로그인BAB 3
Aku berangkat ke kantor Nizar naik mobil bersama pak Abdul, sopir kantor. Sepanjang jalan berdoa, semoga hari ini bisa bertemu langsung dengan Nizar. Meskipun nantinya akan menimbulkan luka jika mengetahui sebahagia itu kehidupan Tasya, tetapi aku ingin cepat masuk ke kehidupan mereka.
“Mbak sudah sampai, itu kantornya benar ada tulisan nama perusahaannya. Semoga Mbak Nara diberi kelancaran ya?” ujar Pak Abdul ketika sampai di depan kantor Nizar.
Lentera Hermawan Land. Nama kantor perusahaan milik Nizar. Aku masuk untuk bertemu dengan pemiliknya. Meski hanya berbekal keyakinan setipis tissue bisa bertemu dan bekerjasama, nyatanya nyaliku cukup kuat untuk bisa berhadapan langsung dengan sosok suami Tasya.
Pak Abdul kembali ke kantor setelah menurunkanku. Aku langsung menemui bagian resepsionis.
“Pak Nizar sedang turun ke lapangan, Bu. Kalau mau menunggu silakan, tapi tidak janji beliau mau kesini jam berapa.” Jawaban dari resepsionis membuat aku sedikit kecewa.
“Tapi pasti datang ke kantor gak, Mbak? Kalau iya, gak papa, saya menunggu. Atau barangkali ada asisten yang bisa saya temui?”
“Sekarang kalau ada apa-apa langsung ke Bapak Nizarnya, Bu.”
“Baik, saya tunggu.”
Aku langsung menghubungi Pak Abdul untuk pulang lebih dulu.
Satu jam menunggu, belum datang. Dua jam, belum datang juga.
“Cin, bawakan juz alpukat pakai gula aren ke ruangan Bapak. Cemilan seperti biasa. Cepat ya!” Sebuah suara yang terdengar arogan tiba-tiba mengusik perhatianku.
Aku mendongakkan kepala. Melihat sesosok perempuan yang tampangnya sama dengan foto Tasya di media sosial. Ia memakai atasan tanpa lengan berwarna putih tulang, yang dipadukan dengan celana jeans yang panjangnya sekitar dua puluh cm dari perut. Berbicara dengan resepsionis sambil berkacak pinggang. Rasa benci hadir dalam hati, tetapi aku sebisa mungkin tidak menampakkan wajah tidak suka.
Tasya menatapku sebentar dengan pandangan tidak suka. Aku mencoba bersikap ramah dengan tersenyum dan menganggukkan kepala.
Beberapa detik kemudian ia terlihat mengambil ponsel dan melakukan panggilan telepon. Pandanganku langsung beralih kembali pada majalah yang ku pegang. Majalah berisi gambar-gambar rumah yang dipasarkan Nizar.
“Beneran, Pa, aku udah dibelikan mobil baru? Makasih ya, Papa. Tasya sangat sayang sama Papa,” ucapnya manja. “Mobil aku yang kemarin? Iya, buat Mama kalau mau. Kalau Mama maunya yang baru, terserah Papa mau diapakan mobil itu. Ah, tapi itu mobil kesayangan aku, Papa. Bisa gak, aku punya mobil dua buat ganti-ganti. Boleh, Papa? Ah, makasih Papa terbaik di dunia.”
Panggilan berakhir. Dadaku memanas. Belasan tahun aku harus hidup seorang diri dengan segala keterbatasan, Ayah menghamburkan uang dari hasil perkebunan Ibu untuk memenuhi gaya hidup boros anak tirinya. Suatu hari nanti, aku akan mengembalikan keadaanku sama kamu, Tasya. Setelah melihatmu, hasrat hati ini semakin membara.
Setelah tiga jam menunggu, akhirnya Nizar datang. Dia sosok yang sedikit angkuh sepertinya, tetapi beruntung aku dipersilakan masuk ke ruang kerjanya. Di ruang yang kutaksir berukuran empat kali enak meter itu terpampang foto pernikahan mereka.
Ada Tasya yang sedang duduk di sofa sambil bermain ponsel. Ia melirik sekilas padaku tanpa menyapa. Tatapannya terlihat sangat angkuh. Sebagai tamu, aku menyapa dia dengan senyum dan anggukan kepala. Akan tetapi, Tasya tidak merespon.
Ia sesekali tertawa terbahak-bahak, tidak peduli jika aku sedang melakukan pembicaraan penting dengan suaminya di meja kerja.
“Nama kamu Nara? Mau menawarkan asuransi kebakaran dan tenaga kerja?”
“Betul sekali, Pak.”
