Helena menatap pantulan dirinya di dalam cermin. Tangannya terangkat menyentuh pipi, lalu ke tulang selangkanya. Ia terpejam, berusaha menenangkan hati yang sedari tadi gelisah. ‘Kamu hanya perlu percaya diri.’ Kalimat Lucien kembali terngiang, bersamaan dengan pintu yang diketuk pelan. Helena menyipit, menatap pintu yang perlahan terbuka. “Lucien…” katanya tak percaya. Lucien masuk dengan kondisi yang berbeda dari biasanya, dari ujung rambut sampai ujung kaki sangat berantakan. Dasinya sudah hampir lepas, lengan kemejanya digulung sampai siku. Belum lagi bau alkohol yang menyengat, membuat Helena refleks mengernyit dalam. Lucien tersenyum. Dia menunjukkan paper bag di tangan, sambil berjalan sempoyongan ke arah Helena. “Aku bawa sesuatu untukmu,” katanya serak. “Lihatlah, aku sudah memilihnya langsung untukmu, Helena Ricci.” Tubuh Lucien hampir saja tersungkur, kalau saja Helena tidak buru-buru menangkapnya. “Aku ingin melihatmu memakai ini, besok pagi.” Dia mendongak, menatap
Last Updated : 2026-09-15 Read more