sebuah klinik kecil terdekat, ruangan di dalamnya sudah dipenuhi oleh warga yang mengungsi dari bencana.

Seseorang berbisik pelan kalau dokter tua pemilik klinik tertimpa reruntuhan di kepala saat malam badai dan sudah meninggal. Jasadnya masih terbaring di ruang belakang dan tidak ada yang berani mendekat.

Nadya menekan rasa pahit di hatinya. Dia menyingkap sudut tirai untuk melihat, lalu berbekal keyakinan sebagai seorang mahasiswa kedokteran, dia masuk ke dalam untuk membantu memejamkan mata dokter tua tersebut.

Setelah keluar, dia meraba-raba lemari obat untuk mencari obat antiinflamasi dan pereda demam, lalu menelannya bulat-bulat dua butir tanpa air. Dia juga mengambil kain kasa dan alkohol untuk membungkus rapat luka-luka di tangan dan kakinya.

Setelah itu, dia mulai membagikan obat-obatan kepada para lansia dan anak-anak di sekitarnya, serta membantu menangani luka gores dan demam secara sederhana.

Ada seorang pemuda yang lengannya tersayat pecahan kaca.

Nadya menunduk untuk mendisinfeksi dan membalut lukanya, lalu berkata dengan suara lembut, "Jangan sampai kena air, ganti perbannya secara teratur."

Ujung telinga pemuda itu memerah. Dia berulang kali mengucapkan terima kasih dengan tatapan mata yang menyiratkan rasa malu-malu.

Tepat pada saat itu, sebuah bayangan hitam memegang payung dan menerobos masuk dari pintu depan.

Roni berdiri di sana dengan tubuh basah kuyup dan rambut berantakan. Raut panik yang belum sepenuhnya reda masih terlihat di matanya.

Namun saat melihat Nadya baik-baik saja dan bahkan sedang tersenyum lembut pada pria lain, rasa cemas itu seketika tergantikan oleh kobaran rasa cemburu.

Dia melangkah maju, berdiri menatapnya dari atas dengan nada bicara yang tajam dan angkuh.

“Aku pikir kamu sudah semalang apa, ternyata aku yang terlalu cemas. Cepat juga kamu beradaptasi, di tempat sampah seperti ini pun masih sempat-sempatnya menggoda orang.”

Tangan Nadya yang sedang merapikan kapas beralkohol terhenti seketika. Saat mendongak, yang tersisa di matanya hanyalah tatapan dingin.

Suara mesra dan nada merendahkan dari panggilan telepon semalam masih terngiang jelas di telinganya. Kini, dia bahkan sudah malas untuk sekadar berpura-pura.

"Berkat kamu, aku sangat baik," jawabnya datar, setiap kata menusuk tajam. "Bukannya Pak Roni harusnya menemani Nyonya berjuang membuat anak? Kok malah ada waktu luang datang mencariku?"

Roni menatapnya dengan senyuman samar, lalu mengulurkan tangan untuk mencengkeram tangannya.

“Tentu saja datang memintamu menjalankan kewajiban sebagai seorang simpanan. Ikut aku ke sebuah tempat.”

Nadya mencoba menghempaskannya, tapi cengkeraman pria itu terlalu kuat untuk ditolak.

Pandangan orang-orang di sekitar mulai tertuju pada mereka. Tak ingin membuat keributan dan menjadi bahan lelucon di Kota Holanda di tengah pengungsi bencana, akhirnya Nadya memilih diam dan masuk ke dalam mobilnya.

Mobil berhenti tepat di depan pintu masuk sebuah klub malam.

Roni melemparkan selembar gaun merah bertali tipis padanya, "Pakai ini."

"Aku nggak mau," tolak Nadya.

"Kamu sekarang bukan Nyonya lagi, cuma simpanan kecil," potong Roni dengan suara dingin.

"Lakukan saja apa yang kusuruh."

Nadya meremas gaun itu erat-erat, tetapi pada akhirnya tetap melangkah masuk ke ruang ganti.

Setelah selesai berganti pakaian, Roni membawanya masuk ke dalam ruang VIP di lantai paling atas.

Di dalam sana duduk empat sampai lima orang pria. Semuanya merupakan playboy papan atas yang terkenal di Kota Holanda.

Salah satu dari mereka mendongak dan terkejut, "Roni? Bukannya ini Kakak Ipar?"

Roni merangkul pinggang Nadya, menjawab dengan nada sembrono, "Kamu salah orang, ini cuma simpanan kecil yang baru kudapat."

Karena pencahayaan yang remang-remang, orang-orang itu benar-benar mengira Nadya adalah lena. Seketika, nada bicara mereka langsung menjadi tak sopan dan lancang.

“Ternyata si cantik yang mirip Nyonya itu! Dulu kamu simpan erat-erat, akhirnya hari ini rela dibawa keluar?”

“Aturannya di lingkaran kita, kalau sudah dibawa ke sini harus mau main bersama.”

