Compartilhar

BAB 5

Autor: Nay Azzikra
last update Data de publicação: 2026-09-11 12:12:22

BAB 5

Ternyata kami menuju lantai yang sama. Saat aku keluar dari lift, Nizar memandangku dengan pandangan yang seperti memohon untuk tidak berbuat hal yang bisa merugikannya. Aku cuek, pura-pura tidak saling kenal.

“Papa, Mama, nanti kita akan berenang bersama. Papa, jangan pergi-pergi lagi ya? Jangan tinggalkan Aurell terus. Kasihan Mama sering nangis sendirian kalau Papa enggak pulang.”

Aurell masih kecil, tetapi berbicaranya jelas sekali.

Aku masuk kamar dan pikiran ini sibuk menerka tentang status Nizar. Tasya, tidak ada hidup yang sempurna. Kamu menganggap jika dirimu sudah mendapatkan semua, tetapi ternyata, lelaki yang menikah denganmu dia menyembunyikan rahasia besar. Aku yakin, setelah ini Nizar akan menceritakan tentang apa yang ia sembunyikan.

Udara di luar sepertinya sejuk. Aku berjalan menuju balkon untuk menikmatinya. Saat berpaling ke arah kanan, tak disangka, Nizar berdiri di sana mengamati. Wajahku segera berpaling ke arah lain.

Kenapa kamu ada di hotel ini?

Kamu tidak sedang membuntuti aku kan?

Kita harus berjumpa berdua. Ada yang ingin ku ceritakan sama kamu.

Malam harinya Nizar mengirim pesan. Aku tidak membalasnya. Jika ia merasa posisiku mengancam terbongkar rahasia itu, pastilah ia akan menghubungi lagi.

Kamu boleh minta apapun asalkan tidak menceritakan hal ini pada orang lain, apalagi keluarga istriku.

Nizar mengirim pesan lagi.

Aku tidak membalas lagi.

Malam menjelang, rasa kantuk datang dan mata ini terpejam hingga Subuh menjalang.

Pagi hari hujan turun rintik-rintik, menambah syahdu suasana hotel yang terletak di pegunungan. Perut berbunyi, meminta diisi. Aku menyeret langkah ke restoran yang ada di lantai dua. Semangkuk bubur kacang hijau dan sepiring nasi tersaji di atas meja. Rasanya nikmat. Di tempat itu banyak orang yang sedang sarapan. Umumnya mereka dengan pasangan, atau keluarga. Hanya aku yang sendiri. Aku memang selalu sendiri. Memangnya aku punya siapa di dunia ini?

“Nara, apa yang kamu lakukan di sini?” Sebuah suara membuat mulut berhenti mengunyah.

Aku mendongakkan kepala. Terlihat Nizar dengan raut wajah takut.

“Ini hotel umum, siapapun bisa kesini kan, Pak?”

Nizar duduk di hadapanku. “Kenapa kebetulan sekali kamu datang di tempat yang sama denganku?”

“Pak Nizar mengira aku membuntuti? Buat apa? Dari mana aku membuntuti Bapak? Rumah mertua Bapak? Mana mungkin Anda berangkat dari sana? Anda datang dengan orang yang tidak ku kenal sama sekali dan tidak tahu tempat tinggal kailan dimana.”

Nizar menghembuskan napas kasar.

“Kenapa kamu selalu beruntung mendapatkan kartu matiku?” gumam Nizar.

Aku meletakkan sendok ke mangkuk bubur yang masih mengepul asapnya. “Yang jelas bukan karena aku sengaja mencari tahu. Pergilah! Nanti ada yang marah, bukankah akan menambah masalah?” ucapku sambil menatap Nizar.

“Aku akan menceritakan tentang mereka, tetapi tidak sekarang. Karena Aurell dan mamanya sedang menungguku.” Nizar bangkit dan berdiri menatapku sebentar.

Pandanganku kembali ke meja yang masih ada makanan yang harus disantap.

“Nara, kamu misterius sekali. Apa kamu benar-benar tidak punya niat apapun terhadapku?” Rupanya Nizar belum ingin pergi.

“Silakan Bapak cek sama kantorku. Tanya sama mereka tentang siapa aku. Aku hanya wanita sebatang kara yang mencoba bertahan hidup dengan mencari rezeki seorang diri.”

