分享

AKU KEMBALI UNTUK MEREBUT HARTAKU
AKU KEMBALI UNTUK MEREBUT HARTAKU
作者: Nay Azzikra

BAB 1

作者: Nay Azzikra
last update publish date: 2026-08-30 20:01:32

MENJADI SIMPANAN ADIK IPARKU

Mataku memanas dan tangan mengepal tatkala melihat beberapa foto yang terpajang di sebuah akun media sosial. Potret keluarga bahagia dengan senyum manis, terasa begitu menyakitkan. Ayah melepas putri tiri tercintanya ke pelaminan dengan pesta yang megah. Sementara aku--anak kandung yang seharusnya mewarisi seluruh kekayaan keluarga--harus dibuang dengan bekal hidup seadanya dengan alasan yang tidak masuk akal.

Jariku lincah memperhatikan satu demi satu postingan foto di akun Dewi--istri Ayah sekarang--alias wanita perebut kebahagiaan kami. Tanganku berhenti pada sebuah foto yang memperlihatkan nama kedua mempelai.

Tasya Pramesti Hendro dan Nizar Evano Hermawan.

Tasya sudah diberi nama belakang Ayah meskipun ia hanya anak tiri. Ini keterlaluan.

Unggahan itu ternyata sudah satu tahun yang lalu. Sementara pada unggahan foto yang lain, ada mereka yang liburan ke luar negeri bersama. Tasya tipe cewek yang menunjukkan gaya hidup hedonisme. Bagaimana hati ini tak membara, mendapati semua fasilitas yang dinikmati adalah apa yang seharusnya menjadi milikku.

Meski sudah dewasa, aku tidak lupa bagaimana bentuk wajahnya dulu. Berbeda dengan sekarang. Hidungnya terlihat mancung dengan dagu lancip. Jelas dia sudah melakukan operasi plastik.

Tanganku semakin erat mengepal. Sudah cukup lama berdiam diri dan menahan derita, sekarang saatnya aku akan datang kembali ke kehidupan mereka, merebut semua yang seharusnya menjadi hakku. Usiaku sudah cukup matang untuk bisa menghadapi mereka. Akan ku kembalikan Tasya dan Dewi ke posisi dimana mereka dulu berasal.

Aku mulai berselancar di dunia maya mencari tahu sosok suami Tasya.

Nizar Evano Hermawan seorang pengusaha yang bergerak di bidang properti tepatnya berkedudukan sebagai developer. Dia menikahi Tasya, kemungkinan karena faktor status sosial ayahku. Itik buruk rupa yang menjelma menjadi puteri raja dengan cara yang licik. Masih ingat pertama kali bertemu dengannya, ia hanya gadis kecil yang memakai baju usang.

Dua puluh tahun yang lalu, saat aku berusia delapan tahun ....

“Aku tidak akan mengizinkan kamu menikah lagi. Siapa yang sudi dimadu?” Ibu berteriak dari dalam kamar.

Tubuh kecilku mengintip dari balik pintu yang separuhnya terbuka.

“Heni, perkebunan kita sudah berkembang pesat. Aku tidak tega kalau harus melibatkan kamu dalam urusan itu, sementara aku butuh partner yang bisa membantu di sana. Jika aku menikah lagi, kamu bisa tenang di rumah menjaga dan menemani Farabella. Apalagi kamu sekarang juga hamil muda. Aku janji, waktuku akan lebih banyak untuk kalian.”

“Siapa wanita itu?” tanya Ibu dengan suara bergetar.

“Namanya Dewi. Dia baru beberapa bulan bekerja di perkebunan. Dia sarjana pertanian, jadi cocok untuk bergabung dengan keluarga kita.”

“Gadis atau janda?”

“Janda beranak satu, umur anaknya empat tahun. Selisih empat tahun dengan Bella. Mereka bisa menjadi kakak adik yang baik. Aku janji, kita akan menjadi keluarga yang bahagia. Rumah ini terlalu besar jika hanya ditinggali aku, kamu dan Bella saja.”

Ibu membanting vas bunga. Setelah itu, Bibi mengajakku pergi dan tidak tahu apa yang terjadi.

Ibu yang hamil muda dengan keadaan fisik yang lemah, jadi sering masuk rumah sakit, kadang sampai dua minggu dirawat. Dan ketika Ibu tidak ada, wanita itu datang ke rumah, tidur di salah satu kamar di rumah kami. Ia membawa serta seorang anak perempuan dan aku harus rela berbagi kamar dengan anak kecil itu. Meski kamar kami banyak, anak yang bernama Tasya itu tetap meminta tidur di kamarku.