Gelas demi gelas berisi alkohol terus disodorkan ke hadapan Nadya. Roni hanya menonton dingin dari samping sepanjang waktu, sama sekali tak berniat untuk menghentikannya.

Nadya pun menenggak alkohol itu gelas demi gelas.

Demam tingginya belum reda, alkohol rasanya membakar tenggorokan dan mengaduk-aduk isi perutnya, namun dia tetap menggertakkan gigi menahannya.

Saat benar-benar tak sanggup lagi menahannya, dia berdiri dan berbisik pelan, "Aku mau ke kamar mandi sebentar."

Selesai memoles ulang riasannya, dia berjalan kembali dan melihat Roni sedang menerima panggilan telepon di depan pintu ruang VIP.

Melihatnya, Roni buru-buru berkata, “Nggak boleh ada kesalahan untuk besok.”

Lalu menutup teleponnya.

Saat tatapannya jatuh pada wajah Nadya yang pucat, jakun Roni bergerak naik turun. Ekspresinya tampak rumit, seolah ada sesuatu yang ingin diucapkannya, tapi tertahan.

Nadya menundukkan pandangan, bertanya asal, "Ada acara penting apa besok?"

Roni menatapnya tak percaya. "Kamu nggak ingat? Besok itu ulang tahun pernikahan kita."

Nadya sempat tertegun.

Tentu saja dia ingat.

Tujuh tahun lalu, pernikahan megah mereka menghebohkan seisi Kota Holanda. Kembang api menyala terang semalaman penuh khusus untuknya.

Roni memeluknya erat hari itu, berbisik bahwa dia adalah satu-satunya dalam hidupnya.

Kini jika diingat kembali, rasanya sangat konyol dan ironis.

Nadya menunduk, berkata datar, “Oh iya? Aku sudah lupa.”

Kemudian, dia mendongak dan tersenyum paksa pada Roni.

“Kalau begitu Pak Roni harusnya pulang lebih awal untuk menemani Lena. Bagaimanapun dia itu nyonyamu sekarang.”

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Pintu Hati Yang Terkunci   Bab 18

    Saat pesawat mendarat di Kota Holanda, Nadya memeluk guci abu itu dengan ujung jari yang kaku.Steve dan Brian berjalan di sebelah kanan dan kirinya, tak ada satu pun yang bersuara.Pintu keluar dipenuhi oleh kerumunan wartawan, lampu kilat kamera menembak ke arahnya tanpa henti.Ada yang berteriak, “Nona Nadya, lihat ke sini.”“Pak Roni benar-benar sudah meninggal?” Ada juga yang langsung menerjang ke depan mencoba menjangkau guci abu tersebut.Brian menghalangi lensa kamera, wajahnya tampak menyelimuti amarah, “Awas!”Steve menelepon seseorang dan tak lama kemudian petugas keamanan menerobos masuk membuka jalan untuk mereka.Nadya menundukkan kepala, memeluk guci abu itu semakin erat.Shinta sudah menunggu di dermaga.Sudah tiga hari wanita tua itu berdiri menunggunya di sana.Melihat Nadya turun dari mobil, dia melangkah sempoyongan menghampiri, menggenggam tangannya dengan air mata yang mengalir deras di wajahnya.“Nadya, dia... ada menyampaikan sesuatu di akhir hidupnya?”Nadya m

  • Pintu Hati Yang Terkunci   Bab 17

    Di larut malam Kota Buston, Roni duduk di dalam apartemen dengan layar komputer yang menyala terang.Email berhasil terkirim.Itu adalah email yang ke-367.Nadya tidak pernah membalas satu pun, tetapi pria itu tetap rutin mengirimnya setiap hari. Cerita tentang apa yang dia makan hari itu, siapa yang dia temui, hujan yang turun di Buston, hingga dedaunan di bawah gedung apartemen yang mulai memerah. Dia bertingkah persis seperti kakek-kakek yang cerewet.Ponselnya mendadak berdering.Suara Steve terdengar dari balik telepon, terdengar terburu-buru dan tertahan: "Pos medis dikepung, komunikasi terputus selama tiga hari. Sinyal terakhir ada di wilayah pegunungan perbatasan, setidaknya ada dua ratus anggota kelompok bersenjata."Roni langsung berdiri tersentak."Kirim koordinatnya padaku.""Aku sudah menghubungi pasukan keamanan swasta," kata Steve. "Brian sedang mengerahkan orang-orangnya, kita berangkat tiga jam lagi."Roni menutup telepon, memesan tiket pesawat dan mengemas barang-bara

