LOGIN
MENJADI SIMPANAN ADIK IPARKU
Mataku memanas dan tangan mengepal tatkala melihat beberapa foto yang terpajang di sebuah akun media sosial. Potret keluarga bahagia dengan senyum manis, terasa begitu menyakitkan. Ayah melepas putri tiri tercintanya ke pelaminan dengan pesta yang megah. Sementara aku--anak kandung yang seharusnya mewarisi seluruh kekayaan keluarga--harus dibuang dengan bekal hidup seadanya dengan alasan yang tidak masuk akal.
Jariku lincah memperhatikan satu demi satu postingan foto di akun Dewi--istri Ayah sekarang--alias wanita perebut kebahagiaan kami. Tanganku berhenti pada sebuah foto yang memperlihatkan nama kedua mempelai.
Tasya Pramesti Hendro dan Nizar Evano Hermawan.
Tasya sudah diberi nama belakang Ayah meskipun ia hanya anak tiri. Ini keterlaluan.
Unggahan itu ternyata sudah satu tahun yang lalu. Sementara pada unggahan foto yang lain, ada mereka yang liburan ke luar negeri bersama. Tasya tipe cewek yang menunjukkan gaya hidup hedonisme. Bagaimana hati ini tak membara, mendapati semua fasilitas yang dinikmati adalah apa yang seharusnya menjadi milikku.
Meski sudah dewasa, aku tidak lupa bagaimana bentuk wajahnya dulu. Berbeda dengan sekarang. Hidungnya terlihat mancung dengan dagu lancip. Jelas dia sudah melakukan operasi plastik.
Tanganku semakin erat mengepal. Sudah cukup lama berdiam diri dan menahan derita, sekarang saatnya aku akan datang kembali ke kehidupan mereka, merebut semua yang seharusnya menjadi hakku. Usiaku sudah cukup matang untuk bisa menghadapi mereka. Akan ku kembalikan Tasya dan Dewi ke posisi dimana mereka dulu berasal.
Aku mulai berselancar di dunia maya mencari tahu sosok suami Tasya.
Nizar Evano Hermawan seorang pengusaha yang bergerak di bidang properti tepatnya berkedudukan sebagai developer. Dia menikahi Tasya, kemungkinan karena faktor status sosial ayahku. Itik buruk rupa yang menjelma menjadi puteri raja dengan cara yang licik. Masih ingat pertama kali bertemu dengannya, ia hanya gadis kecil yang memakai baju usang.
Dua puluh tahun yang lalu, saat aku berusia delapan tahun ....
“Aku tidak akan mengizinkan kamu menikah lagi. Siapa yang sudi dimadu?” Ibu berteriak dari dalam kamar.
Tubuh kecilku mengintip dari balik pintu yang separuhnya terbuka.
“Heni, perkebunan kita sudah berkembang pesat. Aku tidak tega kalau harus melibatkan kamu dalam urusan itu, sementara aku butuh partner yang bisa membantu di sana. Jika aku menikah lagi, kamu bisa tenang di rumah menjaga dan menemani Farabella. Apalagi kamu sekarang juga hamil muda. Aku janji, waktuku akan lebih banyak untuk kalian.”
“Siapa wanita itu?” tanya Ibu dengan suara bergetar.
“Namanya Dewi. Dia baru beberapa bulan bekerja di perkebunan. Dia sarjana pertanian, jadi cocok untuk bergabung dengan keluarga kita.”
“Gadis atau janda?”
“Janda beranak satu, umur anaknya empat tahun. Selisih empat tahun dengan Bella. Mereka bisa menjadi kakak adik yang baik. Aku janji, kita akan menjadi keluarga yang bahagia. Rumah ini terlalu besar jika hanya ditinggali aku, kamu dan Bella saja.”
Ibu membanting vas bunga. Setelah itu, Bibi mengajakku pergi dan tidak tahu apa yang terjadi.
Ibu yang hamil muda dengan keadaan fisik yang lemah, jadi sering masuk rumah sakit, kadang sampai dua minggu dirawat. Dan ketika Ibu tidak ada, wanita itu datang ke rumah, tidur di salah satu kamar di rumah kami. Ia membawa serta seorang anak perempuan dan aku harus rela berbagi kamar dengan anak kecil itu. Meski kamar kami banyak, anak yang bernama Tasya itu tetap meminta tidur di kamarku.
