Compartir

Bab 3

Autor: Neon
Nadya bergegas menyembunyikan obat itu ke belakang tubuhnya, bersikap seolah tak terjadi apa-apa, “Hanya vitamin.”

“Vitamin?”

Roni terkekeh sinis. Dia melangkah mendekat, merampas obat itu dari tangannya. Saat membaca tulisan di kemasan, sorot matanya jadi menajam.

“Nadya, kamu selalu minum obat kb selama ini?”

Suaranya sangat rendah, menyiratkan amarah luar biasa karena merasa dibohongi.

“Kamu nggak berniat untuk melahirkan anak denganku, ‘kan?”

Nadya menunduk, menjawab dengan nada datar, “Kondisiku belum pulih sepenuhnya…”

“Cukup!”

Roni membanting kotak obat itu ke lantai hingga butiran tabletnya berserakan di mana-mana.

Melihat raut wajah Nadya yang tetap tenang dan berjarak, rasa amarah membakar kepalanya, menyisakan kepanikan samar yang mendadak muncul di dalam dada.

Rasanya seolah sosok kekasih yang dulu pernah tertawa, menangis dan cemburu demi dirinya telah benar-benar lenyap tak berbekas.

“Bagus!” Roni menggeram, menatapnya dengan dingin, “Nadya, kamu bakal menyesal.”

Usai bicara, Roni langsung berbalik dan membanting pintu kamar hingga tertutup keras. Suara dentumannya begitu kencang sampai memicu getaran di dalam dada.

Nadya masih berdiri di tempatnya tanpa bergerak sedikitpun. Tak ada riak emosi apapun di dasar matanya.

Sebenarnya, dia sudah menyesal sejak awal. Menyesal pernah mengenal Roni dan jauh lebih menyesal pernah menyerahkan seluruh hatinya padanya.

Begitu fajar menyingsing, Nadya turun ke lantai bawah untuk sarapan.

Karena Roni tidak suka ada orang luar di rumah, para asisten rumah tangga dan pelayan Keluarga Halim baru datang berkerja di siang hari.

Seperti biasa, Nadya mengarahkan para pelayan untuk membersihkan rumah dan merapikan tanaman di taman. Tapi dirinya menolak semua undangan bermain kartu dan acara minum teh.

Bibi Sumi, si kepala pelayan mendengarkan di samping dengan raut wajah bingung.

“Nyonya, acara kumpul-kumpul seperti ini ikut berpengaruh ke kerja sama proyek Tuan. Kenapa ditolak semua?”

“Mulai sekarang aku nggak akan datang lagi.” Nadya menutup buku agendanya, lalu berkata dengan tenang, “Lalu Bibi Sumi, ada beberapa hal yang mau aku titipkan.”

Nadya mulai merincikan satu per satu.

Kemeja Roni harus dicuci memakai detergen merek apa, seberapa panas kopi yang minta disajikan setiap pagi, di mana letak resep sup pereda mabuk kalau dia pulang dari acara minum-minum, hingga obat alergi apa yang harus disiapkan setiap kali berganti musim…

Semakin mendengar rincian itu, Bibi Sumi makin merasa ada yang tidak beres. Dia tidak tahan untuk menyela, “Nyonya, Tuan selalu minta Nyonya sendiri yang urus untuk hal-hal seperti ini dan melarang kami menyentuhnya. Nyonya sebenarnya...”

Nadya tersenyum tipis.

“Sebentar lagi aku sudah bukan nyonya lagi. Hal-hal ini kedepannya ingatkan Roni untuk dikerjakan sendiri atau ajarkan saja ke nyonya yang baru nanti.”

Seketika, wajah Bibi Sumi langsung berubah. Baru saja hendak menimpali, tiba-tiba terdengar suara deru mesin mobil dari luar gerbang.

Tak lama kemudian, Roni berjalan masuk sambil merangkul seorang gadis muda.

Nadya mendongak menatap mereka dan sempat terdiam sejenak.

Ternyata, ucapan Roni yang bilang kalau Lena mirip dengannya sama sekali tak berlebihan.

Gadis itu berpakaian polos dengan pembawaan yang dingin dan keras kepala, sangat mirip dengan dirinya saat masih kuliah dulu. Masa ketika sudut-sudut tajam dalam dirinya belum terkikis oleh keadaan.

Terutama cara mata gadis itu menatap Roni, seolah menghidupkan kembali seluruh rasa kagum dan pemujaan yang pernah Nadya miliki dulu.

Menyadari Nadya yang sempat melamun, senyum di sudut bibir Roni makin mengembang.

“Ini Lena. Mulai hari ini, dia bakal tinggal di sini.” Roni mengumumkannya pada semua orang, lalu memberi penekanan khusus pada para pelayan, “Kalian harus menghormati Nona Lena sama seperti menghormati Nyonya.”

