공유

BAB 3

작가: Nay Azzikra
last update 게시일: 2026-08-30 20:02:33

BAB 3

Aku berangkat ke kantor Nizar naik mobil bersama pak Abdul, sopir kantor. Sepanjang jalan berdoa, semoga hari ini bisa bertemu langsung dengan Nizar. Meskipun nantinya akan menimbulkan luka jika mengetahui sebahagia itu kehidupan Tasya, tetapi aku ingin cepat masuk ke kehidupan mereka.

“Mbak sudah sampai, itu kantornya benar ada tulisan nama perusahaannya. Semoga Mbak Nara diberi kelancaran ya?” ujar Pak Abdul ketika sampai di depan kantor Nizar.

Lentera Hermawan Land. Nama kantor perusahaan milik Nizar. Aku masuk untuk bertemu dengan pemiliknya. Meski hanya berbekal keyakinan setipis tissue bisa bertemu dan bekerjasama, nyatanya nyaliku cukup kuat untuk bisa berhadapan langsung dengan sosok suami Tasya.

Pak Abdul kembali ke kantor setelah menurunkanku. Aku langsung menemui bagian resepsionis.

“Pak Nizar sedang turun ke lapangan, Bu. Kalau mau menunggu silakan, tapi tidak janji beliau mau kesini jam berapa.” Jawaban dari resepsionis membuat aku sedikit kecewa.

“Tapi pasti datang ke kantor gak, Mbak? Kalau iya, gak papa, saya menunggu. Atau barangkali ada asisten yang bisa saya temui?”

“Sekarang kalau ada apa-apa langsung ke Bapak Nizarnya, Bu.”

“Baik, saya tunggu.”

Aku langsung menghubungi Pak Abdul untuk pulang lebih dulu.

Satu jam menunggu, belum datang. Dua jam, belum datang juga.

“Cin, bawakan juz alpukat pakai gula aren ke ruangan Bapak. Cemilan seperti biasa. Cepat ya!” Sebuah suara yang terdengar arogan tiba-tiba mengusik perhatianku.

Aku mendongakkan kepala. Melihat sesosok perempuan yang tampangnya sama dengan foto Tasya di media sosial. Ia memakai atasan tanpa lengan berwarna putih tulang, yang dipadukan dengan celana jeans yang panjangnya sekitar dua puluh cm dari perut. Berbicara dengan resepsionis sambil berkacak pinggang. Rasa benci hadir dalam hati, tetapi aku sebisa mungkin tidak menampakkan wajah tidak suka.

Tasya menatapku sebentar dengan pandangan tidak suka. Aku mencoba bersikap ramah dengan tersenyum dan menganggukkan kepala.

Beberapa detik kemudian ia terlihat mengambil ponsel dan melakukan panggilan telepon. Pandanganku langsung beralih kembali pada majalah yang ku pegang. Majalah berisi gambar-gambar rumah yang dipasarkan Nizar.

“Beneran, Pa, aku udah dibelikan mobil baru? Makasih ya, Papa. Tasya sangat sayang sama Papa,” ucapnya manja. “Mobil aku yang kemarin? Iya, buat Mama kalau mau. Kalau Mama maunya yang baru, terserah Papa mau diapakan mobil itu. Ah, tapi itu mobil kesayangan aku, Papa. Bisa gak, aku punya mobil dua buat ganti-ganti. Boleh, Papa? Ah, makasih Papa terbaik di dunia.”

Panggilan berakhir. Dadaku memanas. Belasan tahun aku harus hidup seorang diri dengan segala keterbatasan, Ayah menghamburkan uang dari hasil perkebunan Ibu untuk memenuhi gaya hidup boros anak tirinya. Suatu hari nanti, aku akan mengembalikan keadaanku sama kamu, Tasya. Setelah melihatmu, hasrat hati ini semakin membara.

Setelah tiga jam menunggu, akhirnya Nizar datang. Dia sosok yang sedikit angkuh sepertinya, tetapi beruntung aku dipersilakan masuk ke ruang kerjanya. Di ruang yang kutaksir berukuran empat kali enak meter itu terpampang foto pernikahan mereka.

Ada Tasya yang sedang duduk di sofa sambil bermain ponsel. Ia melirik sekilas padaku tanpa menyapa. Tatapannya terlihat sangat angkuh. Sebagai tamu, aku menyapa dia dengan senyum dan anggukan kepala. Akan tetapi, Tasya tidak merespon.

Ia sesekali tertawa terbahak-bahak, tidak peduli jika aku sedang melakukan pembicaraan penting dengan suaminya di meja kerja.

“Nama kamu Nara? Mau menawarkan asuransi kebakaran dan tenaga kerja?”

“Betul sekali, Pak.”

“Saya sudah punya perusahaan yang bekerjasama selama bertahun-tahun.”

