Compartir

Bab 4

Autor: Neon
Mendengar kata-kata Roni, reaksi pertama Nadya adalah berpikir bahwa pria ini sudah gila.

Dia menatapnya lekat-lekat, seolah ingin memastikan apakah pria itu cuma bercanda.

Roni masih merangkul Lena, senyum di wajahnya tak berkurang sedikit pun, “Kenapa, kamu nggak mau?”

Nadya membuka mulutnya, hampir saja berkata, “Kita bakal segera cerai, kamu nggak perlu melakukan hal seperti ini.”

Namun, kata-kata itu ditelan kembali olehnya.

Surat cerai belum ada di tangan. Kalau dia membuka kartu sekarang, dengan temperamen Roni, pria itu sanggup membalikkan seluruh kantor pengacara di Kota Holanda hanya untuk menggagalkan perceraian mereka.

Lena semakin menyandar ke dada Roni, suaranya terdengar lembut dan menyiratkan kecemasan.

“Tuan mau membuat Kak Nadya merasakan kehidupanku dulu? Tapi lingkungan di tempat tinggalku sangat buruk, mana sanggup orang berkelas seperti Kak Nadya menanggung pahitnya? Biarkan saja dia tetap tinggal di sini, aku nggak keberatan sama sekali.”

Roni menunduk lalu mencubit pelan pipi Lena, berucap dengan nada bergurau.

"Tenang saja, dia pasti tahan. Ayahnya itu penjudi berat, ibunya wanita penghibur. Dari awal latar belakang keluarganya memang nggak bersih-bersih amat."

Dia lalu menoleh menatap Nadya, dengan sebersit harapan tersembunyi di dasar matanya.

"Lagi pula, kalau dia memang nggak bisa terima, tinggal memohon padaku. Mana mungkin aku nggak menuruti kemauannya?"

Nadya paham maksudnya.

Tujuan Roni sebenarnya bukan untuk menghukumnya, melainkan untuk menjinakkannya.

Dengan tenang dan santai, Nadya mengangguk. "Baiklah, aku akan beres-beres barang."

Roni sempat terdiam. Ada rasa terkejut yang melintas di matanya, hingga akhirnya tergantikan oleh kejengkelan yang makin dalam.

Setengah jam kemudian, Nadya melangkah keluar rumah sambil membawa sebuah koper sederhana.

Mobil melaju melintasi Kota Holanda, hingga akhirnya berhenti di depan sebuah bangunan tua dan kumuh di Kawasan Nago.

Sebuah kontrakan di Kawasan Nago.

Lorongnya sempit, dindingnya terkelupas dan udara di sekitarnya pekan dengan bau lembab.

Isi ruangannya masih sama seperti dulu, bahkan ranjang besi yang selalu berdecit saat dinaiki itu pun belum diganti.

Nadya berdiri di ambang pintu, lalu tiba-tiba tersenyum tipis.

Dulu, demi menikah dengannya, Roni rela putus hubungan dengan keluarga dan tinggal bersamanya di sini selama tiga bulan.

Itu adalah masa-masa paling membahagiakan dalam hidupnya.

Saat itu, di mata Roni hanya ada dirinya seorang.

Dan saat itu, Nadya masih percaya bahwa cinta sejati bisa bertahan selamanya.

Dia meletakkan kopernya, berjalan mendekati jendela, lalu mendorong jendela berdebu itu hingga terbuka.

Dari lantai bawah terdengar suara pedagang yang menjajakan dagangan, gelak tawa anak-anak yang bermain, serta makian antar tetangga yang terasa begitu akrab.

Dia menarik napas dalam-dalam, merasa seolah-olah benar-benar kembali ke masa lalu.

Namun, bangunan tua di Kawasan Nago ini memang sudah sangat rapuh, sebaik apapun dirawat tetap tak sanggup menahan gempuran waktu.

Baru beberapa hari Nadya tinggal di sana, badai topan sudah menghantam Kota Holanda.

Di tengah malam saat dia baru saja berbaring, terdengar suara dentuman keras "Klang!". Jendela rumah jebol diterjang angin kencang, menyisakan pecahan kaca yang berserakan di lantai.

Tak lama kemudian terjadi konsleting listrik dan lampu pun padam seketika.

Dia meraba-raba dalam kegelapan mencari barang untuk menutupi jendela. Kakinya tak sengaja menapak pecahan kaca, membuatnya meringis kesakitan sambil menahan napas.

Angin dan hujan menerobos masuk, membuatnya goyah tak sanggup berdiri tegap hingga seluruh tubuhnya basah kuyup.

Di tengah malam, tubuhnya mulai demam.

Kepalanya terasa berat dan pusing, tubuhnya bergantian terasa dingin dan panas. Dia meringkuk di atas ranjang, kesadarannya perlahan-lahan makin kabur.

