Maya masih terkulai lemas di bahu Anton, napasnya yang patah-patah menghembus hangat di kulit pria itu.Rasa malu membakar wajahnya, tapi tubuhnya masih bergetar pelan, seolah menolak untuk sepenuhnya tenang.Anton tidak memberinya waktu untuk pulih.Jemari tegapnya merayap turun menyusuri punggung Maya, lalu menangkup pantat mungil yang terbungkus sutra tipis itu dengan cengkeraman posesif.“Kamu belum menjawab, Maya,” bisiknya serak, bibirnya menempel di cuping telinga wanita muda itu. “Kamu menikmati sentuhan saya, kan?”Maya menggigit bibir bawahnya. “Hnn… i-iya, Om…” suaranya hampir tak terdengar, tapi cukup untuk membuat Anton tersenyum puas.Tanpa peringatan, Anton berdiri sambil mengangkat Maya. Tubuh mungil itu terasa ringan di lengannya.Ia membawanya ke tempat tidur besar di tengah kamar, lalu meletakkannya di atas seprai hitam yang dingin.Maya terbaring terlentang, dada yang masih terbuka naik-turun hebat.Gaun tidur sutranya sudah berantakan, menyibak hingga pinggang, da
Última actualización : 2026-09-19 Leer más