Hidupku berubah seketika. Dari yang menikmati semua kemewahan seorang diri, tiba-tiba harus selalu mengalah dalam segala hal. Umruku masih terlalu kecil untuk tahu tentang apa yang terjadi secara detail.

“Aku mau boneka Kak Bella.”

“Bella, kasih bonekanya buat Dek Tasya, ya!” bujuk Ayah.

“Aku mau bantal Kak bella.”

“Bella, kasih bantalnya untuk Tasya,” bujuk Ayah lagi.

Selalu seperti itu. Semua hal yang menjadi milikku, selalu Tasya minta dan Ayah memintaku mengalah.

“Bella, ayah Tasya sudah meninggal. Tidak apa-apa kamu sedikit berbagi ya, Nak. Kamu sudah memiliki semua kemewahan sejak lahir,” ujar Ayah.

Suatu hari saat ada acara di perkebunan dengan para karyawan, Dewi berdandan cantik seperti nyonya dari keluarga ini. Tasya tidak ketinggalan. Ibu yang lemah harus bolak balik rumah sakit, sehingga dengan leluasa, Dewi perlahan mengambil alih posisi nyonya di rumah ini.

“Aku mau pakai bajunya Kak Bella.”

“Bella, kamu tukeran baju sama Tasya, ya!” Kali ini wanita bernama Dewi itu yang meminta.

“Tidak. Aku tidak mau selalu mengalah dengan dia. Baju dia lebih kecil dan tidak muat!” teriakku menolak.

Tasya selalu menangis jika keinginannya tidak dipenuhi. Ayah tentu saja akan membujukku untuk bertukar baju dengan dia.

Mereka akan duduk bersama di barisan paling depan, sementara aku yang putri kandung, harus duduk di belakang bersama karyawan.

Lambat laun, Tasya merebut posisiku. Ibu yang sedang mengandung dan harus mendapati kenyataan Ayah menikah lagi akhirnya terkena gangguan mental dan harus masuk ke rumah sakit jiwa. Sedangkan aku, setelah lulus SD Ayah mengirimku ke pesantren dan tinggal di sana tanpa pernah dijenguk bahkan saat hari raya tiba.

Setelah lulus SMP, Ayah datang memberi kabar jika Ibu telah tiada. Remuk, hancur dan aku tidak tahu lagi bagaimana harus menjalani hidup seorang diri karena setelah itu, Ayah mengirimku ke pesantren yang lain lagi dan seperti yang sudah terjadi sebelumnya, tidak pernah dijenguk apalagi diajak pulang.

Bayangkan! Anak SMP harus hidup sendiri di pesantren tanpa pernah dijenguk, apalagi diajak pulang. Diberi kabar jika Ibu meninggal tanpa ada keluarga yang menghibur. Saat libur tiba, semua anak bergembira kecuali aku, karena harus menjadi penunggu kamar seorang diri. Beruntung masih ada beberapa mbak-mbak pengurus yang tidak ikut pulang.

Lulus SMA, Ayah menjemputku dan menyuruh kuliah di kota yang jauh dari rumah kami dulu. Ayah membelikanku sebuah rumah kecil dan memberiku tabungan.

Dulu aku selalu menangis, tetapi lambat laun air mata ini sudah kering dan mentalku sudah terbiasa menghadapi segalanya sendiri.

“Ini untuk hidup kamu selama kuliah. Pandailah dalam mengelola keuangan agar kamu tahu rasanya hidup prihatin seperti apa,” ucapnya sebelum pergi dan sejak saat itu dia tidak pernah datang lagi.

***

Farbella Naraya Hendro. Sebuah nama yang Ibu pilih untukku. Kini aku sudah bekerja di sebuah perusahaan asuransi dan tinggal di rumah kontrakan. Sementara rumah pemberian Ayah sudah ku jual karena saat itu butuh biaya tambahan untuk skripsi dan wisuda. Aku masih betah menyendiri karena trauma dengan akhir cerita tragis Ibu.

Hari ini aku dipanggil pimpinan. Beliau mengatakan aku harus dipindah karena ada kekosongan di kantor beberapa kota. Beliau meminta aku memilih salah satu kota yang disebutkan. Dan dari kota-kota itu ada tempat dimana aku dilahirkan. Maka aku memilih tempat itu. Beliau setuju dan langsung mengurus semua hal yang berkaitan dengan perpindahanku.