“Barangkali mau bergabung dengan perusahaan kami, Pak? Kami menawarkan harga yang lebih menguntungkan dari perusahaan lain. Bapak bisa mencobanya untuk beberapa unit perumahan dulu. Apabila cocok bisa dilanjut, jika tidak Bapak bisa membatalkan kerjasama kita.”

Nizar seorang pembisnis yang handal. Ia tidak akan mudah terpengaruh rupanya. Meski sudah memaksa dan merayu, ia tetap belum mau bekerjasama dengan perusahaan kami.

“Mas, gimana, tas yang kemarin aku minta udah dibeli belum? Sama itu yang lingerie aku suka, aku pengin kamu yang belikan untuk aku. Aku gak mau beli sendiri.” Tasya seperti tidak peduli dengan obrolan kami. Ia malah merengek manja pada Nizar meminta dibelikan tas.

Aku menundukkan wajah karena merasa ikut malu dengan permintaan Tasya. Hal yang privasi dia bahas di hadapan tamu suami.

“Tasya! Tahu situasi tidak?” tegur Nizar.

“Ya habisnya aku udah minta dari kemarin kamu masih cuek.”

“Pesan sekarang lah, Mas, jangan nunggu lama lagi. Aku pengin pakai pas acara tasyakuran di perkebunan minggu depan.” Jantung berdebar kencang kala ia menyebut kata perkebunan.

“Pak, saya pamit. Nanti Anda bisa menghubungi saya bila berminat untuk bekerja sama dengan perusahaan kamu,” ucapku sambil berdiri dan menyodorkan kartu nama.

Badan membungkuk dan menangkupkan kedua tangan tanda jika aku hendak pamit undur diri. Kulihat Nizar menatapku lekat, tanpa kedip. Namun aku memalingkan wajah lalu pergi.

“Mbak, ada mushola di kantor ini?” tanyaku pada resepsionis.

Perempuan yang murah senyum itu menunjukkan letaknya.

Jam sudah menunjukkan pukul satu siang. Aku harus sholat karena takut jika menunggu jemputan tidak cepat datang.

Selesai sholat gegas keluar kantor, tanpa sadar menabrak seseorang, ternyata dia Nizar.

“Maaf, Pak, habis numpang sholat,” ucapku sambil mundur jauh.

Nizar tak menjawab. Hanya menatapku tanpa kedip. Aku menganggukkan kepala, lalu kembali melanjutkan langkah pergi.

Ada rasa tidak enak pada Pak Adnan ketika sampai kantor harus menjelaskan bahwa usaha yang ku lakukan belum membuahkan hasil.

Lelaki itu hanya memberi respon dengan mengangguk kecil setelah tahu usahaku belum membuahkan hasil.

Sepanjang hari otak ini masih teringat sosok Tasya dengan segala gerak geriknya. Dulu saat masih bersama Ibu, beliau selalu mengajarkanku untuk memiliki adab yang bagus. Harus menghormati orang lain dan memberi pemahaman bahwa wanita harus menjunjung tinggi rasa malu. Ayah mendukung apa yang Ibu ajarkan, tetapi melihat Tasya seperti itu, aku merasa sosok ayahku benar-benar sudah berubah.

Aku terdiam di depan layar komputer. Hati seperti tertusuk pisau yang tak terlihat bentuknya. Aku di sini, berjuang untuk melanjutkan hidup tanpa siapapun, sementara Tasya bisa dengan mudah mendapat apa yang ia inginkan.

Hatiku merintih, ya Allah, apa boleh aku mengatakan jika hidup ini tidak adil?

Kalau Nizar benar-benar menolak tawaran kerjasama dengan perusahaan ini, sepertinya aku akan resign saja dan pergi dari kota ini untuk selamanya. Mengikhlaskan semua yang dirampas mereka dariku. Rasanya sungguh tidak sanggup jika harus mengemis pada suami Tasya demi mendapatkan kontrak itu. Mungkin memang aku harus mencari pekerjaan yang sesuai dengan pendidikan yang ku miliki.

Aku menelungkupkan kepala di atas meja. Menangis sesenggukan, bukan karena belum mendapatkan kontrak kerjasama dengan Nizar, tetapi karena melihat bagaimana Tasya hidup dengan menghambur-hamburkan harta.

Suasana kantor sudah sepi. Teman satu ruangan sudah pulang semua. Aku menikmati kesendirian sambil menangis.

Suara laki-laki berdehem membuat tangisku berhenti. Aku sontak mengangkat kepala dan pak Adnan beridiri tepat didepanku.

“Dunia kerja itu keras. Kalau hanya dihadapi dengan tangisan, itu tidak akan menyelesaikan masalah. Gagal sekali jangan langsung terpuruk. Itu bukan ciri-ciri orang yang akan sukses.” Pak Adnan berucap dengan wajah datar.