Meski simpanan Roni ada di mana-mana, ini pertama kalinya dia membawa masuk seorang wanita untuk tinggal di kediaman Keluarga Halim.

Para pelayan saling pandang dengan tatapan cemas dan tidak percaya. Apa Nyonya di Keluarga Halim benar-benar mau berganti orang?

Namun Nadya bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Dia memberi perintah santai pada Bibi Sumi,

“Pergi siapkan kamar di sebelah ruangan Tuan untuk Nona Lena.”

“Tunggu.”

Seketika, raut wajah Roni memuram. Dia menghentikan Bibi Sumi, lalu berjalan mendekat ke hadapan Nadya.

Dia menghela napas panjang dengan nada memanjakan yang terkesan terpaksa, tak ada kehangatan di dasar matanya.

“Nadya, kau benar-benar mencintaimu. Kalau kamu memang nggak mau melahirkan anak, aku juga nggak akan memaksamu lagi.”

Dia berhenti sejenak, lalu semakin mempererat rangkulannya pada Lena.

“Kebetulan, Lena rela melahirkan anak untukku. Dia mirip denganmu, anak yang dilahirkan nanti juga pasti mirip denganmu. Begitu lahir, anak itu bakal dianggap anakmu.”

“Hanya kasihan pada Lena, dia mencintaiku tanpa menuntut status apapun. Anak itu juga nggak bakal memanggilnya ibu. Jadi untuk sementara waktu, aku mau kamu dan dia bertukar posisi.”

Nadya mengerutkan kening, “Apa maksudnya?”

Roni tersenyum penuh makna, “Maksudku, Lena yang bakal jadi nyonya dan kamu pindah keluar dari sini untuk jadi simpananku.”

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Pintu Hati Yang Terkunci   Bab 18

    Saat pesawat mendarat di Kota Holanda, Nadya memeluk guci abu itu dengan ujung jari yang kaku.Steve dan Brian berjalan di sebelah kanan dan kirinya, tak ada satu pun yang bersuara.Pintu keluar dipenuhi oleh kerumunan wartawan, lampu kilat kamera menembak ke arahnya tanpa henti.Ada yang berteriak, “Nona Nadya, lihat ke sini.”“Pak Roni benar-benar sudah meninggal?” Ada juga yang langsung menerjang ke depan mencoba menjangkau guci abu tersebut.Brian menghalangi lensa kamera, wajahnya tampak menyelimuti amarah, “Awas!”Steve menelepon seseorang dan tak lama kemudian petugas keamanan menerobos masuk membuka jalan untuk mereka.Nadya menundukkan kepala, memeluk guci abu itu semakin erat.Shinta sudah menunggu di dermaga.Sudah tiga hari wanita tua itu berdiri menunggunya di sana.Melihat Nadya turun dari mobil, dia melangkah sempoyongan menghampiri, menggenggam tangannya dengan air mata yang mengalir deras di wajahnya.“Nadya, dia... ada menyampaikan sesuatu di akhir hidupnya?”Nadya m

  • Pintu Hati Yang Terkunci   Bab 17

    Di larut malam Kota Buston, Roni duduk di dalam apartemen dengan layar komputer yang menyala terang.Email berhasil terkirim.Itu adalah email yang ke-367.Nadya tidak pernah membalas satu pun, tetapi pria itu tetap rutin mengirimnya setiap hari. Cerita tentang apa yang dia makan hari itu, siapa yang dia temui, hujan yang turun di Buston, hingga dedaunan di bawah gedung apartemen yang mulai memerah. Dia bertingkah persis seperti kakek-kakek yang cerewet.Ponselnya mendadak berdering.Suara Steve terdengar dari balik telepon, terdengar terburu-buru dan tertahan: "Pos medis dikepung, komunikasi terputus selama tiga hari. Sinyal terakhir ada di wilayah pegunungan perbatasan, setidaknya ada dua ratus anggota kelompok bersenjata."Roni langsung berdiri tersentak."Kirim koordinatnya padaku.""Aku sudah menghubungi pasukan keamanan swasta," kata Steve. "Brian sedang mengerahkan orang-orangnya, kita berangkat tiga jam lagi."Roni menutup telepon, memesan tiket pesawat dan mengemas barang-bara

