Compartir

Pintu Hati Yang Terkunci
Pintu Hati Yang Terkunci
Autor: Neon

Bab 1

Autor: Neon
Nadya menepuk tangan Liana dengan lembut, senyumannya samar.

“Memasak sendiri, selalu perhatian dan menanyakan kabar, memberimu semua yang kamu minta. Pria yang biasanya begitu berkuasa dan berada di atas segalanya, justru rela merendahkan dirinya demi dirimu. Aku bisa memahami perasaanmu. Dulu saat Roni mengejarku, dia bahkan memperlakukanku lebih baik darimu.”

Dia terdiam sejenak, lalu menghela napas.

“Saat tahu dia selingkuh, aku juga pernah menangis, membuat keributan dan bahkan mengajukan cerai. Dia bahkan berlutut selama seminggu dan berjaga di samping ranjang rumah sakitku sambil memohon agar kami kembali bersama.”

“Lalu apa hasilnya? Dia tetap terus berganti-ganti kekasih. Kamu bukan yang pertama dan Lena juga nggak akan jadi yang terakhir. Menyerahlah. Manfaatkan kesempatan ini untuk melepaskan diri. Setidaknya kamu masih bisa mendapatkan uang perpisahan yang cukup besar.”

Liana spontan membantah, “Aku nggak mengincar uangnya, perasaanku pada Roni benar-benar tulus...”

Namun, saat bertatapan dengan Nadya yang tenang dan seolah mampu melihat semuanya, dia merasa bersalah dan terdiam sambil mengalihkan pandangan.

Beberapa saat kemudian, dia menggertakkan gigi, “Aku mau 100 miliar, ditambah satu unit apartemen di tengah kota.”

Nadya tersenyum dan menyerahkan sebuah perjanjian rahasia padanya.

Liana menandatanganinya dan memasang ekspresi mengejek.

“Aku dengar Kak Nadya dulu juga menerima 100 miliar, makanya bersedia untuk nggak cerai. Selama bertahun-tahun ini, para kekasih Roni datang dan pergi silih berganti. Kamu yang hanya merupakan putri seorang penjudi berat dan wanita penghibur, malah bisa mengandalkan kasih sayangnya untuk tetap duduk stabil di posisi nyonya. Kamu pasti sangat bangga, ‘kan?”

Nadya menyimpan perjanjian itu, menundukkan kepala untuk menyembunyikan senyumannya dan menjawab pelan,

“Bagi Roni, aku juga nggak Istimewa. Aku hanya datang lebih dulu.”

Setelah meninggalkan rumah sakit, Nadya langsung kembali ke kediaman Keluarga Halim.

Baru saja melepas sepatu, sebuah dada yang panas sudah menempel di punggungnya.

Nadya berbalik dan mendongak.

Wajah Roni tampak begitu berwibawa, dengan raut puas setelah memuaskan hasratnya. Tangan besarnya melingkar di pinggang Nadya, sementara suaranya terdengar permintaan maaf yang acuh tak acuh.

“Liana benar-benar nggak tahu diri. Kali ini sampai membuat istriku repot mengurus semuanya. Aku pasti akan memberimu kompensasi.”

Nadya tak memberikan tanggapan.

Kompensasi dari Roni tak lebih dari perhiasan dan barang-barang mewah yang harganya selangit.

Seluruh Kota Holanda mengira dia bertahan di sisi Roni hanya demi uang.

Roni sendiri juga mengira dia benar-benar bisa memaafkan pengkhianatannya demi uang. Karena itulah, selama bertahun-tahun, Roni semakin berani berselingkuh dan memelihara kekasih tanpa sedikitpun usaha untuk menyembunyikannya.

“Meringankan beban suami sudah jadi kewajibanku sebagai nyonya, nggak perlu diberi kompensasi.”

Nadya menggeser tangan Roni dengan halus, lalu menyodorkan setumpuk dokumen.

“Tapi, Liana mau apartemen di tengah kota yang dulu pernah kalian tinggali bersama. Kontraknya sudah disiapkan, kamu tinggal tanda tangan saja.”

Tanpa melihat isinya, Roni meraih pena dan bertanda tangan dengan cepat.

Selesai menaruh pena, dia memanfaatkan kesempatan itu untuk kembali menggenggam pergelangan tangan Nadya dan menariknya mendekat.

“Kamu nggak penasaran, sebenarnya kompensasi apa yang mau kukasih padamu?”

Sebelum Nadya menjawab, Roni sudah menundukkan kepala sedikit. Ada nada penuh harapan yang samar dalam suaranya.

“Tujuh tahun menikah, sudah saatnya kita punya anak. Nadya, ayo lahirkan seorang ahli waris untukku.”

Mendengar itu, Nadya sempat terdiam.

Melahirkan seorang ahli waris berarti Roni berjanji untuk membagi seluru kekayaannya bersamanya.

Padahal, jika dulu dia tidak memergoki perselingkuhan Roni, anak pertama mereka mungkin sudah berumur lima tahun sekarang.

