Mag-log inBab 2
Tidak banyak barang kubawa pindah, karena memang aku tidak memiliki barang yang banyak. Hidup di pesantren dengan kiriman uang yang pas-pasan, sudah cukup melatih diri menjadi pribadi yang serba secukupnya, bahkan terkadang kekurangan. Terlebih saat kuliah yang sering membutuhkan uang untuk kegiatan di luar kampus. Seringnya aku berpuasa agar uang yang ku miliki tidak cepat habis.
Sebuah foto yang masih tersimpan rapi, kupandang dan kuusap gambar wajahnya.
“Ibu, seandainya dulu tidak hadir wanita perebut kebahagiaan kita, aku pasti masih hidup bersama Ibu. Ibu, belasan tahun aku hidup sendirian. Melewati malam lebaran dengan derai air mata. Menangis seorang diri di kamar yang sepi. Takbir yang banyak dirindukan teman-teman, menjadi suara yang membuat hati tercabik-cabik. Bu, jika Ibu masih hidup, meski dibuang mereka, aku pasti tidak akan melewati waktu belasan tahun dengan penderitaan.” Kudekap foto Ibu sambil menangis.
Setiap melihat foto itu, energi untuk balas dendam pada mereka seprti naik berkali lipat.
***
Jalan kota tempatku dilahirkan sudah lebih padat. Kurang lebih lima belas tahun berlalu aku pergi dari sini, bukan waktu yang sebentar. Bahkan aku sudah hampir lupa dengan setiap sudut kota itu. Namun, ada satu tempat yang sampai sekarang tidak akan pernah terlupa, yakni rumah masa kecilku.
Dering ponsel membuat anganku buyar. Pimpinan kantor mengatakan tempat tinggalku sudah siap. Untuk kali ini bosku menyediakan kamar di salah satu kontrakan yang dekat dengan tempat kerja. Kabar burung yang beredar, pihak kantor takut kehilangan aku, jadi berusaha membuatku betah bekerja di sana.
Hari ini aku disuruh istirahat dulu. Besok baru mulai bekerja. Sampai kamar, waktu ku gunakan untuk mencari tahu detail tentang sosok Nizar. Akun media sosialnya tidak terkunci. Dari sana aku bisa mencari tahu nama perusahaan yang dia pimpin karena ada akun khusus yang berisi foto perumahan yang dipasarkan.
Sementara cukup itu dulu. Mataku sudah sangat lelah dan tubuh meminta untuk istirahat.
Allah, maafkan atas segala niat yang barangkali itu adalah sesuatu yang tidak baik. Luka ini terlalu dalam, sehingga mendorong diri untuk mencari keadilan.
***
“Nara selamat datang! Semoga kepindahan kamu kesini membawa dampak yang lebih positif bagi perusahaan ini,” ucap atasanku menyambut di pintu masuk. “Perkenalkan aku Adnan, direktur pelaksana di kantor ini.”
Sejak masuk kuliah, aku mengubah nama panggilan, jadi mereka memanggil Naraya, lebih populer lagi Nara.
Aku mengagguk sambil tersenyum. Aku memang tipe orang yang jarang berbicara. Mungkin karena terbiasa memendam segala luka seorang diri.
“Kita langsung rapat,” kata lelaki yang usianya terpaut tiga tahun di atasku itu.
Aku sudah diberi tahu tentang sosok Pak Adnan, oleh kepala kantor sebelumnya. Segala tentang dirinya dan sifatnya.
Lagi, aku hanya mengangguk dan tersenyum. Berjalan menuju ruang meeting yang di dalamnya ada meja panjang dengan kursi berjajar kanan dan kiri dan di bagian ujung ada satu kursi untuk pimpinan rapat.
Setelah basa-basi dan memperkenalkan aku dengan anggota, bosku yang bernama Pak Adnan mulai memimpin rapat.
“Seperti yang sudah dibahas di grup, perusahaan kita ingin memperluas jaringan. Silakan semuanya bisa usul program apa yang ingin anda lakukan untuk mendukung hal itu?”
Semua anggota ditanya satu per satu. Kini giliran aku menjawab.
“Silakan, Nara,” ucap Pak Adnan.