“Aku tidak menangis karena itu,” jawabku acuh tanpa melihat wajahnya. “Jangan suka masuk ke ruang orang tanpa ketuk pintu, Pak. Apalagi sudah tidak ada orang dan saya perempuan. Takutnya saya sedang tidak pakai jilbab.”

“Siapa tadi yang buka pintu tapi tidak ditutup? Jadi, yang salah yang masuk tanpa ketuk, atau orang yang tidak menutup pintu?”

Aku sepertinya lupa menutup pintu. Wajahku memerah menahan malu lalu bangkit dan bersiap pulang.

“Saya permisi pulang,” ucapku lagi tanpa melihat wajah lelaki itu.

“Layar komputer tidak boleh menyala saat meninggalkan ruangan! Lampu juga harus dimatikan. Sepertinya kamu belum tahu aturan itu.”

Aku mendengkus kesal. Berbalik badan dan menuju meja Indi untuk mematikan benda itu. Padahal bukan aku pelakunya, tetapi malas juga menjelaskan pada Adnan. Hal yang bisa ku kerjakan maka harus dikerjakan tanpa harus menyangkal hal yang tidak penting.

Selesai mematikan layar komputer, aku langsung keluar ruangan tanpa berkata apapun pada Adnan. 

Aku sudah terbiasa menghadapi kerasnya hidup. Kalau hanya sifatnya yang keras sebagai atasan, itu tidak akan membuat hati terluka.

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • AKU KEMBALI UNTUK MEREBUT HARTAKU   BAB 6

    BAB 6“Wanita pilihanku adalah Adisti. Gadis cantik, pintar, dan ulet. Dia tinggal dengan neneknya karena ibunya sudah meninggal, sementara ayahnya pergi menikah lagi. Aku tidak bisa meninggalkan Adisti karena selain cinta, aku juga sangat kasihan. Dia kuliah dengan bekerja sendiri dan mengandalkan beasiswa. Adisti tahu jika aku dijodohkan. Dia ikhlas jika kami akhirnya tidak bersama,” ucap Nizar sambil menoleh memandangku.Nizar berhenti bercerita. Ia menangis sesenggukan.“Ayah mengancam akan membuat hidup Adisti sengsara jika aku menolak. Aku masih berhubungan dengan Adisti meski sudah dijodohkan. Aku berharap ada keajaiban yang membuat perjodohan itu batal. Suatu ketika nenek Adisti meninggal, dan yang lebih parah dia divonis terkena kanker paru-paru.”Aku masih diam.“Aku menikahi Adisti tanpa sepengetahuan keluarga. Adisti menolak, tetapi aku tidak bisa meninggalkan dia dalam keadaan serapuh itu. Aku membawa dia ke luar pulau Jawa. Hidup berdua di sana dan keluargaku tidak tahu

  • AKU KEMBALI UNTUK MEREBUT HARTAKU   BAB 5

    BAB 5Ternyata kami menuju lantai yang sama. Saat aku keluar dari lift, Nizar memandangku dengan pandangan yang seperti memohon untuk tidak berbuat hal yang bisa merugikannya. Aku cuek, pura-pura tidak saling kenal.“Papa, Mama, nanti kita akan berenang bersama. Papa, jangan pergi-pergi lagi ya? Jangan tinggalkan Aurell terus. Kasihan Mama sering nangis sendirian kalau Papa enggak pulang.”Aurell masih kecil, tetapi berbicaranya jelas sekali.Aku masuk kamar dan pikiran ini sibuk menerka tentang status Nizar. Tasya, tidak ada hidup yang sempurna. Kamu menganggap jika dirimu sudah mendapatkan semua, tetapi ternyata, lelaki yang menikah denganmu dia menyembunyikan rahasia besar. Aku yakin, setelah ini Nizar akan menceritakan tentang apa yang ia sembunyikan.Udara di luar sepertinya sejuk. Aku berjalan menuju balkon untuk menikmatinya. Saat berpaling ke arah kanan, tak disangka, Nizar berdiri di sana mengamati. Wajahku segera berpaling ke arah lain.Kenapa kamu ada di hotel ini?Kamu tid