  • Pintu Hati Yang Terkunci   Bab 16

    Pada hari saat studi pelatihan yang berlangsung selama satu tahun resmi berakhir, Nadya menerima sertifikat kelulusannya dan membuat sebuah keputusan.Brian berlari menghampiri, “Kak, nanti malam kita rayain, ya! Aku sudah pesan restorannya!”Nadya menggelengkan kepala, “Aku akan pergi besok.”Brian tercengang, “Pergi? Pergi ke mana?”“Menjadi dokter lintas batas.” Nadya memasukkan sertifikat itu ke dalam tasnya.Brian melompat kaget, “Kak, kamu sudah gila? Itu tempat perang! Peluru dan bom nggak punya mata, untuk apa kamu ke sana?”Nadya tak menjawab.Steve berjalan dari arah belakang, rupanya telah mendengar percakapan tadi. Keningnya berkerut, “Terlalu bahaya, aku nggak setuju.”“Aku nggak perlu meminta persetujuanmu.” Nadya menatapnya, “Ini pilihanku.”Steve menarik napas dalam-dalam, menahan emosinya, “Fasilitas medis di sana sangat buruk dan konflik bersenjata bisa meletus kapan saja. Kamu tahu berapa tingkat kematian dokter lintas batas?”“Tahu.”“Dan kamu masih mau pergi?”Nady

  • Pintu Hati Yang Terkunci   Bab 15

    Roni berjongkok di bawah gedung apartemen Nadya. Rokok di tangannya sudah terbakar sampai ke ujung, membakar ujung jarinya.Dia baru saja menutup telepon dari ibunya.“Lena sudah gila.” Shinta mengeluh di balik telepon, “Setelah dicampakkan dan dibuang begitu saja oleh pemuda kaya itu, sekarang dia ada di rumah sakit. Sepanjang hari berteriak aku istri Roni. Sungguh malapetaka.”Roni tak berbicara.“Dia memang menjebak Nadya, tapi tindakanmu padanya...” Shinta terdiam sejenak, “Ya sudahlah, jaga dirimu baik-baik.”Panggilan terputus.Roni mematikan puntung rokoknya, lalu menyalakan satu batang lagi.Gila?Dia teringat saat Lena berdiri di depannya memakai gaun putih, wajahnya yang sangat mirip dengan Nadya saat bermanja-manja, serta telepon yang terlewat olehnya di malam badai itu.Nadya yang berada di antara reruntuhan, demam, berdarah, meneleponnya untuk meminta bantuan.Lena menyembunyikannya, lalu merayunya, memancingnya untuk mengucapkan kata-kata yang tidak tulus, tapi sangat men

  • Pintu Hati Yang Terkunci   Bab 14

    Roni benar-benar tak pergi.Keesokan paginya, saat Nadya membuka pintu, Roni sudah berdiri di depan pintu sambil membawa sarapan.“Bubur daging, telur rebus dan kue,” katanya.“Tempat langgananmu dulu, aku minta koki mempelajarinya selama tiga bulan.”Nadya menatapnya sekilas, mengambil sarapan itu, lalu membuangnya ke dalam tong sampah tepat di hadapannya.“Ke depannya nggak perlu antar lagi.”Roni mengangguk pelan, tak berbicara.Sore harinya, saat Nadya pulang kerja, Roni sudah menunggu di depan pintu dengan jarak sepuluh langkah. Saat Nadya naik ke mobil, Roti ikut naik ke mobilnya. Begitu sampai di bawah gedung apartemen, dia juga ikut tiba di sana.Brian sedang berjongkok di depan pintu apartemen. Melihat pemandangan itu, dia langsung melompat berdiri, "Om, kamu itu penguntit, ya?"Roni sama sekali tidak memedulikannya. Dia mengeluarkan sekantong bahan makanan dari bagasi mobil, lalu langsung berjalan naik ke atas.Begitu Nadya membuka pintu, Roni mengekor di belakangnya, meletak

  • Pintu Hati Yang Terkunci   Bab 13

    Nadya membuka pintu apartemennya. Begitu melihat Roni berdiri di sana, reaksi pertamanya adalah langsung menutup pintu kembali.Roni menahannya dengan tangan. Pintu pun menghantam telapak tangannya dan menimbulkan suara dentuman yang teredam."Nadya, aku sudah mencarimu selama tiga bulan."Sudut matanya tampak memerah, dagunya ditumbuhi bayangan janggut tipis dan mantel yang dikenakannya sangat kusut. Roni yang dulu begitu anggun dan berwibawa telah lenyap. Yang berdiri di depan pintu saat ini hanyalah seorang pria yang tampak sangat malang dan menyedihkan.Nadya menatapnya dengan nada datar, “Untuk apa mencariku? Bukannya kamu sudah dapat surat cerainya?”“Aku menyesal.”“Itu urusanmu.” Dia mundur selangkah dan bersiap menutup pintu.Namun, Roni tetap menghadang di pintu dan menolak pergi.Keesokan paginya, saat Nadya membuka pintu, terdapat sarapan yang diletakkan di sana. Kopi panas, sandwich, serta secarik kertas bertuliskan [Aku sudah tahu salah].Nadya mengambilnya dan membuangny

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status