“Izin menjawab, Pak. Saya rasa kita harus berani mengajak bekerjasama dengan perusahaan yang bergerak di bidang properti seperti perumahan. Kita belum punya partner dari bidang itu.”
“Ide yang bagus. Tapi Anda baru sampai di kota ini, apakah punya referensi dengan perusahaan mana kita akan mengajak bekerja sama?” tanya Pak Adnan lagi.
Wajah lelaki itu tegas. Tipe orang yang serius dan tidak banyak bercanda sepertinya.
“Saya riset melalui internet, Pak. Ada perusahaan yang memiliki dua tipe perumahan. Elit dan bersubsidi. Sepertinya kita bisa mencoba untuk menghubungi perusahaan tersebut. Apabila tidak diterima untuk yang bagian perumahan elitnya, mungkin bisa ya, Pak, kita menawarkan untuk perumahan bersubsidinya.”
Pak Adnan mengangguk kecil. “Buat jadwal kesana, sopir akan mengantar kamu dan segera beri laporan hasilnya!” ucap Pak Adnan sambil menuliskan sesuatu di buku agendanya.
“Baik, Pak, nanti saya akan kabari Bapak.”
“Kalau sudah siap kesana, tidak usah kabari saya. Kamu langsung ajak sopir saja.”
“Baik, Pak.”
“Hubungi saya jika ada keluhan atau kendala,” kata Pak Adnan lagi. “Kamu boleh keluar dari ruang rapat ini dan memikirkan langkah apa yang kamu lakukan.”
Aku bangun dan berjalan keluar. Sifat Pak Adnan berbeda dengan atasanku di kantor sebelumnya. Sepertinya ia tipe orang yang hanya membicarakan hal penting saja.
Satpam memberi tahu dimana ruanganku. Aku berada satu ruangan dengan tiga orang staf lainnya. Dua diantaranya perempuan, yang satu laki-laki. Jadi, ada tiga perempuan di sini.
“Baru pindah dari kantor cabang ya? Kenalkan, aku Indi,” kata seorang wanita yang tubuhnya lebih pendek dari aku itu.
“Aku Lidya.”
“Aku Anggi. Dan dia, Harsa,” ucap Anggi—perempuan yang riasannya tebal—sambil menunjuk satu-satunya lelaki di ruang kami.
“Aku Nara, semoga kita bisa bekerjasama,” jawabku sambil tersenyum lalu duduk di kursi.
“Pak Adnan orangnya serius sekali. Kamu jangan coba-coba bercanda sama dia. Dia itu kayak kayu yang lurus dan keras susah dipatahkan kalu berargumen,” kata Anggi sambil mengoleskan lipstik ke bibirnya.
“Makanya jadi bujang lapuk gak nikah-nikah,” celetuk Lidya.
“Jangan keras-keras, Lidya! Nanti Indi lapor sama bestie dia tuh, yang cinta banget sama Pak Adnan.” Anggi berkelakar. “Satu lagi, Nara, jangan dektin Pak Adnan, nanti kamu dimusuhi Si Centil Inggit, bestie-nya Indi.”
“Kalian kenapa sih benci banget sama Inggit? Bukan urusan kalian Inggit mau suka Adnan atau tidak.” Indi menaikkan nada suaranya.
Aku mulai membuka laptop. Urusan apapun di kantor ini, aku tidak akan mencampurinya.
“Mulai lagi deh. Kerja! Kerja! Nanti debat lagi, nanti musuhan lagi, aku yang bingung mendamaikan kalian.” Harsa bangun dari kursi dan menatap satu per satau mereka. “Nara, kerjakan saja bagian kamu! Jangan hiraukan perempuan-perempuan ribet ini.”
Aku melempar senyum pada mereka satu per satu. Bagaimanapun aku orang baru yang perlu bekerjasama dengan mereka, jadi sebisa mungkin baik dengan semua orang yang ada di sini. Tanganku lincah berselancar di akun media sosial milik Tasya. Mengamati semua foto yang barangkali bisa memberi ide bagaimana masuk ke lingkaran mereka.
Tiga perempuan di ruangan ini ramai membahas sesuatu yang tidak ku pahami. Pak Adnan masuk ruangan, semuanya diam dan suasana berubah hening.
