Compartir

Bab 2

Autor: Neon
Suara kucuran air dari kamar mandi terdengar deras, menyamarkan segala kedamaian dan kebisingan di dalam maupun luar ruangan.

Nadya melangkah pelan melewati koridor, lalu masuk ke dalam ruang kerja.

Demi menghindari hal-hal yang tidak diinginkan jika menunda terlalu lama, dia memindai surat perjanjian perceraian tersebut, mengirimkannya ke email pengacara, lalu secara khusus menelepon Shinta, ibunya Roni.

Saat ini, Shinta sedang bermain kartu dengan beberapa teman amanya. Saat menerima teleponnya, nadanya terdengar agak kasar.

“Nadya? Ada apa? Cepat bilang.”

Nadya memelankan nada bicaranya, suaranya terdengar datar tanpa emosi.

“Aku sudah menipu Roni untuk tanda tangan surat cerainya. Aku cerai tanpa mendapat sepeser harta. Mohon bantuanmu untuk merahasiakannya dan segera proses cerainya.”

“Kamu benar-benar sudah memikirkannya matang-matang?”

Shinta terkejut. Dia terdiam beberapa detik, lalu menghela napas panjang.

“Dulu aku mempermasalahkan latar belakangmu yang nggak jelas dan melarangmu masuk ke keluarga ini. Roni bahkan rela putus hubungan dengan keluarga dan kabur menyewa kontrakan sempit di Kawasan Nago hanya demi menikahimu sampai bikin heboh seisi kota.”

“Pada akhirnya setelah kamu berlutut tiga hari tiga malam di depan kuil dan lulus ujian dariku, kalian baru bisa bersama.”

“Masa-masa tersulit seperti itu saja berhasil kamu lewati. Sekarang hidup enak jadi nyonya kaya raya, nggak enak? Kalau kamu keberatan soal Roni yang memelihara wanita, aku pikir kamu sudah paham dari dulu. Kekayaan dan kemewahan itu jauh lebih penting daripada sekadar cinta. Lagipula, hanya kamu satu-satunya istri sah yang diakui Roni.”

Nadya menundukkan pandangannya, tersenyum getir.

“Tapi dulu saat menikah dengan Roni, yang kuharapkan hanya ungkapan cinta darinya. Setelah pernah mendapatkan ketulusan itu, aku malah semakin tak bisa menerima pengkhianatannya.”

“Apalagi nyonya Keluarga Halim nggak punya karir sendiri. Aku lulus sebagai lulusan terbaik dari fakultas kedokteran Universitas Holanda bukan untuk berakhir jadi pajangan mahal dan sekadar istri yang patuh untuk Roni.”

Karena semua sudah disampaikan, Shinta tidak membujuknya lagi. Dia hanya mendesah pelan.

“Baiklah, aku setuju.”

“Terima kasih,” ucap Nadya penuh terima kasih. Ada nada lega yang sudah lama tak ada dalam suaranya, “Begitu surat cerainya keluar, aku akan pergi ke Emrik untuk melanjutkan studi dan nggak akan pernah kembali lagi.”

Baru saja kalimat itu terucap, mendadak terdengar langkah kaki ringan dari arah belakangnya.

Jantungnya seketika berdegup kencang. Nadya terburu-buru mematikan telepon.

Saat berbalik, Roni sudah berdiri tepat di belakangnya. Baju tidur hitamnya terikat longgar di pinggang, sementara sisa titik-titik air menetes dari garis rahangnya.

Tatapannya tampak dalam, “Sudah larut malam begini, lagi telepon dengan siapa?”

“Nggak ada.” Nadya menyembunyikan ponselnya tanpa menunjukkan gelagat aneh, lalu tersenyum tipis, “Hanya bahas beberapa pengaturannya untuk besok dengan pembantu.”

Roni tidak menaruh curiga. Dia mengulurkan tangan melingkari pinggang Nadya. Mengurungnya ke dalam hembusan napas yang hangat.

Hasrat yang begitu pekat bergetar di dasar matanya. Dia menunduk dan mengecup keningnya dengan nada suara yang lembut dan dominan.

“Katanya mau melahirkan ahli waris buatku? Disimpan dong suaranya, biar nanti bisa mendesah buat suamimu di atas ranjang.”

Tubuh Nadya mendadak agak kaku.

Dia pikir ucapan soal punya anak itu hanya omong kosong Roni, tidak disangka ternyata pria itu serius.

Detik berikutnya, dirinya sudah digendong oleh Roni dan berjalan ke kamar tidur.

Ranjang besar itu amblas. Pria itu menindihnya dari atas, membawa deru napas hangat yang menyelimutinya.

Roni seolah-olah kembali menemukan gairah membara seperti masa-masa percintaan mereka dulu, memeluknya tanpa henti.

Namun, semakin tidak ada jarak di antara tubuh mereka, hati Nadya malah terasa semakin dingin.