Telepon Nizar berbunyi.

“I-iya, Papa naik bawa sarapannya.” Sebelum pergi, ia menatapku lagi.

Ponsel berbunyi tanda pesan masuk.

Assalamualaikum, Nara.

Apa kabar?

Umi sering tanya keadaan kamu.

Kenapa tidak pernah menghubungi aku?

Kamu dimana sekarang? Mau aku jemput?

Ini Mas Dafi

Gus Dafi. Pria yang yang konon pernah suka sama aku saat di pondok dulu. Dari mana dia tahu nomerku? Pasti melacak lewat sahabat-sahabat pondok.

Gus Dafi putra seorang Kyai, tetapi bukan pemilik pondok tempat dimana Ayah membuangku dulu. Ia sama-sama santri. Pernah berkirim surat lewat teman, tetapi tidak ku balas. Pak Kyai tahu siapa orang tuaku, makanya beliau bisa memberikan informasi pada Gus Dafi tentang siapa Farabella Naraya sebenarnya.

Saat kuliah di semseter akhir, Bu Nyai pernah menelpon dan mengatakan ingin menjodohkanku dengan Gus Dafi, tetapi ku tolak dengan halus. Karena tujuan hidup yang utama adalah merebut hartaku. Jika aku menikah dengan putra seorang Kyai, maka aku takut tidak bisa melakukannya.

Aku jadi kehilangan selera makan, lalu memilih kembali ke kamar.

Pesan kembali muncul di layar ponsel. Kali ini dari Pak Adnan yang mengingatkan jadwal hari ini. Namun, belum sempat membalas apapun, pintu kamar berbunyi keras. Aku gegas membuka.

“Nara, tolong bantu aku jaga Aurell. Istriku, maksudku mamanya Aurell pingsan dan aku harus membawa dia ke rumah sakit. Nanti aku jemp;ut dia setelah mamanya dapat ruangan.”

Dengan wajah panik Nizar meminta tolong. Aku ikut berlari mengikuti dia ke kamar.

Mama Aurell tergelatk pingsan dengan mulut mengeluarkan darah. Aurell menangis kencang.

“Aku dan ART ku akan ke rumah sakit terdekat. Tolong jaga Aurell, Nara. Nanti aku jemput kesini.”

“Jangan lama-lama, Pak! Aku mau ada acara kantor.”

“Baik, aku akan mengantar mereka ke RS dulu, lalu aku kembali kesini jemput Aurell.”

Setelah Nizar pergi, aku berusaha membujuk Aurell agar tidak menangis. Untungnya waktu di pondok sudah terbiasa mengasuh cucu Pak Kyai, jadi aku tidak canggung bersama anak kecil.

Aurell ikut ke kamarku karena tidak mungkin aku akan menunggu di kamar Nizar.

“Mama Aurell sering sakit?” tanyaku.

“Iya. Mama sering keluar darah dari mulut, tapi Papa jarang pulang.”

Nizar, entah lelaki macam apa kamu. Tega menduakan istri yang sakit serius.

Setelah dua jam menunggu, Nizar menelpon dan bilang akan menjemput Aurell. Lima belas menit kemudian ia sampai.

Aurell sedang tidur saat ayahnya sampai. Aku langsung membuka pintu kamar karena tidak nyaman berada dengan lelaki lain. Nizar terduduk lemas di ranjang sambil memandang Aurell.

“Bawa dia ke kamar Anda saja, Pak. Aku akan berkemas untuk pulang,” ucapku.

Nizar bergeming.

Aku langsung mengemas barang yang ada di kamar.

“Aku dijodohkan sama Tasya sejak lima tahun lalu. Perjodohan bisnis lebih tepatnya. Aku sama sekali tidak mencintai Tasya, bahkan benci dengan sikap manja dia. Sikap berlebihan dia dan sikap yang selalu memandang rendah orang lain. Tasya bukan orang berpendidikan meskipun berasal dari keluarga kaya. Dia lulus SMA saja sudah beruntung. Karena mengandalkan harta orang tuanya, Tasya tidak mau kuliah. Kabar lain menyebut dia pernah kuliah tapi dikeluarkan karena membuat kasus. Aku sudah menolak perjodohan itu karena sudah punya pilihan lain, tetapi ayah menolak keras.”