Dengan tatapan penuh arti, Nadya melirik bekas cupang yang ketara di leher pria itu. Dia menarik diri untuk memberi jarak, lalu bicara dengan nada kaku,

“Sudah malam, mandi dan istirahat dulu sana. Soal anak, nggak usah terburu-buru.”

Mengikuti arah pandangan Nadya, Roni baru menyadari jejak di tubuhnya sendiri. Dia mengeluh dengan pasrah.

“Lena itu mirip sekali dengan kamu yang dulu. Latar belakangnya susah, tapi sifatnya keras kepala, ditambah rasa obsesinya tinggi sekali sampai suka meninggalkan jejak di tubuhku. Nanti bakal kutegur biar dia bisa agak menahan diri.”

Dia mengusap lembut pipi Nadya, terkekeh dengan nada merayu.

“Istriku yang paling baik. Dewasa, tenang dan tahu menjaga harga diriku. Jarang-jarang bisa melihatmu cemburu lagi karenaku. Aku pergi mandi dulu, untuk menghilangkan aroma orang lain, ya?”

Sambil berkata demikian, dia berbalik dan berjalan ke lantai atas.

Nadya menghela napas pelan, “Nggak apa-apa, aku nggak keberatan.”

Roni sudah naik ke atas, tak tahu apakah dia mendengarnya atau tidak.

Namun, Nadya benar-benar tak keberatan.

Hari ini adalah terakhir kalinya dia membereskan kekacauan asmara Roni, sekaligus terakhir kalinya dia berperan sebagai nyonya yang anggun.

Sejak Roni mengulangi perselingkuhannya dulu, tak ada lagi rasa cinta yang tersisa di hatinya. Keputusannya meminta 100 miliar dan menolak bercerai waktu itu bukan karena menginginkan harta, melainkan demi mendatangkan fasilitas medis terbaik dari luar negeri untuk memperpanjang hidup neneknya yang sakit parah.

Namun, beberapa hari lalu, neneknya sudah berpulang. Alasan terakhirnya untuk bertahan di sisi Roni pun sudah sirna.

Nadya menunduk, menatap dokumen di atas meja yang baru saja ditandatangani oleh Roni. Sudut bibirnya terangkat, membentuk senyuman lega.

Di bawah tumpukan dokumen itu, tersembunyi sebuah surat perjanjian cerai.

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Pintu Hati Yang Terkunci   Bab 18

    Saat pesawat mendarat di Kota Holanda, Nadya memeluk guci abu itu dengan ujung jari yang kaku.Steve dan Brian berjalan di sebelah kanan dan kirinya, tak ada satu pun yang bersuara.Pintu keluar dipenuhi oleh kerumunan wartawan, lampu kilat kamera menembak ke arahnya tanpa henti.Ada yang berteriak, “Nona Nadya, lihat ke sini.”“Pak Roni benar-benar sudah meninggal?” Ada juga yang langsung menerjang ke depan mencoba menjangkau guci abu tersebut.Brian menghalangi lensa kamera, wajahnya tampak menyelimuti amarah, “Awas!”Steve menelepon seseorang dan tak lama kemudian petugas keamanan menerobos masuk membuka jalan untuk mereka.Nadya menundukkan kepala, memeluk guci abu itu semakin erat.Shinta sudah menunggu di dermaga.Sudah tiga hari wanita tua itu berdiri menunggunya di sana.Melihat Nadya turun dari mobil, dia melangkah sempoyongan menghampiri, menggenggam tangannya dengan air mata yang mengalir deras di wajahnya.“Nadya, dia... ada menyampaikan sesuatu di akhir hidupnya?”Nadya m

  • Pintu Hati Yang Terkunci   Bab 17

    Di larut malam Kota Buston, Roni duduk di dalam apartemen dengan layar komputer yang menyala terang.Email berhasil terkirim.Itu adalah email yang ke-367.Nadya tidak pernah membalas satu pun, tetapi pria itu tetap rutin mengirimnya setiap hari. Cerita tentang apa yang dia makan hari itu, siapa yang dia temui, hujan yang turun di Buston, hingga dedaunan di bawah gedung apartemen yang mulai memerah. Dia bertingkah persis seperti kakek-kakek yang cerewet.Ponselnya mendadak berdering.Suara Steve terdengar dari balik telepon, terdengar terburu-buru dan tertahan: "Pos medis dikepung, komunikasi terputus selama tiga hari. Sinyal terakhir ada di wilayah pegunungan perbatasan, setidaknya ada dua ratus anggota kelompok bersenjata."Roni langsung berdiri tersentak."Kirim koordinatnya padaku.""Aku sudah menghubungi pasukan keamanan swasta," kata Steve. "Brian sedang mengerahkan orang-orangnya, kita berangkat tiga jam lagi."Roni menutup telepon, memesan tiket pesawat dan mengemas barang-bara

