Mag-log inBAB 4
Pagi aku sudah sampai kantor. Menata meja, membersihkan ruangan, lalu duduk santai sambil mengerjakan administrasi yang berkaitan dengan bagianku.
Cleaning servis yang baru datang kaget, melihat ruangan sudah bersih.
“Mbak ngepel sendiri?”
Aku mengangguk sambil tersenyum.
“Mbak, lain kali jangan ya! Nanti aku dimarahi Pak Adnan.”
“Aku tidak akan lapor.”
“Aku sudah mendengar.” Pak Adnan tiba-tiba masuk ruangan.
“Jangan marah sama dia. Marah sama aku saja!” ucapku memasang wajah kesal.
“Kamu beli furniture untuk ruangan bos yang baru selesai direnovasi.”
“Baik, Pak. Mohon share alamat toko yang Bapak inginkan.” Aku menjawab sambil merapikan tas untuk dibawa pergi.
“Kamu akan membeli sama aku.”
“Jika saya yang harus memilih barangnya, saya bisa pergi sendiri atau diantar Pak Abdul. Tetapi kalau harus Pak Adnan yang memilih barangnya, mohon maaf, Pak, cukup Bapak yang pergi sendiri sepertinya.”
Aku kembali duduk.
“Ok, kamu berangkat sama Pak Abdul.” Pak Adnan berlalu pergi.
Akhirnya aku berangkat ke toko bersama Pak Abdul.
“Mbak Nara kalau mau yang lebih bagus ada di lantai dua,” ucap Pak Abdul saat aku turun.
Aku mengangguk dan langsung melangkah ke dalam, tetapi langkahku terhenti saat melihat seorang anak kecil menangis sendirian.
“Kamu kenapa?” tanyaku sambil mengusap kepalanya.
“Aku kehilangan papaku. Antar aku ke Papa,” ucapnya memohon.
Aku menggendong anak perempuan yang ku taksir umurnya baru tiga tahun itu. Meski bingung harus mengantar kemana, ku gendong saja dia dan berjalan sambil menoleh ke kanan dan kiri.
“Siapa namamu?”
“Aurellie,” jawabnya. “Itu papaku,” ucapnya lagi sambil menunjuk seorang pria yang berdiri di depan toilet.
“Pak, maaf, ini anaknya menangis,” kataku setelah jarak kami dekat.
Pria itu berbalik. Aku terpana melihat sosok di depan. Anak kecil itu langsung turun dari gendongan dan memeluk sosok pria yang dipanggil Papa, yang tidak lain adalah Nizar.
Meski banyak pertanyaan dalam benak, tetapi aku tidak menunjukkan rasa kageku. Justru Nizar yang terlihat salah tingkah. Gugup dan wajahnya seperti orang yang tertangkap basah.
“Maaf, tadi anak ini menangis mencari papanya. Saya permisi, Pak,” ucapku sambil berbalik dan melangkah menjauh dari mereka.
“Papa, tadi Mbak pergi kejar si Moci, aku ditinggal sendiri.” Masih sempat ku dengar Aurellie berbicara pada Nizar.
Kini banyak sekali pertanyaan muncul dalam benak tentang siapa sosok anak yang memanggil Nizar dengan sebutan papa. Kalau Tasya, jelas tidak mungkin. Mereka menikah baru satu tahun. Atau mungkin mereka sudah punya anak di luar pernikahan? Atau Nizar seorang duda?
Kejadian itu terus membayangi pikiran sepanjang hari. Sampai do sore ketika aku hendak pulang, sebuah pesan masuk di ponsel.
Besok datang ketemu di caffe untuk tanda tangan kontrak kerja sama salah satu cluster dengan perusahaan asuransi kamu. Tempatnya akan aku share.
Setelah sholat Dzuhur aku berangkat ke alamat yang dikirim Nizar. Kali ini aku naik taxi biar lebih leluasa. Sampai di tempat yang dimakasud, Nizar sudah menunggu
“Silakan duduk dan pesan makanan.”
Aku mengangguk dan langsung duduk di hadapan pria itu. Memesan minuman dan cemilan untuk isi perut pengganti makan siang.