Dia benar-benar tidak paham. Bagaimana bisa siang hari Roni bermesraan dengan selingkuhannya, lalu di malam hari bersikap begitu mendalam sekaligus penuh nafsu di hadapan istrinya sendiri?

Cinta yang begitu konyol dan palsu.

Dini hari, Nadya beranjak pelan dari ranjang dan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Kemudian, dia mengambil kotak obat putih dari laci paling bawah, lalu menelannya bersama seteguk air dingin.

Anak pertama sekaligus satu-satunya yang pernah ada di antara dirinya dan Roni tewas dengan cara yang mengenaskan.

Hari itu dia baru saja selesai pemeriksaan kandungan. Janin yang menginjak usia enam bulan itu untuk pertama kalinya terdeteksi detak jantungnya. Dia sengaja pergi ke kantor Roni untuk membagikan kabar bahagia itu secara langsung, tapi malah memergoki pria itu sedang memadu kasih dengan sekretarisnya di dalam ruangan.

Detak jantung bayi di kandungannya langsung berhenti berdetak saat itu juga, bahkan tanpa sempat mendapat penanganan medis.

Setelah kejadian itu, dia tidak pernah bisa hamil lagi. Dia berbohong pada Roni kalau kondisinya belum pulih dari keguguran pertama, padahal kenyataannya hatinya yang sudah terlanjur dingin dan tubuhnya secara alami menolak untuk mengandung.

Kadang jika Roni mengeluarkannya terlalu banyak di dalam, dia akan meminum obat kontrasepsi demi keamanan tambahan.

Perceraian sudah di depan mata, dia tidak boleh sampai hamil sekarang.

Mendadak terdengar suara pintu yang terbuka dari belakang.

Tangan Nadya terhenti seketika, dia langsung segera menoleh.

Roni berdiri di depan pintu. Wajahnya tampak muram menakutkan, dengan tatapan tajam yang terkunci mati pada kotak obat di tangannya.

“Nadya, kamu lagi makan apa?”

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Pintu Hati Yang Terkunci   Bab 18

    Saat pesawat mendarat di Kota Holanda, Nadya memeluk guci abu itu dengan ujung jari yang kaku.Steve dan Brian berjalan di sebelah kanan dan kirinya, tak ada satu pun yang bersuara.Pintu keluar dipenuhi oleh kerumunan wartawan, lampu kilat kamera menembak ke arahnya tanpa henti.Ada yang berteriak, “Nona Nadya, lihat ke sini.”“Pak Roni benar-benar sudah meninggal?” Ada juga yang langsung menerjang ke depan mencoba menjangkau guci abu tersebut.Brian menghalangi lensa kamera, wajahnya tampak menyelimuti amarah, “Awas!”Steve menelepon seseorang dan tak lama kemudian petugas keamanan menerobos masuk membuka jalan untuk mereka.Nadya menundukkan kepala, memeluk guci abu itu semakin erat.Shinta sudah menunggu di dermaga.Sudah tiga hari wanita tua itu berdiri menunggunya di sana.Melihat Nadya turun dari mobil, dia melangkah sempoyongan menghampiri, menggenggam tangannya dengan air mata yang mengalir deras di wajahnya.“Nadya, dia... ada menyampaikan sesuatu di akhir hidupnya?”Nadya m

  • Pintu Hati Yang Terkunci   Bab 17

    Di larut malam Kota Buston, Roni duduk di dalam apartemen dengan layar komputer yang menyala terang.Email berhasil terkirim.Itu adalah email yang ke-367.Nadya tidak pernah membalas satu pun, tetapi pria itu tetap rutin mengirimnya setiap hari. Cerita tentang apa yang dia makan hari itu, siapa yang dia temui, hujan yang turun di Buston, hingga dedaunan di bawah gedung apartemen yang mulai memerah. Dia bertingkah persis seperti kakek-kakek yang cerewet.Ponselnya mendadak berdering.Suara Steve terdengar dari balik telepon, terdengar terburu-buru dan tertahan: "Pos medis dikepung, komunikasi terputus selama tiga hari. Sinyal terakhir ada di wilayah pegunungan perbatasan, setidaknya ada dua ratus anggota kelompok bersenjata."Roni langsung berdiri tersentak."Kirim koordinatnya padaku.""Aku sudah menghubungi pasukan keamanan swasta," kata Steve. "Brian sedang mengerahkan orang-orangnya, kita berangkat tiga jam lagi."Roni menutup telepon, memesan tiket pesawat dan mengemas barang-bara

