LOGINBAB 6
“Wanita pilihanku adalah Adisti. Gadis cantik, pintar, dan ulet. Dia tinggal dengan neneknya karena ibunya sudah meninggal, sementara ayahnya pergi menikah lagi. Aku tidak bisa meninggalkan Adisti karena selain cinta, aku juga sangat kasihan. Dia kuliah dengan bekerja sendiri dan mengandalkan beasiswa. Adisti tahu jika aku dijodohkan. Dia ikhlas jika kami akhirnya tidak bersama,” ucap Nizar sambil menoleh memandangku.
Nizar berhenti bercerita. Ia menangis sesenggukan.
“Ayah mengancam akan membuat hidup Adisti sengsara jika aku menolak. Aku masih berhubungan dengan Adisti meski sudah dijodohkan. Aku berharap ada keajaiban yang membuat perjodohan itu batal. Suatu ketika nenek Adisti meninggal, dan yang lebih parah dia divonis terkena kanker paru-paru.”
Aku masih diam.
“Aku menikahi Adisti tanpa sepengetahuan keluarga. Adisti menolak, tetapi aku tidak bisa meninggalkan dia dalam keadaan serapuh itu. Aku membawa dia ke luar pulau Jawa. Hidup berdua di sana dan keluargaku tidak tahu sama sekali pernikahan ini. Ayah taunya aku pergi jauh karena menolak pernikahan dengan Tasya.”
Nizar tidak bicara lagi. Aku pun sama.
“Suatu hari kakakku menelpon dan mengatakan jika aku harus pulang karena mau tidak mau pernikahan harus tetap berjalan karena Ayah sudah hutang banyak pada ayahnya Tasya.” Setelah beberapa menit diam, Nizar kembali melanjutkan cerita.
Ayahnya Tasya? Apa Nizar tidak tahu kalau Tasya bukan anak kandung? Waktu mereka menikah, siapa yang jadi walinya?
“Adisti menyuruhku pulang dan menikahi Tasya. Ia rela dimadu, karena sadar jika kondisi kesehatannya sangat buruk. Ia bilang kalau umurnya tidak akan lama lagi dan menitipkan Aurell lalu menyuruhku jujur pada keluarga, tapi aku masih menutupi ini dari siapapun. Menjelang pernikahanku dengan Tasya, Adisti dan Aurel aku bawa ke Jakarta. Aku menyembunyikan mereka selama hampir satu tahun. Bulan lalu Adisti memaksa untuk pulang ke kota ini karena ingin berziarah ke makam ibu dan neneknya. Akhir-akhir ini ia sering kumat. Kata dokter kondisinya semakin memburuk.”
Aku masih diam karena bingung hendak mengatakan apa.
“Nara, tolong jangan katakan ini pada siapapun! Aku tidak siap dengan segala resiko yang akan terjadi. Aku akan kehilangan banyak hal jika keberadaan Aurell dan status pernikahanku diketehaui banyak orang. Tasya bisa melakukan tindakan yang brutal kalau sampai tahu hal ini.”
“Sampai kapan Anda akan menyembunyikan Aurell?”
“Aku tidak tahu ....”
Anggi menelpon. Aku tahu, dia pasti sedang menanti kedatanganku.
“Pak, aku ada janji sama atasanku. Aku pamit pergi. Semoga mama Aurell cepat sembuh.” Aku bangkit dan bersiap pergi.
“Nara, selain pembantuku, hanya kamu yang tahu hal ini. Aku akan sering meminta tolong sama kamu. Kamu boleh minta apa saja yang kamu inginkan, Nara. Asalkan kamu tetap merahasiakan hal ini.”
“Aku pamit, Pak,” ucapku lalu melangkah pergi.
Sampai di tempat diadakannya acara kantor, aku sudah terlambat. Seluruh pegawai kantor ikut, ada yang membawa serta keluarga mereka. Selama acara berlangsung, aku lebih banyak diam. Terlebih ada sepasang mata yang selalu menatap sinis dan memperhatikan gerak gerikku. Dia adalah Inggit. Sosok yang sangat ingin menjadikan Pak Adnan sebagai pasangan hidupnya.
Sepanjang hari otakku terus memikirkan Nizar, Adisti dan Tasya. Aku jadi penasaran, apa kompensasi yang akan ditawarkan oleh Nizar agar rahasianya tetap terjaga.
***
Dua hari setelah kejadian Adisti masuk rumah sakit, Nizar menelponku dan mengajak bertemu setelah pulang kerja. Lagi, ia mengajak janjian di sebuah caffe. Tidak ada basa-basi setelah kami bertemu.