Hidupku berubah seketika. Dari yang menikmati semua kemewahan seorang diri, tiba-tiba harus selalu mengalah dalam segala hal. Umruku masih terlalu kecil untuk tahu tentang apa yang terjadi secara detail.
“Aku mau boneka Kak Bella.”
“Bella, kasih bonekanya buat Dek Tasya, ya!” bujuk Ayah.
“Aku mau bantal Kak bella.”
“Bella, kasih bantalnya untuk Tasya,” bujuk Ayah lagi.
Selalu seperti itu. Semua hal yang menjadi milikku, selalu Tasya minta dan Ayah memintaku mengalah.
“Bella, ayah Tasya sudah meninggal. Tidak apa-apa kamu sedikit berbagi ya, Nak. Kamu sudah memiliki semua kemewahan sejak lahir,” ujar Ayah.
Suatu hari saat ada acara di perkebunan dengan para karyawan, Dewi berdandan cantik seperti nyonya dari keluarga ini. Tasya tidak ketinggalan. Ibu yang lemah harus bolak balik rumah sakit, sehingga dengan leluasa, Dewi perlahan mengambil alih posisi nyonya di rumah ini.
“Aku mau pakai bajunya Kak Bella.”
“Bella, kamu tukeran baju sama Tasya, ya!” Kali ini wanita bernama Dewi itu yang meminta.
“Tidak. Aku tidak mau selalu mengalah dengan dia. Baju dia lebih kecil dan tidak muat!” teriakku menolak.
Tasya selalu menangis jika keinginannya tidak dipenuhi. Ayah tentu saja akan membujukku untuk bertukar baju dengan dia.
Mereka akan duduk bersama di barisan paling depan, sementara aku yang putri kandung, harus duduk di belakang bersama karyawan.
Lambat laun, Tasya merebut posisiku. Ibu yang sedang mengandung dan harus mendapati kenyataan Ayah menikah lagi akhirnya terkena gangguan mental dan harus masuk ke rumah sakit jiwa. Sedangkan aku, setelah lulus SD Ayah mengirimku ke pesantren dan tinggal di sana tanpa pernah dijenguk bahkan saat hari raya tiba.
Setelah lulus SMP, Ayah datang memberi kabar jika Ibu telah tiada. Remuk, hancur dan aku tidak tahu lagi bagaimana harus menjalani hidup seorang diri karena setelah itu, Ayah mengirimku ke pesantren yang lain lagi dan seperti yang sudah terjadi sebelumnya, tidak pernah dijenguk apalagi diajak pulang.
Bayangkan! Anak SMP harus hidup sendiri di pesantren tanpa pernah dijenguk, apalagi diajak pulang. Diberi kabar jika Ibu meninggal tanpa ada keluarga yang menghibur. Saat libur tiba, semua anak bergembira kecuali aku, karena harus menjadi penunggu kamar seorang diri. Beruntung masih ada beberapa mbak-mbak pengurus yang tidak ikut pulang.
Lulus SMA, Ayah menjemputku dan menyuruh kuliah di kota yang jauh dari rumah kami dulu. Ayah membelikanku sebuah rumah kecil dan memberiku tabungan.
Dulu aku selalu menangis, tetapi lambat laun air mata ini sudah kering dan mentalku sudah terbiasa menghadapi segalanya sendiri.
“Ini untuk hidup kamu selama kuliah. Pandailah dalam mengelola keuangan agar kamu tahu rasanya hidup prihatin seperti apa,” ucapnya sebelum pergi dan sejak saat itu dia tidak pernah datang lagi.
***
Farbella Naraya Hendro. Sebuah nama yang Ibu pilih untukku. Kini aku sudah bekerja di sebuah perusahaan asuransi dan tinggal di rumah kontrakan. Sementara rumah pemberian Ayah sudah ku jual karena saat itu butuh biaya tambahan untuk skripsi dan wisuda. Aku masih betah menyendiri karena trauma dengan akhir cerita tragis Ibu.
Hari ini aku dipanggil pimpinan. Beliau mengatakan aku harus dipindah karena ada kekosongan di kantor beberapa kota. Beliau meminta aku memilih salah satu kota yang disebutkan. Dan dari kota-kota itu ada tempat dimana aku dilahirkan. Maka aku memilih tempat itu. Beliau setuju dan langsung mengurus semua hal yang berkaitan dengan perpindahanku.