“Saya sudah punya perusahaan yang bekerjasama selama bertahun-tahun.”
“Barangkali mau bergabung dengan perusahaan kami, Pak? Kami menawarkan harga yang lebih menguntungkan dari perusahaan lain. Bapak bisa mencobanya untuk beberapa unit perumahan dulu. Apabila cocok bisa dilanjut, jika tidak Bapak bisa membatalkan kerjasama kita.”
Nizar seorang pembisnis yang handal. Ia tidak akan mudah terpengaruh rupanya. Meski sudah memaksa dan merayu, ia tetap belum mau bekerjasama dengan perusahaan kami.
“Mas, gimana, tas yang kemarin aku minta udah dibeli belum? Sama itu yang lingerie aku suka, aku pengin kamu yang belikan untuk aku. Aku gak mau beli sendiri.” Tasya seperti tidak peduli dengan obrolan kami. Ia malah merengek manja pada Nizar meminta dibelikan tas.
Aku menundukkan wajah karena merasa ikut malu dengan permintaan Tasya. Hal yang privasi dia bahas di hadapan tamu suami.
“Tasya! Tahu situasi tidak?” tegur Nizar.
“Ya habisnya aku udah minta dari kemarin kamu masih cuek.”
“Pesan sekarang lah, Mas, jangan nunggu lama lagi. Aku pengin pakai pas acara tasyakuran di perkebunan minggu depan.” Jantung berdebar kencang kala ia menyebut kata perkebunan.
“Pak, saya pamit. Nanti Anda bisa menghubungi saya bila berminat untuk bekerja sama dengan perusahaan kamu,” ucapku sambil berdiri dan menyodorkan kartu nama.
Badan membungkuk dan menangkupkan kedua tangan tanda jika aku hendak pamit undur diri. Kulihat Nizar menatapku lekat, tanpa kedip. Namun aku memalingkan wajah lalu pergi.
“Mbak, ada mushola di kantor ini?” tanyaku pada resepsionis.
Perempuan yang murah senyum itu menunjukkan letaknya.
Jam sudah menunjukkan pukul satu siang. Aku harus sholat karena takut jika menunggu jemputan tidak cepat datang.
Selesai sholat gegas keluar kantor, tanpa sadar menabrak seseorang, ternyata dia Nizar.
“Maaf, Pak, habis numpang sholat,” ucapku sambil mundur jauh.
Nizar tak menjawab. Hanya menatapku tanpa kedip. Aku menganggukkan kepala, lalu kembali melanjutkan langkah pergi.
Ada rasa tidak enak pada Pak Adnan ketika sampai kantor harus menjelaskan bahwa usaha yang ku lakukan belum membuahkan hasil.
Lelaki itu hanya memberi respon dengan mengangguk kecil setelah tahu usahaku belum membuahkan hasil.
Sepanjang hari otak ini masih teringat sosok Tasya dengan segala gerak geriknya. Dulu saat masih bersama Ibu, beliau selalu mengajarkanku untuk memiliki adab yang bagus. Harus menghormati orang lain dan memberi pemahaman bahwa wanita harus menjunjung tinggi rasa malu. Ayah mendukung apa yang Ibu ajarkan, tetapi melihat Tasya seperti itu, aku merasa sosok ayahku benar-benar sudah berubah.
Aku terdiam di depan layar komputer. Hati seperti tertusuk pisau yang tak terlihat bentuknya. Aku di sini, berjuang untuk melanjutkan hidup tanpa siapapun, sementara Tasya bisa dengan mudah mendapat apa yang ia inginkan.
Hatiku merintih, ya Allah, apa boleh aku mengatakan jika hidup ini tidak adil?
Kalau Nizar benar-benar menolak tawaran kerjasama dengan perusahaan ini, sepertinya aku akan resign saja dan pergi dari kota ini untuk selamanya. Mengikhlaskan semua yang dirampas mereka dariku. Rasanya sungguh tidak sanggup jika harus mengemis pada suami Tasya demi mendapatkan kontrak itu. Mungkin memang aku harus mencari pekerjaan yang sesuai dengan pendidikan yang ku miliki.
Aku menelungkupkan kepala di atas meja. Menangis sesenggukan, bukan karena belum mendapatkan kontrak kerjasama dengan Nizar, tetapi karena melihat bagaimana Tasya hidup dengan menghambur-hamburkan harta.
Suasana kantor sudah sepi. Teman satu ruangan sudah pulang semua. Aku menikmati kesendirian sambil menangis.
Suara laki-laki berdehem membuat tangisku berhenti. Aku sontak mengangkat kepala dan pak Adnan beridiri tepat didepanku.