Nizar bahkan belum sempat duduk dengan nyaman ketika langsung membuka pembicaraan.
“Aku ingin menawarkan kompensasi.”
Aku meletakkan ponsel di atas meja.
“Kompensasi?”
“Iya.”
“Untuk apa?”
Nizar menarik napas panjang. Wajahnya terlihat lebih kusut daripada terakhir kali aku bertemu dengannya.
“Karena kamu sudah mengetahui terlalu banyak tentang keluargaku.”
Aku tersenyum tipis.
“Bukankah seharusnya saya mengatakan terima kasih karena Bapak sudah percaya kepada saya?”
“Ini bukan masalah percaya atau tidak percaya.”
“Lalu?”
“Masalahnya, kalau rahasia ini terbongkar, hidupku akan hancur.”
Aku menatap lelaki itu tanpa berkedip.
“Kalau begitu jangan sembunyikan!”
Nizar menggeleng.
“Kamu tidak tahu seperti apa keluargaku. Kamu pernah tidak dalam keluargamu, kamu merasa harus berkorban banyak hal padahal hatimu tidak bahagia?”
“Tidak sering,” jawabku asal.
Nizar mengeluarkan sebuah map dari dalam tas. “Aku sedang menyiapkan sebuah proyek baru. Bukalah!”
Aku membuka map itu. Beberapa lembar rancangan kawasan perumahan terpampang di hadapanku.
“Perumahan?”
“Ya.”
Aku membaca keterangan yang ada di sana.
Luas lahan cukup besar. Lokasinya strategis. Jumlah unit yang akan dibangun juga tidak sedikit.
“Kenapa Anda menunjukkan ini padaku?”
“Aku ingin menyiapkan masa depan anakku, tetapi aku tidak bisa menggunakan namaku sendiri. Perumahan ini akan aku bangun di tanah yang dihadiahi ayahnya Tasya.
Aku bergeming, menunggu Nizar berkata apa lagi.
“Aku tidak tahu berapa lama lagi Adisti akan bertahan. Kalau suatu hari aku kehilangan dia, aku tidak ingin Aurell tumbuh tanpa jaminan.”
Aku kembali melihat dokumen itu.
“Lalu apa hubungannya dengan saya?”
“Aku ingin kamu ikut dalam proyek ini.”
“Sebagai karyawan?”
“Sebagai partner. Aku mau meminjam nama kamu untuk atas nama kepemilikan perumahan ini. Jika Tasya bertanya, aku akan bilang kalau tanahnya sudah ku jual. Kamu paham maksudku?”
Sungguh Nizar terlalu ceroboh. Mempercayakan hal sebesar ini pada orang asing.
Aku tertawa kecil.
“Bapak baru mengenal saya beberapa hari.”
“Justru itu.”
Aku mengernyit.
“Maksudnya?”
“Kamu berani. Kamu teliti. Dan kamu tidak banyak bertanya ketika orang lain memberimu rahasia. Kamu beda dengan orang-orang yang ada di lingkungan kerjaku atau pertemananku. Aku yakin, kamu bisa ku ajak bekerja sama hal ini.”
“Saya tidak ingin terlibat jauh dengan masalah Anda.” Aku menyodorkan map Nizar. “Saya takut akan mengecewakan Anda.”
“Nara, aku tidak mau hendak minta tolong sama siapa lagi. Aku akan memberikan kamu kompensasi besar akan hal ini. Tidak hanya sekedar upah meminjam nama.”
Aku diam tidak menjawab apapun.
“Lokasinya strategis. Aku akan memberi kamu beberapa petak untuk membuka usaha. Kamu tahu kawasan Bukit Permata kan? Di sana letaknya.”
Tanah kawasan Bukit Permata. Ibu sering mengajakku kesana dulu. Ayah memberikan tanah Ibu untuk hadiah pernikahan Nizar dan Tasya? Aku berusaha meredam emosi, agar Nizar tidak curiga.
“Itu beresiko, aku tidak mau masuk dalam permasalahan Anda, pak Nizar,” jawabku tenang.
“Lima persen saham dari perumahan itu.”
Aku masih diam. Melihat sejauh mana Nizar akan merayu.
“Sepuluh?”
“Tidak.”
“Dua puluh. Nara, please. Ini sudah angka yang cukup tinggi menurutku.”
Aku menatap matanya. Lama terdiam, dia memandang seakan memohon.
“Nara ....”
“Lima puluh persen.”
Nizar terdiam. Beberapa detik kemudian ia tertawa tidak percaya.
“Kamu serius?”
“Sangat serius. Separuh lahan milik saya dan akan saya kembangkan sendiri.”
“Setengah lahan jadi milik kamu?”