“Anak yang kemarin kamu lihat, dia ....”
“Maaf, Pak, itu bukan urusan saya,” ucapku memotong.
Untuk sementara, itu bukan urusanku, tapi kalau aku butuh sesuatu, itu akan ku gunakan sebagai senjata.
“Baik. Aku sudah persiapkan kontrak kerjasamanya.” Nizar menyodorkan kertas yang sudah ditandatangani di atas materai.
“Untuk ini saya akan bawa ke kantor saya, Pak. Biar ditandatangani oleh pimpinan.”
“Ok, kalau sudah, boleh kamu antar ke kantorku.”
Aku mengangguk pelan. “Saya izin minum sama makan, boleh?” ucapku.
“Silakan.”
Aku makan tanpa memandang Nizar, jadi tidak tahu lelaki itu melakukan apa. Selesai makan aku pamit.
Saat hendak meninggalkan kursi, Nizar berkata, “Jika besok-besok kamu kenal dengan istriku, aku minta tolong jangan ceritakan kejadian kemarin.”
Aku mengangguk pelan, lalu pergi. Rupanya Nizar menyembunyikan rahasia dari Tasya. Ini senjata yang akan ku gunakan untuk membantu rencanaku.
***
Satu kantor heboh setelah tahu aku berhasil mendapatkan kerjasama dengan Lentera Hermawan meski baru hitungan jari pindah ke kantor ini. Lidya dan Anggi yang paling sering memujiku. Aku tidak haus pujian.
Waktu istirahat tiba, aku memilih di dalam ruangan karena belum ingin makan. Tanganku berada di keyboard laptop, tetapi pikiranku merancang strategi untuk masuk lebih jauh ke kehidupan pribadi Nizar.
“Ini berkas yang harus kamu kerjakan berkaitan dengan kerjasama dengan Lentera Hermawan.” Pak Adnan datang dan memberikan setumpuk kertas.
“Baik, Pak,” jawabku tanpa memandang wajahnya.
“Minggu depan bos akan mengadakan tasyakuran atas keberhasilan proyek ini. Kamu diundang. Semua karyawan akan ikut. Tempatnya agak jauh dari sini.”
“Baik, Pak, kirim saja alamatnya. Insya Allah saya akan datang.” Aku bangkit dan bersiap makan ke kantin. “Saya permisi dulu, pak, mau makan di kantin.”
Aku keluar ruangan tanpa menoleh pada Pak Adnan. Berjalan menuju kantin yang letaknya ada di belakang kantor. Sampai sana langsung memesan bakso dan segelas es teh. Indi berjalan menghampiri dan duduk di depanku. Wajahnya terlihat serius.
“Nara, kamu mendapatkan proyek ini dengan mudah. Apa kamu benar-benar tidak ada niat melakukan semua ini demi mendekati Pak Adnan?”
Aku terbatuk mendengar pertanyaan Indi. Sungguh konyol. Kenal dengan lelaki itu sebelum ini pun tidak. Aku berusaha keras mendapatkan proyek ini bukan karena ingin menjadi karyawan terhebat, atau mendekati Adnan, tetapi lebih dari itu, ada misi yang ku sembunyikan.
“Aku tidak tertarik sama dia. Kalau kamu suka dia, ambil saja! Aku sarankan cepat saja, biar cepat menjadi halal. Itu lebih baik.” Berkata demikian, aku melempar senyumgodaan padea Indi.
“Aku tidak suka dia. Inggit dari dulu sudah mengincar dia.”
“Ya sudah, aku doakan semoga teman kamu dan Pak Adnan segera menikah.”
Indi diam tak menyahut.
***
Acara tasyakuran yang dimaksud Pak Adnan dilaksanakan dilaksanakan di akhir pekan. Aku memilih berangkat lebih dulu dan menginap di hotel. Tidak jauh dari lokasi tempat kantor mengadakan acara.
Setelah memesan kendaraan online, aku berangkat. Tempatnya ada di wilayah dataran tinggi sehingga udaranya asri. Tubuh yang lelah membuatku berjalan cepat agar lekas sampai di kamar. Kamarku ada di lantai 7. Di lantai 3 lift terbuka dan masuk sosok yang tidak asing bagiku.