Tiba-tiba Nizar bercerita tanpa ku minta, membuat tangan ini berhenti berkemas. Aku duduk bersandar pada tembok yang lurus dengan pintu terbuka, demi mendengarkan kisah Nizar.

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • AKU KEMBALI UNTUK MEREBUT HARTAKU   BAB 29 B

    Di kamar utama rumah keluarga Hendro Rahmawan, Tasya sedang duduk di depan meja rias sambil melepas anting-anting yang dikenakannya sejak sore.Sementara itu, Nizar berdiri tidak jauh dari ranjang. Pandangannya tertuju pada sebuah lukisan besar yang tergantung di dinding.Lukisan itu sebenarnya sudah ada sejak lama. Namun, selama hampir setahun tinggal di rumah tersebut, Nizar nyaris tidak pernah memperhatikannya.Selama ini, ia memang tidak terlalu peduli dengan apa pun yang ada di rumah Tasya. Baginya, pernikahan mereka hanyalah kesepakatan bisnis yang kebetulan dibungkus dengan hubungan suami istri.Ia menjalani semuanya tanpa keinginan untuk mengenal lebih jauh kehidupan keluarga istrinya.Akan tetapi, entah mengapa, malam itu lukisan tersebut menarik perhatiannya.Nizar melangkah mendekat.Lukisan berukuran besar itu menggambarkan pemandangan taman dengan pepohonan rindang dan sebuah bangunan tua di kejauhan. Bingkainya tampak kokoh, tetapi posisinya sedikit miring.Nizar mengulu

  • AKU KEMBALI UNTUK MEREBUT HARTAKU   BAB 29 A

    "Sudah selesai urusannya?" tanya ibu Adnan sambil mengusap kepala Nara saat gadis itu mencium tangan. "Belum, Bu.""Makan dulu, ayo!" ajak ibu Adnan. Mereka bertiga makan dalam satu meja. Sesekali ibu Adnan menyuruh Nara menambah nasi, tetapi ditolak. Selesai makan, ibu Adnan langsung mengemasi piring. Sedangkan Nara dan Adnan masih duduk di kursi sambil memainkan ponsel. Satu pesan masuk dari Nizar membuat mata Nara membelalak."Kenapa?" tanya Adnan. Nara bergerming. "Kenapa?" ulang Adnan. Nara membacakan pesan Nizar. "Jangan dibalas!" tegas Adnan.Nara mengangkat wajah, menatap lelaki yang duduk di sampingnya. "Kenapa?"Adnan meletakkan ponselnya di atas meja, lalu mengalihkan perhatian sepenuhnya kepada Nara."Kalau kamu membalasnya sekarang, dia akan tahu kalau pesan itu berhasil membuatmu panik."Nara terdiam. Ia tidak bisa membantah perkataan Adnan begitu saja. Lelaki itu memang terlalu jeli memperhatikan situasi."Orang seperti Nizar tidak akan mengirim pesan tanpa alas

  • AKU KEMBALI UNTUK MEREBUT HARTAKU   BAB 28 B

    Sementara itu, di rumah keluarga Hendro, Nizar berdiri di depan jendela kamar dengan ponsel menempel di telinga. Ia mendengus kasar karena Nara tak mau angkat telepon. Tatapannya tertuju pada halaman rumah, tetapi pikirannya berada jauh di rumah sakit. Adisty membutuhkan dia saat ini. Namun, ada masalah lain yang tidak bisa diabaikannya.Tasya.Sejak kejadian makan siang yang batal, Tasya sama sekali tidak berbicara kepadanya. Perempuan itu bahkan tidak menoleh ketika Nizar berkali-kali mencoba bertanya. Nizar mengembuskan napas panjang.Dia tahu Tasya sedang marah. Pertanyaan Tasya tentang hubungan mereka yang semakin renggang masih terngiang-ngiang di kepalanya.Selama ini, Nizar memang terlalu sibuk membagi perhatian antara bisnis, urusan keluarga, dan Adisty. Dia bahkan hampir tidak pernah benar-benar memperhatikan perasaan Tasya sebagai istrinya. Bahkan terkadang lupa jika ia punya istri lain. Pernikahannya dengan Tasya merupakan bagian dari kesepakatan dua keluarga. Keluarga