“Ya.”
“Itu terlalu besar.”
“Kalau begitu Bapak tidak perlu memberi saya apa-apa.”
Aku mendorong map itu kembali ke arahnya.
“Saya tidak meminta uang untuk tutup mulut. Saya meminta bagian karena saya akan ikut menanggung risiko.”
“Risiko apa?”
“Jika Tasya mengetahui keberadaan Aurell dan Adisti, bukan hanya keluarga Bapak yang kacau. Saya juga bisa terseret. Kita semua akan hancur. Maka silakan bapak cari orang lain yang mau melakukan hal ini.”
Nizar terdiam.
“Lima puluh persen?”
“Lima puluh.”
Nizar menyandarkan tubuh.
“Kamu benar-benar tidak seperti yang aku kira.”
“Aku juga tidak pernah meminta Bapak menilaiku. Aku pun tidak pernah ingin masuk dalam lingkaran masalah Bapak. Aku diam dengan apa yang ku ketahui. Anda sendiri yang mengundang saya untuk ini. Pernahkah aku bertanya tentang kehidupan, Anda?”
Nizar menatapku tidak percaya. Ia mengambil map itu lagi. Namun, ada hal yang mengganggu dalam pikiran. Kenapa Ayah begitu mudahnya memberikan tanah warisan Ibu untuk Nizar? Dan juga bila perumahan itu deal atas namaku, apakah Nizar tidak akan curiga karena nama belakangku adalah Hendro.
Menurut kalian, apa Nizar akan memberikan lima puluh persennya untuk Nara?
BAB 8Kami berdua berangkat ke kantor notaris naik mobil Nizar. Sepanjang perjalanan aku diam, mendengarkan Nizar yang sibuk dengan telepon dari beberapa kontraktor.Sampai di kantor notaris, Nizar menyampaikan keinginan dia dan rencana kami. Tidak ada yang berubah angkanya. Tetap lima puluh lima puluh.“Boleh lihat sertifikat tanahnya. Harus saya periksa agar tidak terjadi masalah di kemudian hari,” kata Notaris yang bernama Pak Angga itu.Nizar menyodorkan sertifikat. Lama kami menunggu. Pak Angga berkali-kali mengetik sesuatu di layar komputer.“Tanah ini dulunya satu sertifikat, tetapi sekarang sudah dipecah jadi tiga ya?”“Iya mungkin, Pak. Saya tidak tahu karena itu tanah hasil pemberian mertua saya. Sebelah kanan dan kiri memang sudah jadi milik adik dan mertua saya,” jawab Nizar.Aku pura-pura santai, padahal dadaku bergemuruh ingin mengetahui tentgang informasi penting lainnya.“Sertifikat atas nama Hendro Rahmawan, tetapi awalnya bukan itu namanya. Sertifikat awal atas nama
BAB 7Nizar diam belum memberikan jawaban. Aku melirik jam sudah pukul lima sore.“Aku pamit, Pak Nizar. Salam untuk Aurell,” ucapku sambil bangun dari kursi.“Dua puluh lima persen, deal, Nara?”“Saya permisi, Pak.”“Tiga puluh persen.” Pak Nizar terus menaikkan angka, tetapi aku tetap pada pendirian.Aku mengangguk sopan, lalu melangkah pergi.“Nara, aku tidak menyangka kalau kamu punya niat sejauh itu ingin memanfaatkan keadaan ini.”“Aku memanfaatkan keadaan? Bukan aku yang mengajak kerjasama ini, Pak. Anda yang menawarkan. Jika iya, sepakat, maka terjadi. Jika tidak, aku tidak merasa rugi.”Langkah ku percepat meninggalkan caffe menuju jalan besar untuk mencari taxi. Tak ku sangka, Nizar berlari mengejar.“Ikut aku ke rumah sakit. Tolong, Nara. Adisti sadar. Aku tidak bisa menghadapi situasi ini sendiri. Aku aku butuh teman ....” Nizar menunduk dengan wajah yang menangis.“Aku tidak mau Anda mengatakan aku sedang memanfaatkan situasi. Hadapi sendiri, Pak! Jangan libatkan orang la