“Indi, siapa yang taruh kue di meja kerjaku?” tanya dia.
“Anu, Pak, itu ....”
“Aku tidak suka diberi makanan! Ini, kembalikan sama yang punya.” Pak Adnan melewati mejaku dan berjalan ke arah Indi duduk.
Aku menemukan sebuah foto yang diunggah Tasya dimana di gambar itu menampakkan semua orang yang bekerja di rumahnya. Dan diantara mereka ada sosok yang masih ku kenal.
Pak Dudung dan Bik Ipah.
Mereka berdua adalah pelayan kesayangan Ibu. Jantungku berdegup kencang. Timbul pertanyaan dalam benak. Apa mereka masih ada di pihak Ibu?
“Nara, sudah dapat jadwal menemui calon klien? Lebih cepat lebih baik.” Suara Pak Adnan membuatku kaget.
“I-iya, Pak, sekarang saya bisa.”
Di kamar utama rumah keluarga Hendro Rahmawan, Tasya sedang duduk di depan meja rias sambil melepas anting-anting yang dikenakannya sejak sore.Sementara itu, Nizar berdiri tidak jauh dari ranjang. Pandangannya tertuju pada sebuah lukisan besar yang tergantung di dinding.Lukisan itu sebenarnya sudah ada sejak lama. Namun, selama hampir setahun tinggal di rumah tersebut, Nizar nyaris tidak pernah memperhatikannya.Selama ini, ia memang tidak terlalu peduli dengan apa pun yang ada di rumah Tasya. Baginya, pernikahan mereka hanyalah kesepakatan bisnis yang kebetulan dibungkus dengan hubungan suami istri.Ia menjalani semuanya tanpa keinginan untuk mengenal lebih jauh kehidupan keluarga istrinya.Akan tetapi, entah mengapa, malam itu lukisan tersebut menarik perhatiannya.Nizar melangkah mendekat.Lukisan berukuran besar itu menggambarkan pemandangan taman dengan pepohonan rindang dan sebuah bangunan tua di kejauhan. Bingkainya tampak kokoh, tetapi posisinya sedikit miring.Nizar mengulu
"Sudah selesai urusannya?" tanya ibu Adnan sambil mengusap kepala Nara saat gadis itu mencium tangan. "Belum, Bu.""Makan dulu, ayo!" ajak ibu Adnan. Mereka bertiga makan dalam satu meja. Sesekali ibu Adnan menyuruh Nara menambah nasi, tetapi ditolak. Selesai makan, ibu Adnan langsung mengemasi piring. Sedangkan Nara dan Adnan masih duduk di kursi sambil memainkan ponsel. Satu pesan masuk dari Nizar membuat mata Nara membelalak."Kenapa?" tanya Adnan. Nara bergerming. "Kenapa?" ulang Adnan. Nara membacakan pesan Nizar. "Jangan dibalas!" tegas Adnan.Nara mengangkat wajah, menatap lelaki yang duduk di sampingnya. "Kenapa?"Adnan meletakkan ponselnya di atas meja, lalu mengalihkan perhatian sepenuhnya kepada Nara."Kalau kamu membalasnya sekarang, dia akan tahu kalau pesan itu berhasil membuatmu panik."Nara terdiam. Ia tidak bisa membantah perkataan Adnan begitu saja. Lelaki itu memang terlalu jeli memperhatikan situasi."Orang seperti Nizar tidak akan mengirim pesan tanpa alas
Sementara itu, di rumah keluarga Hendro, Nizar berdiri di depan jendela kamar dengan ponsel menempel di telinga. Ia mendengus kasar karena Nara tak mau angkat telepon. Tatapannya tertuju pada halaman rumah, tetapi pikirannya berada jauh di rumah sakit. Adisty membutuhkan dia saat ini. Namun, ada masalah lain yang tidak bisa diabaikannya.Tasya.Sejak kejadian makan siang yang batal, Tasya sama sekali tidak berbicara kepadanya. Perempuan itu bahkan tidak menoleh ketika Nizar berkali-kali mencoba bertanya. Nizar mengembuskan napas panjang.Dia tahu Tasya sedang marah. Pertanyaan Tasya tentang hubungan mereka yang semakin renggang masih terngiang-ngiang di kepalanya.Selama ini, Nizar memang terlalu sibuk membagi perhatian antara bisnis, urusan keluarga, dan Adisty. Dia bahkan hampir tidak pernah benar-benar memperhatikan perasaan Tasya sebagai istrinya. Bahkan terkadang lupa jika ia punya istri lain. Pernikahannya dengan Tasya merupakan bagian dari kesepakatan dua keluarga. Keluarga