  • Pintu Hati Yang Terkunci   Bab 16

    Pada hari saat studi pelatihan yang berlangsung selama satu tahun resmi berakhir, Nadya menerima sertifikat kelulusannya dan membuat sebuah keputusan.Brian berlari menghampiri, “Kak, nanti malam kita rayain, ya! Aku sudah pesan restorannya!”Nadya menggelengkan kepala, “Aku akan pergi besok.”Brian tercengang, “Pergi? Pergi ke mana?”“Menjadi dokter lintas batas.” Nadya memasukkan sertifikat itu ke dalam tasnya.Brian melompat kaget, “Kak, kamu sudah gila? Itu tempat perang! Peluru dan bom nggak punya mata, untuk apa kamu ke sana?”Nadya tak menjawab.Steve berjalan dari arah belakang, rupanya telah mendengar percakapan tadi. Keningnya berkerut, “Terlalu bahaya, aku nggak setuju.”“Aku nggak perlu meminta persetujuanmu.” Nadya menatapnya, “Ini pilihanku.”Steve menarik napas dalam-dalam, menahan emosinya, “Fasilitas medis di sana sangat buruk dan konflik bersenjata bisa meletus kapan saja. Kamu tahu berapa tingkat kematian dokter lintas batas?”“Tahu.”“Dan kamu masih mau pergi?”Nady

  • Pintu Hati Yang Terkunci   Bab 15

    Roni berjongkok di bawah gedung apartemen Nadya. Rokok di tangannya sudah terbakar sampai ke ujung, membakar ujung jarinya.Dia baru saja menutup telepon dari ibunya.“Lena sudah gila.” Shinta mengeluh di balik telepon, “Setelah dicampakkan dan dibuang begitu saja oleh pemuda kaya itu, sekarang dia ada di rumah sakit. Sepanjang hari berteriak aku istri Roni. Sungguh malapetaka.”Roni tak berbicara.“Dia memang menjebak Nadya, tapi tindakanmu padanya...” Shinta terdiam sejenak, “Ya sudahlah, jaga dirimu baik-baik.”Panggilan terputus.Roni mematikan puntung rokoknya, lalu menyalakan satu batang lagi.Gila?Dia teringat saat Lena berdiri di depannya memakai gaun putih, wajahnya yang sangat mirip dengan Nadya saat bermanja-manja, serta telepon yang terlewat olehnya di malam badai itu.Nadya yang berada di antara reruntuhan, demam, berdarah, meneleponnya untuk meminta bantuan.Lena menyembunyikannya, lalu merayunya, memancingnya untuk mengucapkan kata-kata yang tidak tulus, tapi sangat men

  • Pintu Hati Yang Terkunci   Bab 14

    Roni benar-benar tak pergi.Keesokan paginya, saat Nadya membuka pintu, Roni sudah berdiri di depan pintu sambil membawa sarapan.“Bubur daging, telur rebus dan kue,” katanya.“Tempat langgananmu dulu, aku minta koki mempelajarinya selama tiga bulan.”Nadya menatapnya sekilas, mengambil sarapan itu, lalu membuangnya ke dalam tong sampah tepat di hadapannya.“Ke depannya nggak perlu antar lagi.”Roni mengangguk pelan, tak berbicara.Sore harinya, saat Nadya pulang kerja, Roni sudah menunggu di depan pintu dengan jarak sepuluh langkah. Saat Nadya naik ke mobil, Roti ikut naik ke mobilnya. Begitu sampai di bawah gedung apartemen, dia juga ikut tiba di sana.Brian sedang berjongkok di depan pintu apartemen. Melihat pemandangan itu, dia langsung melompat berdiri, "Om, kamu itu penguntit, ya?"Roni sama sekali tidak memedulikannya. Dia mengeluarkan sekantong bahan makanan dari bagasi mobil, lalu langsung berjalan naik ke atas.Begitu Nadya membuka pintu, Roni mengekor di belakangnya, meletak

  • Pintu Hati Yang Terkunci   Bab 13

    Nadya membuka pintu apartemennya. Begitu melihat Roni berdiri di sana, reaksi pertamanya adalah langsung menutup pintu kembali.Roni menahannya dengan tangan. Pintu pun menghantam telapak tangannya dan menimbulkan suara dentuman yang teredam."Nadya, aku sudah mencarimu selama tiga bulan."Sudut matanya tampak memerah, dagunya ditumbuhi bayangan janggut tipis dan mantel yang dikenakannya sangat kusut. Roni yang dulu begitu anggun dan berwibawa telah lenyap. Yang berdiri di depan pintu saat ini hanyalah seorang pria yang tampak sangat malang dan menyedihkan.Nadya menatapnya dengan nada datar, “Untuk apa mencariku? Bukannya kamu sudah dapat surat cerainya?”“Aku menyesal.”“Itu urusanmu.” Dia mundur selangkah dan bersiap menutup pintu.Namun, Roni tetap menghadang di pintu dan menolak pergi.Keesokan paginya, saat Nadya membuka pintu, terdapat sarapan yang diletakkan di sana. Kopi panas, sandwich, serta secarik kertas bertuliskan [Aku sudah tahu salah].Nadya mengambilnya dan membuangny

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status