“Kamu akan dibantu Adnan disana, jadi jangan khawatir!” ucap lelaki berusia empat puluh lima tahun itu.

Belasan tahun aku dibuang. Dua belas tahun usiaku saat Ayah menyingkirkanku dari kehidupan dia dan istri barunya, kini saatnya pulang untuk mengambil apa yang yang seharusnya menjadi milikku.

Ini bukan balas dendam, tapi mengambil kembali apa yang menjadi hakku.

Ayah, aku datang. Aku akan menyusun rencana untuk mendapatkan semua hakku yang Ayah berikan pada Tasya dan ibunya.

在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP

最新章節

  • AKU KEMBALI UNTUK MEREBUT HARTAKU   BAB 29 B

    Di kamar utama rumah keluarga Hendro Rahmawan, Tasya sedang duduk di depan meja rias sambil melepas anting-anting yang dikenakannya sejak sore.Sementara itu, Nizar berdiri tidak jauh dari ranjang. Pandangannya tertuju pada sebuah lukisan besar yang tergantung di dinding.Lukisan itu sebenarnya sudah ada sejak lama. Namun, selama hampir setahun tinggal di rumah tersebut, Nizar nyaris tidak pernah memperhatikannya.Selama ini, ia memang tidak terlalu peduli dengan apa pun yang ada di rumah Tasya. Baginya, pernikahan mereka hanyalah kesepakatan bisnis yang kebetulan dibungkus dengan hubungan suami istri.Ia menjalani semuanya tanpa keinginan untuk mengenal lebih jauh kehidupan keluarga istrinya.Akan tetapi, entah mengapa, malam itu lukisan tersebut menarik perhatiannya.Nizar melangkah mendekat.Lukisan berukuran besar itu menggambarkan pemandangan taman dengan pepohonan rindang dan sebuah bangunan tua di kejauhan. Bingkainya tampak kokoh, tetapi posisinya sedikit miring.Nizar mengulu

  • AKU KEMBALI UNTUK MEREBUT HARTAKU   BAB 29 A

    "Sudah selesai urusannya?" tanya ibu Adnan sambil mengusap kepala Nara saat gadis itu mencium tangan. "Belum, Bu.""Makan dulu, ayo!" ajak ibu Adnan. Mereka bertiga makan dalam satu meja. Sesekali ibu Adnan menyuruh Nara menambah nasi, tetapi ditolak. Selesai makan, ibu Adnan langsung mengemasi piring. Sedangkan Nara dan Adnan masih duduk di kursi sambil memainkan ponsel. Satu pesan masuk dari Nizar membuat mata Nara membelalak."Kenapa?" tanya Adnan. Nara bergerming. "Kenapa?" ulang Adnan. Nara membacakan pesan Nizar. "Jangan dibalas!" tegas Adnan.Nara mengangkat wajah, menatap lelaki yang duduk di sampingnya. "Kenapa?"Adnan meletakkan ponselnya di atas meja, lalu mengalihkan perhatian sepenuhnya kepada Nara."Kalau kamu membalasnya sekarang, dia akan tahu kalau pesan itu berhasil membuatmu panik."Nara terdiam. Ia tidak bisa membantah perkataan Adnan begitu saja. Lelaki itu memang terlalu jeli memperhatikan situasi."Orang seperti Nizar tidak akan mengirim pesan tanpa alas

  • AKU KEMBALI UNTUK MEREBUT HARTAKU   BAB 28 B

    Sementara itu, di rumah keluarga Hendro, Nizar berdiri di depan jendela kamar dengan ponsel menempel di telinga. Ia mendengus kasar karena Nara tak mau angkat telepon. Tatapannya tertuju pada halaman rumah, tetapi pikirannya berada jauh di rumah sakit. Adisty membutuhkan dia saat ini. Namun, ada masalah lain yang tidak bisa diabaikannya.Tasya.Sejak kejadian makan siang yang batal, Tasya sama sekali tidak berbicara kepadanya. Perempuan itu bahkan tidak menoleh ketika Nizar berkali-kali mencoba bertanya. Nizar mengembuskan napas panjang.Dia tahu Tasya sedang marah. Pertanyaan Tasya tentang hubungan mereka yang semakin renggang masih terngiang-ngiang di kepalanya.Selama ini, Nizar memang terlalu sibuk membagi perhatian antara bisnis, urusan keluarga, dan Adisty. Dia bahkan hampir tidak pernah benar-benar memperhatikan perasaan Tasya sebagai istrinya. Bahkan terkadang lupa jika ia punya istri lain. Pernikahannya dengan Tasya merupakan bagian dari kesepakatan dua keluarga. Keluarga