“Kamu akan dibantu Adnan disana, jadi jangan khawatir!” ucap lelaki berusia empat puluh lima tahun itu.
Belasan tahun aku dibuang. Dua belas tahun usiaku saat Ayah menyingkirkanku dari kehidupan dia dan istri barunya, kini saatnya pulang untuk mengambil apa yang yang seharusnya menjadi milikku.
Ini bukan balas dendam, tapi mengambil kembali apa yang menjadi hakku.
Ayah, aku datang. Aku akan menyusun rencana untuk mendapatkan semua hakku yang Ayah berikan pada Tasya dan ibunya.
BAB 8Kami berdua berangkat ke kantor notaris naik mobil Nizar. Sepanjang perjalanan aku diam, mendengarkan Nizar yang sibuk dengan telepon dari beberapa kontraktor.Sampai di kantor notaris, Nizar menyampaikan keinginan dia dan rencana kami. Tidak ada yang berubah angkanya. Tetap lima puluh lima puluh.“Boleh lihat sertifikat tanahnya. Harus saya periksa agar tidak terjadi masalah di kemudian hari,” kata Notaris yang bernama Pak Angga itu.Nizar menyodorkan sertifikat. Lama kami menunggu. Pak Angga berkali-kali mengetik sesuatu di layar komputer.“Tanah ini dulunya satu sertifikat, tetapi sekarang sudah dipecah jadi tiga ya?”“Iya mungkin, Pak. Saya tidak tahu karena itu tanah hasil pemberian mertua saya. Sebelah kanan dan kiri memang sudah jadi milik adik dan mertua saya,” jawab Nizar.Aku pura-pura santai, padahal dadaku bergemuruh ingin mengetahui tentgang informasi penting lainnya.“Sertifikat atas nama Hendro Rahmawan, tetapi awalnya bukan itu namanya. Sertifikat awal atas nama
BAB 7Nizar diam belum memberikan jawaban. Aku melirik jam sudah pukul lima sore.“Aku pamit, Pak Nizar. Salam untuk Aurell,” ucapku sambil bangun dari kursi.“Dua puluh lima persen, deal, Nara?”“Saya permisi, Pak.”“Tiga puluh persen.” Pak Nizar terus menaikkan angka, tetapi aku tetap pada pendirian.Aku mengangguk sopan, lalu melangkah pergi.“Nara, aku tidak menyangka kalau kamu punya niat sejauh itu ingin memanfaatkan keadaan ini.”“Aku memanfaatkan keadaan? Bukan aku yang mengajak kerjasama ini, Pak. Anda yang menawarkan. Jika iya, sepakat, maka terjadi. Jika tidak, aku tidak merasa rugi.”Langkah ku percepat meninggalkan caffe menuju jalan besar untuk mencari taxi. Tak ku sangka, Nizar berlari mengejar.“Ikut aku ke rumah sakit. Tolong, Nara. Adisti sadar. Aku tidak bisa menghadapi situasi ini sendiri. Aku aku butuh teman ....” Nizar menunduk dengan wajah yang menangis.“Aku tidak mau Anda mengatakan aku sedang memanfaatkan situasi. Hadapi sendiri, Pak! Jangan libatkan orang la
BAB 6“Wanita pilihanku adalah Adisti. Gadis cantik, pintar, dan ulet. Dia tinggal dengan neneknya karena ibunya sudah meninggal, sementara ayahnya pergi menikah lagi. Aku tidak bisa meninggalkan Adisti karena selain cinta, aku juga sangat kasihan. Dia kuliah dengan bekerja sendiri dan mengandalkan beasiswa. Adisti tahu jika aku dijodohkan. Dia ikhlas jika kami akhirnya tidak bersama,” ucap Nizar sambil menoleh memandangku.Nizar berhenti bercerita. Ia menangis sesenggukan.“Ayah mengancam akan membuat hidup Adisti sengsara jika aku menolak. Aku masih berhubungan dengan Adisti meski sudah dijodohkan. Aku berharap ada keajaiban yang membuat perjodohan itu batal. Suatu ketika nenek Adisti meninggal, dan yang lebih parah dia divonis terkena kanker paru-paru.”Aku masih diam.“Aku menikahi Adisti tanpa sepengetahuan keluarga. Adisti menolak, tetapi aku tidak bisa meninggalkan dia dalam keadaan serapuh itu. Aku membawa dia ke luar pulau Jawa. Hidup berdua di sana dan keluargaku tidak tahu