Di antara sadar dan mimpi, dia teringat kejadian tujuh tahun lalu. Di hari badai topan yang sama seperti ini, dia dan Roni meringkuk di ranjang yang sama. Pria itu memeluknya erat dengan tubuhnya sendiri, berbisik lembut, “Jangan takut, ada aku di sini.”

Dia reflek meraba-raba mencari ponsel, ingin menelepon Roni.

Sinyalnya terputus-putus, tapi setelah mencoba beberapa kali, akhirnya panggilan tersambung.

Namun, suara yang terdengar dari balik telepon membuat seluruh tubuhnya membeku.

Suara Lena terdengar begitu manja, “Tuan… pelan-pelan…”

Suara Roni menyahut dengan nada malas yang penuh kepuasan, “Kenapa?”

Lena bermanja, “Tadi kamu bilang, aku atau Kak Nadya yang lebih baik?”

Roni terkekeh, “Kamu lebih baik darinya.”

Lena masih bertanya, “Kenapa baik?”

“Dia terlalu berpura-pura, kaku dan nggak bisa lepas.” Suara Roni terdengar asal-asalan, “Kamu jauh lebih patuh dari dia, lebih pengertian dan lebih... pintar melayani.”

Setelah jeda sejenak, dia menambahkan satu kalimat lagi dengan nada yang menyiratkan sedikit penghinaan.

"Dia sudah menikmati kemewahan selama tujuh tahun di Keluarga Halim, sampai-sampai lupa dari mana asalnya. Biarkan saja dia tinggal di Kawasan Nago beberapa hari buat merasakan penderitaan, supaya dia tahu siapa yang sebenarnya baik sama dia."

Di luar jendela angin dan hujan masih mengamuk dahsyat. Tubuh Nadya panas membara dan lukanya masih meneteskan darah, tapi sisa-sisa kehangatan di dalam hatinya perlahan-lahan menjadi dingin.

Dia menertawakan betapa bodoh dirinya yang ternyata masih menyimpan harapan pada Roni.

Dia mematikan panggilan telepon itu. Di tengah kegelapan, dia meringkuk sendirian di atas ranjang, mendengarkan deru angin yang melolong di luar. Tak ada lagi air mata yang bisa menetes dari matanya.

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Pintu Hati Yang Terkunci   Bab 18

    Saat pesawat mendarat di Kota Holanda, Nadya memeluk guci abu itu dengan ujung jari yang kaku.Steve dan Brian berjalan di sebelah kanan dan kirinya, tak ada satu pun yang bersuara.Pintu keluar dipenuhi oleh kerumunan wartawan, lampu kilat kamera menembak ke arahnya tanpa henti.Ada yang berteriak, “Nona Nadya, lihat ke sini.”“Pak Roni benar-benar sudah meninggal?” Ada juga yang langsung menerjang ke depan mencoba menjangkau guci abu tersebut.Brian menghalangi lensa kamera, wajahnya tampak menyelimuti amarah, “Awas!”Steve menelepon seseorang dan tak lama kemudian petugas keamanan menerobos masuk membuka jalan untuk mereka.Nadya menundukkan kepala, memeluk guci abu itu semakin erat.Shinta sudah menunggu di dermaga.Sudah tiga hari wanita tua itu berdiri menunggunya di sana.Melihat Nadya turun dari mobil, dia melangkah sempoyongan menghampiri, menggenggam tangannya dengan air mata yang mengalir deras di wajahnya.“Nadya, dia... ada menyampaikan sesuatu di akhir hidupnya?”Nadya m

  • Pintu Hati Yang Terkunci   Bab 17

    Di larut malam Kota Buston, Roni duduk di dalam apartemen dengan layar komputer yang menyala terang.Email berhasil terkirim.Itu adalah email yang ke-367.Nadya tidak pernah membalas satu pun, tetapi pria itu tetap rutin mengirimnya setiap hari. Cerita tentang apa yang dia makan hari itu, siapa yang dia temui, hujan yang turun di Buston, hingga dedaunan di bawah gedung apartemen yang mulai memerah. Dia bertingkah persis seperti kakek-kakek yang cerewet.Ponselnya mendadak berdering.Suara Steve terdengar dari balik telepon, terdengar terburu-buru dan tertahan: "Pos medis dikepung, komunikasi terputus selama tiga hari. Sinyal terakhir ada di wilayah pegunungan perbatasan, setidaknya ada dua ratus anggota kelompok bersenjata."Roni langsung berdiri tersentak."Kirim koordinatnya padaku.""Aku sudah menghubungi pasukan keamanan swasta," kata Steve. "Brian sedang mengerahkan orang-orangnya, kita berangkat tiga jam lagi."Roni menutup telepon, memesan tiket pesawat dan mengemas barang-bara