BAB 6“Wanita pilihanku adalah Adisti. Gadis cantik, pintar, dan ulet. Dia tinggal dengan neneknya karena ibunya sudah meninggal, sementara ayahnya pergi menikah lagi. Aku tidak bisa meninggalkan Adisti karena selain cinta, aku juga sangat kasihan. Dia kuliah dengan bekerja sendiri dan mengandalkan beasiswa. Adisti tahu jika aku dijodohkan. Dia ikhlas jika kami akhirnya tidak bersama,” ucap Nizar sambil menoleh memandangku.Nizar berhenti bercerita. Ia menangis sesenggukan.“Ayah mengancam akan membuat hidup Adisti sengsara jika aku menolak. Aku masih berhubungan dengan Adisti meski sudah dijodohkan. Aku berharap ada keajaiban yang membuat perjodohan itu batal. Suatu ketika nenek Adisti meninggal, dan yang lebih parah dia divonis terkena kanker paru-paru.”Aku masih diam.“Aku menikahi Adisti tanpa sepengetahuan keluarga. Adisti menolak, tetapi aku tidak bisa meninggalkan dia dalam keadaan serapuh itu. Aku membawa dia ke luar pulau Jawa. Hidup berdua di sana dan keluargaku tidak tahu
BAB 5Ternyata kami menuju lantai yang sama. Saat aku keluar dari lift, Nizar memandangku dengan pandangan yang seperti memohon untuk tidak berbuat hal yang bisa merugikannya. Aku cuek, pura-pura tidak saling kenal.“Papa, Mama, nanti kita akan berenang bersama. Papa, jangan pergi-pergi lagi ya? Jangan tinggalkan Aurell terus. Kasihan Mama sering nangis sendirian kalau Papa enggak pulang.”Aurell masih kecil, tetapi berbicaranya jelas sekali.Aku masuk kamar dan pikiran ini sibuk menerka tentang status Nizar. Tasya, tidak ada hidup yang sempurna. Kamu menganggap jika dirimu sudah mendapatkan semua, tetapi ternyata, lelaki yang menikah denganmu dia menyembunyikan rahasia besar. Aku yakin, setelah ini Nizar akan menceritakan tentang apa yang ia sembunyikan.Udara di luar sepertinya sejuk. Aku berjalan menuju balkon untuk menikmatinya. Saat berpaling ke arah kanan, tak disangka, Nizar berdiri di sana mengamati. Wajahku segera berpaling ke arah lain.Kenapa kamu ada di hotel ini?Kamu tid
BAB 4Pagi aku sudah sampai kantor. Menata meja, membersihkan ruangan, lalu duduk santai sambil mengerjakan administrasi yang berkaitan dengan bagianku.Cleaning servis yang baru datang kaget, melihat ruangan sudah bersih.“Mbak ngepel sendiri?”Aku mengangguk sambil tersenyum.“Mbak, lain kali jangan ya! Nanti aku dimarahi Pak Adnan.”“Aku tidak akan lapor.”“Aku sudah mendengar.” Pak Adnan tiba-tiba masuk ruangan.“Jangan marah sama dia. Marah sama aku saja!” ucapku memasang wajah kesal.“Kamu beli furniture untuk ruangan bos yang baru selesai direnovasi.”“Baik, Pak. Mohon share alamat toko yang Bapak inginkan.” Aku menjawab sambil merapikan tas untuk dibawa pergi.“Kamu akan membeli sama aku.”“Jika saya yang harus memilih barangnya, saya bisa pergi sendiri atau diantar Pak Abdul. Tetapi kalau harus Pak Adnan yang memilih barangnya, mohon maaf, Pak, cukup Bapak yang pergi sendiri sepertinya.”Aku kembali duduk.“Ok, kamu berangkat sama Pak Abdul.” Pak Adnan berlalu pergi.Akhirnya
BAB 3Aku berangkat ke kantor Nizar naik mobil bersama pak Abdul, sopir kantor. Sepanjang jalan berdoa, semoga hari ini bisa bertemu langsung dengan Nizar. Meskipun nantinya akan menimbulkan luka jika mengetahui sebahagia itu kehidupan Tasya, tetapi aku ingin cepat masuk ke kehidupan mereka.“Mbak sudah sampai, itu kantornya benar ada tulisan nama perusahaannya. Semoga Mbak Nara diberi kelancaran ya?” ujar Pak Abdul ketika sampai di depan kantor Nizar.Lentera Hermawan Land. Nama kantor perusahaan milik Nizar. Aku masuk untuk bertemu dengan pemiliknya. Meski hanya berbekal keyakinan setipis tissue bisa bertemu dan bekerjasama, nyatanya nyaliku cukup kuat untuk bisa berhadapan langsung dengan sosok suami Tasya.Pak Abdul kembali ke kantor setelah menurunkanku. Aku langsung menemui bagian resepsionis.“Pak Nizar sedang turun ke lapangan, Bu. Kalau mau menunggu silakan, tapi tidak janji beliau mau kesini jam berapa.” Jawaban dari resepsionis membuat aku sedikit kecewa.“Tapi pasti datang