  • AKU KEMBALI UNTUK MEREBUT HARTAKU   BAB 4

    BAB 4Pagi aku sudah sampai kantor. Menata meja, membersihkan ruangan, lalu duduk santai sambil mengerjakan administrasi yang berkaitan dengan bagianku.Cleaning servis yang baru datang kaget, melihat ruangan sudah bersih.“Mbak ngepel sendiri?”Aku mengangguk sambil tersenyum.“Mbak, lain kali jangan ya! Nanti aku dimarahi Pak Adnan.”“Aku tidak akan lapor.”“Aku sudah mendengar.” Pak Adnan tiba-tiba masuk ruangan.“Jangan marah sama dia. Marah sama aku saja!” ucapku memasang wajah kesal.“Kamu beli furniture untuk ruangan bos yang baru selesai direnovasi.”“Baik, Pak. Mohon share alamat toko yang Bapak inginkan.” Aku menjawab sambil merapikan tas untuk dibawa pergi.“Kamu akan membeli sama aku.”“Jika saya yang harus memilih barangnya, saya bisa pergi sendiri atau diantar Pak Abdul. Tetapi kalau harus Pak Adnan yang memilih barangnya, mohon maaf, Pak, cukup Bapak yang pergi sendiri sepertinya.”Aku kembali duduk.“Ok, kamu berangkat sama Pak Abdul.” Pak Adnan berlalu pergi.Akhirnya

  • AKU KEMBALI UNTUK MEREBUT HARTAKU   BAB 3

    BAB 3Aku berangkat ke kantor Nizar naik mobil bersama pak Abdul, sopir kantor. Sepanjang jalan berdoa, semoga hari ini bisa bertemu langsung dengan Nizar. Meskipun nantinya akan menimbulkan luka jika mengetahui sebahagia itu kehidupan Tasya, tetapi aku ingin cepat masuk ke kehidupan mereka.“Mbak sudah sampai, itu kantornya benar ada tulisan nama perusahaannya. Semoga Mbak Nara diberi kelancaran ya?” ujar Pak Abdul ketika sampai di depan kantor Nizar.Lentera Hermawan Land. Nama kantor perusahaan milik Nizar. Aku masuk untuk bertemu dengan pemiliknya. Meski hanya berbekal keyakinan setipis tissue bisa bertemu dan bekerjasama, nyatanya nyaliku cukup kuat untuk bisa berhadapan langsung dengan sosok suami Tasya.Pak Abdul kembali ke kantor setelah menurunkanku. Aku langsung menemui bagian resepsionis.“Pak Nizar sedang turun ke lapangan, Bu. Kalau mau menunggu silakan, tapi tidak janji beliau mau kesini jam berapa.” Jawaban dari resepsionis membuat aku sedikit kecewa.“Tapi pasti datang

  • AKU KEMBALI UNTUK MEREBUT HARTAKU   BAB 2

    Bab 2Tidak banyak barang kubawa pindah, karena memang aku tidak memiliki barang yang banyak. Hidup di pesantren dengan kiriman uang yang pas-pasan, sudah cukup melatih diri menjadi pribadi yang serba secukupnya, bahkan terkadang kekurangan. Terlebih saat kuliah yang sering membutuhkan uang untuk kegiatan di luar kampus. Seringnya aku berpuasa agar uang yang ku miliki tidak cepat habis.Sebuah foto yang masih tersimpan rapi, kupandang dan kuusap gambar wajahnya.“Ibu, seandainya dulu tidak hadir wanita perebut kebahagiaan kita, aku pasti masih hidup bersama Ibu. Ibu, belasan tahun aku hidup sendirian. Melewati malam lebaran dengan derai air mata. Menangis seorang diri di kamar yang sepi. Takbir yang banyak dirindukan teman-teman, menjadi suara yang membuat hati tercabik-cabik. Bu, jika Ibu masih hidup, meski dibuang mereka, aku pasti tidak akan melewati waktu belasan tahun dengan penderitaan.” Kudekap foto Ibu sambil menangis.Setiap melihat foto itu, energi untuk balas dendam pada me

  • AKU KEMBALI UNTUK MEREBUT HARTAKU   BAB 1

    MENJADI SIMPANAN ADIK IPARKUMataku memanas dan tangan mengepal tatkala melihat beberapa foto yang terpajang di sebuah akun media sosial. Potret keluarga bahagia dengan senyum manis, terasa begitu menyakitkan. Ayah melepas putri tiri tercintanya ke pelaminan dengan pesta yang megah. Sementara aku--anak kandung yang seharusnya mewarisi seluruh kekayaan keluarga--harus dibuang dengan bekal hidup seadanya dengan alasan yang tidak masuk akal.Jariku lincah memperhatikan satu demi satu postingan foto di akun Dewi--istri Ayah sekarang--alias wanita perebut kebahagiaan kami. Tanganku berhenti pada sebuah foto yang memperlihatkan nama kedua mempelai.Tasya Pramesti Hendro dan Nizar Evano Hermawan.Tasya sudah diberi nama belakang Ayah meskipun ia hanya anak tiri. Ini keterlaluan.Unggahan itu ternyata sudah satu tahun yang lalu. Sementara pada unggahan foto yang lain, ada mereka yang liburan ke luar negeri bersama. Tasya tipe cewek yang menunjukkan gaya hidup hedonisme. Bagaimana hati ini tak

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status