Nara keluar dari gedung rumah sakit dengan langkah terburu-buru. Wajahnya tampak tenang, tetapi pikirannya masih tertinggal pada permintaan Adisty yang baru saja didengarnya.Memasukkan Aurellie ke panti asuhan.Permintaan itu terus terngiang di telinganya. Nara tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi dalam rumah tangga Nizar hingga Adisty begitu takut anaknya berada di tangan lelaki itu. Namun, satu hal yang pasti, Nara tidak ingin terlibat terlalu jauh dalam urusan yang bukan menjadi tanggung jawabnya.Nara sudah terlalu lama kehilangan haknya sendiri. Kali ini, dia harus mendahulukan kepentingan ibunya."Nara!"Suara Adnan membuat Nara mengangkat wajah. Lelaki itu berdiri di samping mobil dengan satu tangan memegang kunci kendaraan."Kenapa lama sekali? Aku sudah menunggu hampir sepuluh menit.""Maaf, Pak. Tadi ada yang harus aku selesaikan."Adnan memperhatikan wajah Nara sejenak. Ada sesuatu yang berbeda dari ekspresi perempuan itu, tetapi Adnan tidak bertanya lebih jauh."Sudah s
Tasya menatap punggung ibunya yang semakin menjauh. Perkataan Dewi masih terngiang-ngiang di telinganya, terutama ketika perempuan itu menyuruhnya memeriksa ponsel Nizar.Semakin dipikirkan, semakin panas hatinya.Selama ini, Nizar memang bukan suami yang hangat. Lelaki itu menikahinya tanpa banyak janji manis, jarang mengajaknya pergi, bahkan beberapa kali menghilang selama berhari-hari dengan alasan pekerjaan. Tasya sudah berulang kali mengeluh kepada Hendro, tetapi ayahnya terlihat acuh dan menyuruh agar ia tidak banyak berprasangka, Sekarang, setelah sekian lama menahan diri, dia mulai merasa kesabarannya telah dipermainkan."Mas Nizar, kamu pikir aku ini siapa?" gumamnya.Dia segera bangkit dan menaiki tangga menuju kamar.Pintu kamar terbuka. Nizar tidak ada di sana.Tasya melirik kamar mandi yang pintunya terbuka, kemudian mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Ponsel suaminya tidak terlihat.Dia mengumpat pelan.Lelaki itu pasti berada di ruang kerja.Tanpa membuang waktu,
Dewi bukan perempuan yang mudah percaya begitu saja.Dia telah bertahun-tahun tinggal di rumah itu. Dia tahu bagaimana Dudung dan Ipah bekerja, bagaimana mereka berbicara, dan bagaimana keduanya biasanya bersikap ketika tidak ada yang perlu disembunyikan.Akan tetapi, beberapa hari terakhir, ada sesuatu yang berbeda.Keduanya seperti sedang menjaga rahasia.Dewi meninggalkan taman atas dan turun menuju ruang makan. Di sana, Ipah sedang menata beberapa piring, sementara Dudung baru saja masuk dari halaman belakang."Ipah."Perempuan paruh baya itu menoleh."Iya, Bu?""Nara sudah berapa kali ke rumah ini?"Tangan Ipah yang sedang memegang piring mendadak berhenti.Hanya sebentar.Namun, jeda kecil itu tidak luput dari pengamatan Dewi."Berapa kalinya saya tidak terlalu tahu, Bu. Saya lihat dia waktu sama Non Tasya.""Kenapa dia bisa begitu mudah meyakinkan Tasya untuk merenovasi beberapa bagian rumah inj?""Kalau itu saya tidak tahu, Bu, tanya saja sama Non Tasya. Saya sendiri kan tidak