  • AKU KEMBALI UNTUK MEREBUT HARTAKU   BAB 28 A

    Nara keluar dari gedung rumah sakit dengan langkah terburu-buru. Wajahnya tampak tenang, tetapi pikirannya masih tertinggal pada permintaan Adisty yang baru saja didengarnya.Memasukkan Aurellie ke panti asuhan.Permintaan itu terus terngiang di telinganya. Nara tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi dalam rumah tangga Nizar hingga Adisty begitu takut anaknya berada di tangan lelaki itu. Namun, satu hal yang pasti, Nara tidak ingin terlibat terlalu jauh dalam urusan yang bukan menjadi tanggung jawabnya.Nara sudah terlalu lama kehilangan haknya sendiri. Kali ini, dia harus mendahulukan kepentingan ibunya."Nara!"Suara Adnan membuat Nara mengangkat wajah. Lelaki itu berdiri di samping mobil dengan satu tangan memegang kunci kendaraan."Kenapa lama sekali? Aku sudah menunggu hampir sepuluh menit.""Maaf, Pak. Tadi ada yang harus aku selesaikan."Adnan memperhatikan wajah Nara sejenak. Ada sesuatu yang berbeda dari ekspresi perempuan itu, tetapi Adnan tidak bertanya lebih jauh."Sudah s

  • AKU KEMBALI UNTUK MEREBUT HARTAKU   BAB 27

    Tasya menatap punggung ibunya yang semakin menjauh. Perkataan Dewi masih terngiang-ngiang di telinganya, terutama ketika perempuan itu menyuruhnya memeriksa ponsel Nizar.Semakin dipikirkan, semakin panas hatinya.Selama ini, Nizar memang bukan suami yang hangat. Lelaki itu menikahinya tanpa banyak janji manis, jarang mengajaknya pergi, bahkan beberapa kali menghilang selama berhari-hari dengan alasan pekerjaan. Tasya sudah berulang kali mengeluh kepada Hendro, tetapi ayahnya terlihat acuh dan menyuruh agar ia tidak banyak berprasangka, Sekarang, setelah sekian lama menahan diri, dia mulai merasa kesabarannya telah dipermainkan."Mas Nizar, kamu pikir aku ini siapa?" gumamnya.Dia segera bangkit dan menaiki tangga menuju kamar.Pintu kamar terbuka. Nizar tidak ada di sana.Tasya melirik kamar mandi yang pintunya terbuka, kemudian mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Ponsel suaminya tidak terlihat.Dia mengumpat pelan.Lelaki itu pasti berada di ruang kerja.Tanpa membuang waktu,

  • AKU KEMBALI UNTUK MEREBUT HARTAKU   BAB 26 B

    Dewi bukan perempuan yang mudah percaya begitu saja.Dia telah bertahun-tahun tinggal di rumah itu. Dia tahu bagaimana Dudung dan Ipah bekerja, bagaimana mereka berbicara, dan bagaimana keduanya biasanya bersikap ketika tidak ada yang perlu disembunyikan.Akan tetapi, beberapa hari terakhir, ada sesuatu yang berbeda.Keduanya seperti sedang menjaga rahasia.Dewi meninggalkan taman atas dan turun menuju ruang makan. Di sana, Ipah sedang menata beberapa piring, sementara Dudung baru saja masuk dari halaman belakang."Ipah."Perempuan paruh baya itu menoleh."Iya, Bu?""Nara sudah berapa kali ke rumah ini?"Tangan Ipah yang sedang memegang piring mendadak berhenti.Hanya sebentar.Namun, jeda kecil itu tidak luput dari pengamatan Dewi."Berapa kalinya saya tidak terlalu tahu, Bu. Saya lihat dia waktu sama Non Tasya.""Kenapa dia bisa begitu mudah meyakinkan Tasya untuk merenovasi beberapa bagian rumah inj?""Kalau itu saya tidak tahu, Bu, tanya saja sama Non Tasya. Saya sendiri kan tidak

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status