BAB 5Ternyata kami menuju lantai yang sama. Saat aku keluar dari lift, Nizar memandangku dengan pandangan yang seperti memohon untuk tidak berbuat hal yang bisa merugikannya. Aku cuek, pura-pura tidak saling kenal.“Papa, Mama, nanti kita akan berenang bersama. Papa, jangan pergi-pergi lagi ya? Jangan tinggalkan Aurell terus. Kasihan Mama sering nangis sendirian kalau Papa enggak pulang.”Aurell masih kecil, tetapi berbicaranya jelas sekali.Aku masuk kamar dan pikiran ini sibuk menerka tentang status Nizar. Tasya, tidak ada hidup yang sempurna. Kamu menganggap jika dirimu sudah mendapatkan semua, tetapi ternyata, lelaki yang menikah denganmu dia menyembunyikan rahasia besar. Aku yakin, setelah ini Nizar akan menceritakan tentang apa yang ia sembunyikan.Udara di luar sepertinya sejuk. Aku berjalan menuju balkon untuk menikmatinya. Saat berpaling ke arah kanan, tak disangka, Nizar berdiri di sana mengamati. Wajahku segera berpaling ke arah lain.Kenapa kamu ada di hotel ini?Kamu tid
BAB 4Pagi aku sudah sampai kantor. Menata meja, membersihkan ruangan, lalu duduk santai sambil mengerjakan administrasi yang berkaitan dengan bagianku.Cleaning servis yang baru datang kaget, melihat ruangan sudah bersih.“Mbak ngepel sendiri?”Aku mengangguk sambil tersenyum.“Mbak, lain kali jangan ya! Nanti aku dimarahi Pak Adnan.”“Aku tidak akan lapor.”“Aku sudah mendengar.” Pak Adnan tiba-tiba masuk ruangan.“Jangan marah sama dia. Marah sama aku saja!” ucapku memasang wajah kesal.“Kamu beli furniture untuk ruangan bos yang baru selesai direnovasi.”“Baik, Pak. Mohon share alamat toko yang Bapak inginkan.” Aku menjawab sambil merapikan tas untuk dibawa pergi.“Kamu akan membeli sama aku.”“Jika saya yang harus memilih barangnya, saya bisa pergi sendiri atau diantar Pak Abdul. Tetapi kalau harus Pak Adnan yang memilih barangnya, mohon maaf, Pak, cukup Bapak yang pergi sendiri sepertinya.”Aku kembali duduk.“Ok, kamu berangkat sama Pak Abdul.” Pak Adnan berlalu pergi.Akhirnya
BAB 3Aku berangkat ke kantor Nizar naik mobil bersama pak Abdul, sopir kantor. Sepanjang jalan berdoa, semoga hari ini bisa bertemu langsung dengan Nizar. Meskipun nantinya akan menimbulkan luka jika mengetahui sebahagia itu kehidupan Tasya, tetapi aku ingin cepat masuk ke kehidupan mereka.“Mbak sudah sampai, itu kantornya benar ada tulisan nama perusahaannya. Semoga Mbak Nara diberi kelancaran ya?” ujar Pak Abdul ketika sampai di depan kantor Nizar.Lentera Hermawan Land. Nama kantor perusahaan milik Nizar. Aku masuk untuk bertemu dengan pemiliknya. Meski hanya berbekal keyakinan setipis tissue bisa bertemu dan bekerjasama, nyatanya nyaliku cukup kuat untuk bisa berhadapan langsung dengan sosok suami Tasya.Pak Abdul kembali ke kantor setelah menurunkanku. Aku langsung menemui bagian resepsionis.“Pak Nizar sedang turun ke lapangan, Bu. Kalau mau menunggu silakan, tapi tidak janji beliau mau kesini jam berapa.” Jawaban dari resepsionis membuat aku sedikit kecewa.“Tapi pasti datang