  • Pintu Hati Yang Terkunci   Bab 16

    Pada hari saat studi pelatihan yang berlangsung selama satu tahun resmi berakhir, Nadya menerima sertifikat kelulusannya dan membuat sebuah keputusan.Brian berlari menghampiri, “Kak, nanti malam kita rayain, ya! Aku sudah pesan restorannya!”Nadya menggelengkan kepala, “Aku akan pergi besok.”Brian tercengang, “Pergi? Pergi ke mana?”“Menjadi dokter lintas batas.” Nadya memasukkan sertifikat itu ke dalam tasnya.Brian melompat kaget, “Kak, kamu sudah gila? Itu tempat perang! Peluru dan bom nggak punya mata, untuk apa kamu ke sana?”Nadya tak menjawab.Steve berjalan dari arah belakang, rupanya telah mendengar percakapan tadi. Keningnya berkerut, “Terlalu bahaya, aku nggak setuju.”“Aku nggak perlu meminta persetujuanmu.” Nadya menatapnya, “Ini pilihanku.”Steve menarik napas dalam-dalam, menahan emosinya, “Fasilitas medis di sana sangat buruk dan konflik bersenjata bisa meletus kapan saja. Kamu tahu berapa tingkat kematian dokter lintas batas?”“Tahu.”“Dan kamu masih mau pergi?”Nady

  • Pintu Hati Yang Terkunci   Bab 15

    Roni berjongkok di bawah gedung apartemen Nadya. Rokok di tangannya sudah terbakar sampai ke ujung, membakar ujung jarinya.Dia baru saja menutup telepon dari ibunya.“Lena sudah gila.” Shinta mengeluh di balik telepon, “Setelah dicampakkan dan dibuang begitu saja oleh pemuda kaya itu, sekarang dia ada di rumah sakit. Sepanjang hari berteriak aku istri Roni. Sungguh malapetaka.”Roni tak berbicara.“Dia memang menjebak Nadya, tapi tindakanmu padanya...” Shinta terdiam sejenak, “Ya sudahlah, jaga dirimu baik-baik.”Panggilan terputus.Roni mematikan puntung rokoknya, lalu menyalakan satu batang lagi.Gila?Dia teringat saat Lena berdiri di depannya memakai gaun putih, wajahnya yang sangat mirip dengan Nadya saat bermanja-manja, serta telepon yang terlewat olehnya di malam badai itu.Nadya yang berada di antara reruntuhan, demam, berdarah, meneleponnya untuk meminta bantuan.Lena menyembunyikannya, lalu merayunya, memancingnya untuk mengucapkan kata-kata yang tidak tulus, tapi sangat men

  • Pintu Hati Yang Terkunci   Bab 14

    Roni benar-benar tak pergi.Keesokan paginya, saat Nadya membuka pintu, Roni sudah berdiri di depan pintu sambil membawa sarapan.“Bubur daging, telur rebus dan kue,” katanya.“Tempat langgananmu dulu, aku minta koki mempelajarinya selama tiga bulan.”Nadya menatapnya sekilas, mengambil sarapan itu, lalu membuangnya ke dalam tong sampah tepat di hadapannya.“Ke depannya nggak perlu antar lagi.”Roni mengangguk pelan, tak berbicara.Sore harinya, saat Nadya pulang kerja, Roni sudah menunggu di depan pintu dengan jarak sepuluh langkah. Saat Nadya naik ke mobil, Roti ikut naik ke mobilnya. Begitu sampai di bawah gedung apartemen, dia juga ikut tiba di sana.Brian sedang berjongkok di depan pintu apartemen. Melihat pemandangan itu, dia langsung melompat berdiri, "Om, kamu itu penguntit, ya?"Roni sama sekali tidak memedulikannya. Dia mengeluarkan sekantong bahan makanan dari bagasi mobil, lalu langsung berjalan naik ke atas.Begitu Nadya membuka pintu, Roni mengekor di belakangnya, meletak

  • Pintu Hati Yang Terkunci   Bab 13

    Nadya membuka pintu apartemennya. Begitu melihat Roni berdiri di sana, reaksi pertamanya adalah langsung menutup pintu kembali.Roni menahannya dengan tangan. Pintu pun menghantam telapak tangannya dan menimbulkan suara dentuman yang teredam."Nadya, aku sudah mencarimu selama tiga bulan."Sudut matanya tampak memerah, dagunya ditumbuhi bayangan janggut tipis dan mantel yang dikenakannya sangat kusut. Roni yang dulu begitu anggun dan berwibawa telah lenyap. Yang berdiri di depan pintu saat ini hanyalah seorang pria yang tampak sangat malang dan menyedihkan.Nadya menatapnya dengan nada datar, “Untuk apa mencariku? Bukannya kamu sudah dapat surat cerainya?”“Aku menyesal.”“Itu urusanmu.” Dia mundur selangkah dan bersiap menutup pintu.Namun, Roni tetap menghadang di pintu dan menolak pergi.Keesokan paginya, saat Nadya membuka pintu, terdapat sarapan yang diletakkan di sana. Kopi panas, sandwich, serta secarik kertas bertuliskan [Aku sudah tahu salah].Nadya mengambilnya dan membuangny

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status