  • Pintu Hati Yang Terkunci   Bab 16

    Pada hari saat studi pelatihan yang berlangsung selama satu tahun resmi berakhir, Nadya menerima sertifikat kelulusannya dan membuat sebuah keputusan.Brian berlari menghampiri, “Kak, nanti malam kita rayain, ya! Aku sudah pesan restorannya!”Nadya menggelengkan kepala, “Aku akan pergi besok.”Brian tercengang, “Pergi? Pergi ke mana?”“Menjadi dokter lintas batas.” Nadya memasukkan sertifikat itu ke dalam tasnya.Brian melompat kaget, “Kak, kamu sudah gila? Itu tempat perang! Peluru dan bom nggak punya mata, untuk apa kamu ke sana?”Nadya tak menjawab.Steve berjalan dari arah belakang, rupanya telah mendengar percakapan tadi. Keningnya berkerut, “Terlalu bahaya, aku nggak setuju.”“Aku nggak perlu meminta persetujuanmu.” Nadya menatapnya, “Ini pilihanku.”Steve menarik napas dalam-dalam, menahan emosinya, “Fasilitas medis di sana sangat buruk dan konflik bersenjata bisa meletus kapan saja. Kamu tahu berapa tingkat kematian dokter lintas batas?”“Tahu.”“Dan kamu masih mau pergi?”Nady

  • Pintu Hati Yang Terkunci   Bab 15

    Roni berjongkok di bawah gedung apartemen Nadya. Rokok di tangannya sudah terbakar sampai ke ujung, membakar ujung jarinya.Dia baru saja menutup telepon dari ibunya.“Lena sudah gila.” Shinta mengeluh di balik telepon, “Setelah dicampakkan dan dibuang begitu saja oleh pemuda kaya itu, sekarang dia ada di rumah sakit. Sepanjang hari berteriak aku istri Roni. Sungguh malapetaka.”Roni tak berbicara.“Dia memang menjebak Nadya, tapi tindakanmu padanya...” Shinta terdiam sejenak, “Ya sudahlah, jaga dirimu baik-baik.”Panggilan terputus.Roni mematikan puntung rokoknya, lalu menyalakan satu batang lagi.Gila?Dia teringat saat Lena berdiri di depannya memakai gaun putih, wajahnya yang sangat mirip dengan Nadya saat bermanja-manja, serta telepon yang terlewat olehnya di malam badai itu.Nadya yang berada di antara reruntuhan, demam, berdarah, meneleponnya untuk meminta bantuan.Lena menyembunyikannya, lalu merayunya, memancingnya untuk mengucapkan kata-kata yang tidak tulus, tapi sangat men

  • Pintu Hati Yang Terkunci   Bab 14

    Roni benar-benar tak pergi.Keesokan paginya, saat Nadya membuka pintu, Roni sudah berdiri di depan pintu sambil membawa sarapan.“Bubur daging, telur rebus dan kue,” katanya.“Tempat langgananmu dulu, aku minta koki mempelajarinya selama tiga bulan.”Nadya menatapnya sekilas, mengambil sarapan itu, lalu membuangnya ke dalam tong sampah tepat di hadapannya.“Ke depannya nggak perlu antar lagi.”Roni mengangguk pelan, tak berbicara.Sore harinya, saat Nadya pulang kerja, Roni sudah menunggu di depan pintu dengan jarak sepuluh langkah. Saat Nadya naik ke mobil, Roti ikut naik ke mobilnya. Begitu sampai di bawah gedung apartemen, dia juga ikut tiba di sana.Brian sedang berjongkok di depan pintu apartemen. Melihat pemandangan itu, dia langsung melompat berdiri, "Om, kamu itu penguntit, ya?"Roni sama sekali tidak memedulikannya. Dia mengeluarkan sekantong bahan makanan dari bagasi mobil, lalu langsung berjalan naik ke atas.Begitu Nadya membuka pintu, Roni mengekor di belakangnya, meletak

  • Pintu Hati Yang Terkunci   Bab 13

    Nadya membuka pintu apartemennya. Begitu melihat Roni berdiri di sana, reaksi pertamanya adalah langsung menutup pintu kembali.Roni menahannya dengan tangan. Pintu pun menghantam telapak tangannya dan menimbulkan suara dentuman yang teredam."Nadya, aku sudah mencarimu selama tiga bulan."Sudut matanya tampak memerah, dagunya ditumbuhi bayangan janggut tipis dan mantel yang dikenakannya sangat kusut. Roni yang dulu begitu anggun dan berwibawa telah lenyap. Yang berdiri di depan pintu saat ini hanyalah seorang pria yang tampak sangat malang dan menyedihkan.Nadya menatapnya dengan nada datar, “Untuk apa mencariku? Bukannya kamu sudah dapat surat cerainya?”“Aku menyesal.”“Itu urusanmu.” Dia mundur selangkah dan bersiap menutup pintu.Namun, Roni tetap menghadang di pintu dan menolak pergi.Keesokan paginya, saat Nadya membuka pintu, terdapat sarapan yang diletakkan di sana. Kopi panas, sandwich, serta secarik kertas bertuliskan [Aku sudah tahu salah].Nadya mengambilnya dan membuangny

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status