  • Pintu Hati Yang Terkunci   Bab 16

    Pada hari saat studi pelatihan yang berlangsung selama satu tahun resmi berakhir, Nadya menerima sertifikat kelulusannya dan membuat sebuah keputusan.Brian berlari menghampiri, “Kak, nanti malam kita rayain, ya! Aku sudah pesan restorannya!”Nadya menggelengkan kepala, “Aku akan pergi besok.”Brian tercengang, “Pergi? Pergi ke mana?”“Menjadi dokter lintas batas.” Nadya memasukkan sertifikat itu ke dalam tasnya.Brian melompat kaget, “Kak, kamu sudah gila? Itu tempat perang! Peluru dan bom nggak punya mata, untuk apa kamu ke sana?”Nadya tak menjawab.Steve berjalan dari arah belakang, rupanya telah mendengar percakapan tadi. Keningnya berkerut, “Terlalu bahaya, aku nggak setuju.”“Aku nggak perlu meminta persetujuanmu.” Nadya menatapnya, “Ini pilihanku.”Steve menarik napas dalam-dalam, menahan emosinya, “Fasilitas medis di sana sangat buruk dan konflik bersenjata bisa meletus kapan saja. Kamu tahu berapa tingkat kematian dokter lintas batas?”“Tahu.”“Dan kamu masih mau pergi?”Nady

  • Pintu Hati Yang Terkunci   Bab 15

    Roni berjongkok di bawah gedung apartemen Nadya. Rokok di tangannya sudah terbakar sampai ke ujung, membakar ujung jarinya.Dia baru saja menutup telepon dari ibunya.“Lena sudah gila.” Shinta mengeluh di balik telepon, “Setelah dicampakkan dan dibuang begitu saja oleh pemuda kaya itu, sekarang dia ada di rumah sakit. Sepanjang hari berteriak aku istri Roni. Sungguh malapetaka.”Roni tak berbicara.“Dia memang menjebak Nadya, tapi tindakanmu padanya...” Shinta terdiam sejenak, “Ya sudahlah, jaga dirimu baik-baik.”Panggilan terputus.Roni mematikan puntung rokoknya, lalu menyalakan satu batang lagi.Gila?Dia teringat saat Lena berdiri di depannya memakai gaun putih, wajahnya yang sangat mirip dengan Nadya saat bermanja-manja, serta telepon yang terlewat olehnya di malam badai itu.Nadya yang berada di antara reruntuhan, demam, berdarah, meneleponnya untuk meminta bantuan.Lena menyembunyikannya, lalu merayunya, memancingnya untuk mengucapkan kata-kata yang tidak tulus, tapi sangat men

  • Pintu Hati Yang Terkunci   Bab 14

    Roni benar-benar tak pergi.Keesokan paginya, saat Nadya membuka pintu, Roni sudah berdiri di depan pintu sambil membawa sarapan.“Bubur daging, telur rebus dan kue,” katanya.“Tempat langgananmu dulu, aku minta koki mempelajarinya selama tiga bulan.”Nadya menatapnya sekilas, mengambil sarapan itu, lalu membuangnya ke dalam tong sampah tepat di hadapannya.“Ke depannya nggak perlu antar lagi.”Roni mengangguk pelan, tak berbicara.Sore harinya, saat Nadya pulang kerja, Roni sudah menunggu di depan pintu dengan jarak sepuluh langkah. Saat Nadya naik ke mobil, Roti ikut naik ke mobilnya. Begitu sampai di bawah gedung apartemen, dia juga ikut tiba di sana.Brian sedang berjongkok di depan pintu apartemen. Melihat pemandangan itu, dia langsung melompat berdiri, "Om, kamu itu penguntit, ya?"Roni sama sekali tidak memedulikannya. Dia mengeluarkan sekantong bahan makanan dari bagasi mobil, lalu langsung berjalan naik ke atas.Begitu Nadya membuka pintu, Roni mengekor di belakangnya, meletak

  • Pintu Hati Yang Terkunci   Bab 13

    Nadya membuka pintu apartemennya. Begitu melihat Roni berdiri di sana, reaksi pertamanya adalah langsung menutup pintu kembali.Roni menahannya dengan tangan. Pintu pun menghantam telapak tangannya dan menimbulkan suara dentuman yang teredam."Nadya, aku sudah mencarimu selama tiga bulan."Sudut matanya tampak memerah, dagunya ditumbuhi bayangan janggut tipis dan mantel yang dikenakannya sangat kusut. Roni yang dulu begitu anggun dan berwibawa telah lenyap. Yang berdiri di depan pintu saat ini hanyalah seorang pria yang tampak sangat malang dan menyedihkan.Nadya menatapnya dengan nada datar, “Untuk apa mencariku? Bukannya kamu sudah dapat surat cerainya?”“Aku menyesal.”“Itu urusanmu.” Dia mundur selangkah dan bersiap menutup pintu.Namun, Roni tetap menghadang di pintu dan menolak pergi.Keesokan paginya, saat Nadya membuka pintu, terdapat sarapan yang diletakkan di sana. Kopi panas, sandwich, serta secarik kertas bertuliskan [Aku sudah tahu salah].Nadya mengambilnya dan membuangny

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status