Nizar membawa seorang wanita dan anak kecil yang waktu itu mencarinya di toko properti. Aku bersikap pura-pura tidak kenal, tetapi Nizar dia salah tingkah. Wajahnya terlihat tiba-tiba pucat.
“Papa, aku nanti mau renang lagi,” ucap Aurellie yang digendong Nizar.
“Aurell nanti renang sama Mbak ya. Papa sama Mama capek, mau istirahat.” Wanita cantik yang bersama Nizar berujar.
Nizar punya keluarga? Jadi Tasya istri kedua? Apa mereka tidak tahu ini?
Di kamar utama rumah keluarga Hendro Rahmawan, Tasya sedang duduk di depan meja rias sambil melepas anting-anting yang dikenakannya sejak sore.Sementara itu, Nizar berdiri tidak jauh dari ranjang. Pandangannya tertuju pada sebuah lukisan besar yang tergantung di dinding.Lukisan itu sebenarnya sudah ada sejak lama. Namun, selama hampir setahun tinggal di rumah tersebut, Nizar nyaris tidak pernah memperhatikannya.Selama ini, ia memang tidak terlalu peduli dengan apa pun yang ada di rumah Tasya. Baginya, pernikahan mereka hanyalah kesepakatan bisnis yang kebetulan dibungkus dengan hubungan suami istri.Ia menjalani semuanya tanpa keinginan untuk mengenal lebih jauh kehidupan keluarga istrinya.Akan tetapi, entah mengapa, malam itu lukisan tersebut menarik perhatiannya.Nizar melangkah mendekat.Lukisan berukuran besar itu menggambarkan pemandangan taman dengan pepohonan rindang dan sebuah bangunan tua di kejauhan. Bingkainya tampak kokoh, tetapi posisinya sedikit miring.Nizar mengulu
"Sudah selesai urusannya?" tanya ibu Adnan sambil mengusap kepala Nara saat gadis itu mencium tangan. "Belum, Bu.""Makan dulu, ayo!" ajak ibu Adnan. Mereka bertiga makan dalam satu meja. Sesekali ibu Adnan menyuruh Nara menambah nasi, tetapi ditolak. Selesai makan, ibu Adnan langsung mengemasi piring. Sedangkan Nara dan Adnan masih duduk di kursi sambil memainkan ponsel. Satu pesan masuk dari Nizar membuat mata Nara membelalak."Kenapa?" tanya Adnan. Nara bergerming. "Kenapa?" ulang Adnan. Nara membacakan pesan Nizar. "Jangan dibalas!" tegas Adnan.Nara mengangkat wajah, menatap lelaki yang duduk di sampingnya. "Kenapa?"Adnan meletakkan ponselnya di atas meja, lalu mengalihkan perhatian sepenuhnya kepada Nara."Kalau kamu membalasnya sekarang, dia akan tahu kalau pesan itu berhasil membuatmu panik."Nara terdiam. Ia tidak bisa membantah perkataan Adnan begitu saja. Lelaki itu memang terlalu jeli memperhatikan situasi."Orang seperti Nizar tidak akan mengirim pesan tanpa alas
Sementara itu, di rumah keluarga Hendro, Nizar berdiri di depan jendela kamar dengan ponsel menempel di telinga. Ia mendengus kasar karena Nara tak mau angkat telepon. Tatapannya tertuju pada halaman rumah, tetapi pikirannya berada jauh di rumah sakit. Adisty membutuhkan dia saat ini. Namun, ada masalah lain yang tidak bisa diabaikannya.Tasya.Sejak kejadian makan siang yang batal, Tasya sama sekali tidak berbicara kepadanya. Perempuan itu bahkan tidak menoleh ketika Nizar berkali-kali mencoba bertanya. Nizar mengembuskan napas panjang.Dia tahu Tasya sedang marah. Pertanyaan Tasya tentang hubungan mereka yang semakin renggang masih terngiang-ngiang di kepalanya.Selama ini, Nizar memang terlalu sibuk membagi perhatian antara bisnis, urusan keluarga, dan Adisty. Dia bahkan hampir tidak pernah benar-benar memperhatikan perasaan Tasya sebagai istrinya. Bahkan terkadang lupa jika ia punya istri lain. Pernikahannya dengan Tasya merupakan bagian dari kesepakatan dua keluarga. Keluarga