  • AKU KEMBALI UNTUK MEREBUT HARTAKU   BAB 28 A

    Nara keluar dari gedung rumah sakit dengan langkah terburu-buru. Wajahnya tampak tenang, tetapi pikirannya masih tertinggal pada permintaan Adisty yang baru saja didengarnya.Memasukkan Aurellie ke panti asuhan.Permintaan itu terus terngiang di telinganya. Nara tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi dalam rumah tangga Nizar hingga Adisty begitu takut anaknya berada di tangan lelaki itu. Namun, satu hal yang pasti, Nara tidak ingin terlibat terlalu jauh dalam urusan yang bukan menjadi tanggung jawabnya.Nara sudah terlalu lama kehilangan haknya sendiri. Kali ini, dia harus mendahulukan kepentingan ibunya."Nara!"Suara Adnan membuat Nara mengangkat wajah. Lelaki itu berdiri di samping mobil dengan satu tangan memegang kunci kendaraan."Kenapa lama sekali? Aku sudah menunggu hampir sepuluh menit.""Maaf, Pak. Tadi ada yang harus aku selesaikan."Adnan memperhatikan wajah Nara sejenak. Ada sesuatu yang berbeda dari ekspresi perempuan itu, tetapi Adnan tidak bertanya lebih jauh."Sudah s

  • AKU KEMBALI UNTUK MEREBUT HARTAKU   BAB 27

    Tasya menatap punggung ibunya yang semakin menjauh. Perkataan Dewi masih terngiang-ngiang di telinganya, terutama ketika perempuan itu menyuruhnya memeriksa ponsel Nizar.Semakin dipikirkan, semakin panas hatinya.Selama ini, Nizar memang bukan suami yang hangat. Lelaki itu menikahinya tanpa banyak janji manis, jarang mengajaknya pergi, bahkan beberapa kali menghilang selama berhari-hari dengan alasan pekerjaan. Tasya sudah berulang kali mengeluh kepada Hendro, tetapi ayahnya terlihat acuh dan menyuruh agar ia tidak banyak berprasangka, Sekarang, setelah sekian lama menahan diri, dia mulai merasa kesabarannya telah dipermainkan."Mas Nizar, kamu pikir aku ini siapa?" gumamnya.Dia segera bangkit dan menaiki tangga menuju kamar.Pintu kamar terbuka. Nizar tidak ada di sana.Tasya melirik kamar mandi yang pintunya terbuka, kemudian mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Ponsel suaminya tidak terlihat.Dia mengumpat pelan.Lelaki itu pasti berada di ruang kerja.Tanpa membuang waktu,

  • AKU KEMBALI UNTUK MEREBUT HARTAKU   BAB 26 B

    Dewi bukan perempuan yang mudah percaya begitu saja.Dia telah bertahun-tahun tinggal di rumah itu. Dia tahu bagaimana Dudung dan Ipah bekerja, bagaimana mereka berbicara, dan bagaimana keduanya biasanya bersikap ketika tidak ada yang perlu disembunyikan.Akan tetapi, beberapa hari terakhir, ada sesuatu yang berbeda.Keduanya seperti sedang menjaga rahasia.Dewi meninggalkan taman atas dan turun menuju ruang makan. Di sana, Ipah sedang menata beberapa piring, sementara Dudung baru saja masuk dari halaman belakang."Ipah."Perempuan paruh baya itu menoleh."Iya, Bu?""Nara sudah berapa kali ke rumah ini?"Tangan Ipah yang sedang memegang piring mendadak berhenti.Hanya sebentar.Namun, jeda kecil itu tidak luput dari pengamatan Dewi."Berapa kalinya saya tidak terlalu tahu, Bu. Saya lihat dia waktu sama Non Tasya.""Kenapa dia bisa begitu mudah meyakinkan Tasya untuk merenovasi beberapa bagian rumah inj?""Kalau itu saya tidak tahu, Bu, tanya saja sama Non Tasya. Saya sendiri kan tidak

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status