Tanpa memberikan porsi waktu sepatah kata pun pada Dr. Aris untuk membalas dari seberang telepon, Daren menggeser ikon merah di layar ponselnya. Pria itu menyudahi sambungan panggilan secara sepihak, lalu melempar ponsel canggih tersebut begitu saja ke atas kasur busa yang tebal."Tidak," pangkas Daren dengan suara berat dan dingin yang menolak mentah-mentah.Zea tersentak pelan di tempat duduknya, tatapannya menyiratkan rasa tak percaya. "Daren, tapi ini demi keselamatan Papa dan Mama.""Aku bilang tidak, Zea," potong Daren cepat. Sepasang matanya menancap lurus, memancarkan ketegasan mutlak yang sulit ditembus. "Kita sudah pernah memperdebatkan masalah pengambilan darah ini sebelumnya, dan saat itu aku mengalah padamu. Tapi untuk kali ini, tidak ada negosiasi atau perdebatan lagi. Kau yang menurut padaku.""Daren, dengarkan aku dulu sebentar," Zea mulai merengek halus, jemari lenturnya bergerak cepat meremas pergelangan tangan kekar suaminya yang masih tegang. "Kondisi Papa dan Ma
ปรับปรุงล่าสุด : 2026-10-12 อ่านเพิ่มเติม