Nara keluar dari gedung rumah sakit dengan langkah terburu-buru. Wajahnya tampak tenang, tetapi pikirannya masih tertinggal pada permintaan Adisty yang baru saja didengarnya.Memasukkan Aurellie ke panti asuhan.Permintaan itu terus terngiang di telinganya. Nara tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi dalam rumah tangga Nizar hingga Adisty begitu takut anaknya berada di tangan lelaki itu. Namun, satu hal yang pasti, Nara tidak ingin terlibat terlalu jauh dalam urusan yang bukan menjadi tanggung jawabnya.Nara sudah terlalu lama kehilangan haknya sendiri. Kali ini, dia harus mendahulukan kepentingan ibunya."Nara!"Suara Adnan membuat Nara mengangkat wajah. Lelaki itu berdiri di samping mobil dengan satu tangan memegang kunci kendaraan."Kenapa lama sekali? Aku sudah menunggu hampir sepuluh menit.""Maaf, Pak. Tadi ada yang harus aku selesaikan."Adnan memperhatikan wajah Nara sejenak. Ada sesuatu yang berbeda dari ekspresi perempuan itu, tetapi Adnan tidak bertanya lebih jauh."Sudah s
Tasya menatap punggung ibunya yang semakin menjauh. Perkataan Dewi masih terngiang-ngiang di telinganya, terutama ketika perempuan itu menyuruhnya memeriksa ponsel Nizar.Semakin dipikirkan, semakin panas hatinya.Selama ini, Nizar memang bukan suami yang hangat. Lelaki itu menikahinya tanpa banyak janji manis, jarang mengajaknya pergi, bahkan beberapa kali menghilang selama berhari-hari dengan alasan pekerjaan. Tasya sudah berulang kali mengeluh kepada Hendro, tetapi ayahnya terlihat acuh dan menyuruh agar ia tidak banyak berprasangka, Sekarang, setelah sekian lama menahan diri, dia mulai merasa kesabarannya telah dipermainkan."Mas Nizar, kamu pikir aku ini siapa?" gumamnya.Dia segera bangkit dan menaiki tangga menuju kamar.Pintu kamar terbuka. Nizar tidak ada di sana.Tasya melirik kamar mandi yang pintunya terbuka, kemudian mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Ponsel suaminya tidak terlihat.Dia mengumpat pelan.Lelaki itu pasti berada di ruang kerja.Tanpa membuang waktu,
Dewi bukan perempuan yang mudah percaya begitu saja.Dia telah bertahun-tahun tinggal di rumah itu. Dia tahu bagaimana Dudung dan Ipah bekerja, bagaimana mereka berbicara, dan bagaimana keduanya biasanya bersikap ketika tidak ada yang perlu disembunyikan.Akan tetapi, beberapa hari terakhir, ada sesuatu yang berbeda.Keduanya seperti sedang menjaga rahasia.Dewi meninggalkan taman atas dan turun menuju ruang makan. Di sana, Ipah sedang menata beberapa piring, sementara Dudung baru saja masuk dari halaman belakang."Ipah."Perempuan paruh baya itu menoleh."Iya, Bu?""Nara sudah berapa kali ke rumah ini?"Tangan Ipah yang sedang memegang piring mendadak berhenti.Hanya sebentar.Namun, jeda kecil itu tidak luput dari pengamatan Dewi."Berapa kalinya saya tidak terlalu tahu, Bu. Saya lihat dia waktu sama Non Tasya.""Kenapa dia bisa begitu mudah meyakinkan Tasya untuk merenovasi beberapa bagian rumah inj?""Kalau itu saya tidak tahu, Bu, tanya saja sama Non Tasya. Saya sendiri kan tidak