“Dunia kerja itu keras. Kalau hanya dihadapi dengan tangisan, itu tidak akan menyelesaikan masalah. Gagal sekali jangan langsung terpuruk. Itu bukan ciri-ciri orang yang akan sukses.” Pak Adnan berucap dengan wajah datar.
“Aku tidak menangis karena itu,” jawabku acuh tanpa melihat wajahnya. “Jangan suka masuk ke ruang orang tanpa ketuk pintu, Pak. Apalagi sudah tidak ada orang dan saya perempuan. Takutnya saya sedang tidak pakai jilbab.”
“Siapa tadi yang buka pintu tapi tidak ditutup? Jadi, yang salah yang masuk tanpa ketuk, atau orang yang tidak menutup pintu?”
Aku sepertinya lupa menutup pintu. Wajahku memerah menahan malu lalu bangkit dan bersiap pulang.
“Saya permisi pulang,” ucapku lagi tanpa melihat wajah lelaki itu.
“Layar komputer tidak boleh menyala saat meninggalkan ruangan! Lampu juga harus dimatikan. Sepertinya kamu belum tahu aturan itu.”
Aku mendengkus kesal. Berbalik badan dan menuju meja Indi untuk mematikan benda itu. Padahal bukan aku pelakunya, tetapi malas juga menjelaskan pada Adnan. Hal yang bisa ku kerjakan maka harus dikerjakan tanpa harus menyangkal hal yang tidak penting.
Selesai mematikan layar komputer, aku langsung keluar ruangan tanpa berkata apapun pada Adnan.
Aku sudah terbiasa menghadapi kerasnya hidup. Kalau hanya sifatnya yang keras sebagai atasan, itu tidak akan membuat hati terluka.
Di kamar utama rumah keluarga Hendro Rahmawan, Tasya sedang duduk di depan meja rias sambil melepas anting-anting yang dikenakannya sejak sore.Sementara itu, Nizar berdiri tidak jauh dari ranjang. Pandangannya tertuju pada sebuah lukisan besar yang tergantung di dinding.Lukisan itu sebenarnya sudah ada sejak lama. Namun, selama hampir setahun tinggal di rumah tersebut, Nizar nyaris tidak pernah memperhatikannya.Selama ini, ia memang tidak terlalu peduli dengan apa pun yang ada di rumah Tasya. Baginya, pernikahan mereka hanyalah kesepakatan bisnis yang kebetulan dibungkus dengan hubungan suami istri.Ia menjalani semuanya tanpa keinginan untuk mengenal lebih jauh kehidupan keluarga istrinya.Akan tetapi, entah mengapa, malam itu lukisan tersebut menarik perhatiannya.Nizar melangkah mendekat.Lukisan berukuran besar itu menggambarkan pemandangan taman dengan pepohonan rindang dan sebuah bangunan tua di kejauhan. Bingkainya tampak kokoh, tetapi posisinya sedikit miring.Nizar mengulu
"Sudah selesai urusannya?" tanya ibu Adnan sambil mengusap kepala Nara saat gadis itu mencium tangan. "Belum, Bu.""Makan dulu, ayo!" ajak ibu Adnan. Mereka bertiga makan dalam satu meja. Sesekali ibu Adnan menyuruh Nara menambah nasi, tetapi ditolak. Selesai makan, ibu Adnan langsung mengemasi piring. Sedangkan Nara dan Adnan masih duduk di kursi sambil memainkan ponsel. Satu pesan masuk dari Nizar membuat mata Nara membelalak."Kenapa?" tanya Adnan. Nara bergerming. "Kenapa?" ulang Adnan. Nara membacakan pesan Nizar. "Jangan dibalas!" tegas Adnan.Nara mengangkat wajah, menatap lelaki yang duduk di sampingnya. "Kenapa?"Adnan meletakkan ponselnya di atas meja, lalu mengalihkan perhatian sepenuhnya kepada Nara."Kalau kamu membalasnya sekarang, dia akan tahu kalau pesan itu berhasil membuatmu panik."Nara terdiam. Ia tidak bisa membantah perkataan Adnan begitu saja. Lelaki itu memang terlalu jeli memperhatikan situasi."Orang seperti Nizar tidak akan mengirim pesan tanpa alas
