Daren berdiri tegak di tengah ruang kerjanya yang sepi. Jemarinya mencengkeram ponsel hitam di telinganya dengan amat erat. Garis rahangnya mengeras, menahan letupan amarah yang siap meledak kapan saja."Halo..." sapa Daren dengan nada rendah dan berat.Di ujung sambungan telepon, suara William menyahut tenang namun sarat ketegasan. "Ada apa, Daren?""Papa masih bisa bertanya ada apa?" tembak Daren seketika, tidak memberi celah sedikit pun untuk basa-basi. "Bukankah sudah kukatakan bahwa aku tidak setuju dengan rencana Papa? Mengapa Papa malah langsung mengirim wanita itu ke rumah kami tanpa persetujuan dariku?""Daren, dengarkan Papa dulu," sela William dengan intonasi datar di seberang sana."Gara-gara keputusan sepihak Papa, Zea jadi marah besar padaku," potong Daren lagi, napasnya terdengar memburu. "Dia mengira wanita bernama Fida itu adalah selingkuhanku. Papa membuat situasi rumah tanggaku kacau balau dalam semalam."William mendengus pelan di ujung telepon, mencoba menenangk
ปรับปรุงล่าสุด : 2026-10-13 อ่านเพิ่มเติม