Sementara itu, di rumah keluarga Hendro, Nizar berdiri di depan jendela kamar dengan ponsel menempel di telinga. Ia mendengus kasar karena Nara tak mau angkat telepon. Tatapannya tertuju pada halaman rumah, tetapi pikirannya berada jauh di rumah sakit. Adisty membutuhkan dia saat ini. Namun, ada masalah lain yang tidak bisa diabaikannya.Tasya.Sejak kejadian makan siang yang batal, Tasya sama sekali tidak berbicara kepadanya. Perempuan itu bahkan tidak menoleh ketika Nizar berkali-kali mencoba bertanya. Nizar mengembuskan napas panjang.Dia tahu Tasya sedang marah. Pertanyaan Tasya tentang hubungan mereka yang semakin renggang masih terngiang-ngiang di kepalanya.Selama ini, Nizar memang terlalu sibuk membagi perhatian antara bisnis, urusan keluarga, dan Adisty. Dia bahkan hampir tidak pernah benar-benar memperhatikan perasaan Tasya sebagai istrinya. Bahkan terkadang lupa jika ia punya istri lain. Pernikahannya dengan Tasya merupakan bagian dari kesepakatan dua keluarga. Keluarga
Nara keluar dari gedung rumah sakit dengan langkah terburu-buru. Wajahnya tampak tenang, tetapi pikirannya masih tertinggal pada permintaan Adisty yang baru saja didengarnya.Memasukkan Aurellie ke panti asuhan.Permintaan itu terus terngiang di telinganya. Nara tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi dalam rumah tangga Nizar hingga Adisty begitu takut anaknya berada di tangan lelaki itu. Namun, satu hal yang pasti, Nara tidak ingin terlibat terlalu jauh dalam urusan yang bukan menjadi tanggung jawabnya.Nara sudah terlalu lama kehilangan haknya sendiri. Kali ini, dia harus mendahulukan kepentingan ibunya."Nara!"Suara Adnan membuat Nara mengangkat wajah. Lelaki itu berdiri di samping mobil dengan satu tangan memegang kunci kendaraan."Kenapa lama sekali? Aku sudah menunggu hampir sepuluh menit.""Maaf, Pak. Tadi ada yang harus aku selesaikan."Adnan memperhatikan wajah Nara sejenak. Ada sesuatu yang berbeda dari ekspresi perempuan itu, tetapi Adnan tidak bertanya lebih jauh."Sudah s
Tasya menatap punggung ibunya yang semakin menjauh. Perkataan Dewi masih terngiang-ngiang di telinganya, terutama ketika perempuan itu menyuruhnya memeriksa ponsel Nizar.Semakin dipikirkan, semakin panas hatinya.Selama ini, Nizar memang bukan suami yang hangat. Lelaki itu menikahinya tanpa banyak janji manis, jarang mengajaknya pergi, bahkan beberapa kali menghilang selama berhari-hari dengan alasan pekerjaan. Tasya sudah berulang kali mengeluh kepada Hendro, tetapi ayahnya terlihat acuh dan menyuruh agar ia tidak banyak berprasangka, Sekarang, setelah sekian lama menahan diri, dia mulai merasa kesabarannya telah dipermainkan."Mas Nizar, kamu pikir aku ini siapa?" gumamnya.Dia segera bangkit dan menaiki tangga menuju kamar.Pintu kamar terbuka. Nizar tidak ada di sana.Tasya melirik kamar mandi yang pintunya terbuka, kemudian mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Ponsel suaminya tidak terlihat.Dia mengumpat pelan.Lelaki itu pasti berada di ruang kerja.Tanpa membuang waktu,
Dewi bukan perempuan yang mudah percaya begitu saja.Dia telah bertahun-tahun tinggal di rumah itu. Dia tahu bagaimana Dudung dan Ipah bekerja, bagaimana mereka berbicara, dan bagaimana keduanya biasanya bersikap ketika tidak ada yang perlu disembunyikan.Akan tetapi, beberapa hari terakhir, ada sesuatu yang berbeda.Keduanya seperti sedang menjaga rahasia.Dewi meninggalkan taman atas dan turun menuju ruang makan. Di sana, Ipah sedang menata beberapa piring, sementara Dudung baru saja masuk dari halaman belakang."Ipah."Perempuan paruh baya itu menoleh."Iya, Bu?""Nara sudah berapa kali ke rumah ini?"Tangan Ipah yang sedang memegang piring mendadak berhenti.Hanya sebentar.Namun, jeda kecil itu tidak luput dari pengamatan Dewi."Berapa kalinya saya tidak terlalu tahu, Bu. Saya lihat dia waktu sama Non Tasya.""Kenapa dia bisa begitu mudah meyakinkan Tasya untuk merenovasi beberapa bagian rumah inj?""Kalau itu saya tidak tahu, Bu, tanya saja sama Non Tasya. Saya sendiri kan tidak


![My Fated Pair [BxB]](https://www.goodnovel.com/pcdist/src/assets/images/book/43949cad-default_cover.png)




