Share

Chapt. 13

Author: Miss E
last update publish date: 2026-09-17 23:20:01

Mesin sedan hitam berderu halus membelah arus lalu lintas pagi. Di dalam kabin yang kedap suara itu, suasana begitu hening, hampir mencekik.

Hawa dingin dari pendingin udara menusuk permukaan kulit Maya, namun di saat yang sama, dadanya terasa hangat dan membara oleh rasa cemas yang tak kunjung padam.

Maya duduk kaku di kursi penumpang. Tangannya bertaut erat di atas pangkuan, meremas kain gaun sederhananya hingga kusut.

Perasaan yang merayap di dalam dadanya begitu rumit dan dalam; ada rasa ta
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Janda Perawan Kesayangan Om Anton   Chapt. 21

    Anton mengunci pintu ruang kerjanya dari dalam, lalu memutar kunci kuningan tersebut dua kali. Suara besi yang saling mengunci itu seolah menjadi batas tegas yang memisahkan Maya dari dunia luar—sekaligus memutus sisa jalan untuk melarikan diri.Maya bergeming di tengah ruangan. Matanya yang sembap bergerak gelisah, memperhatikan interior ruang kerja Anton yang bernuansa gelap dan intimidatif.Rak-rak buku hukum menjulang hingga ke langit-langit, sementara meja kayu mahoni yang amat besar di tengah ruangan dipenuhi oleh tumpukan berkas perkara—termasuk dokumen investigator mengenai kecelakaan murni yang menimpa Riko."Om... kenapa pintunya dikunci?" bisik Maya parau. Suaranya terdengar begitu rapuh, tenggelam di antara ketegangan yang merayap cepat.Anton tak menjawab. Pria tegap itu melangkah mendekatinya dengan irama tenang, persis seperti seekor pemangsa yang menikmati setiap detik kepanikan mangsanya.Langkah kakinya yang mantap di atas karpet tebal membuat dada Maya kempas-kempis

  • Janda Perawan Kesayangan Om Anton   Chapt. 20

    "Ma-maafkan aku, Om. Aku--"Ucapan Maya mendadak terhenti di tenggorokan begitu Anton terus melangkah maju mendekatinya.Pria tegap itu berjalan dengan gerakan lambat namun pasti, memancarkan aura intimidasi yang membuat Maya refleks mundur beberapa tapak hingga punggung mulusnya membentur dinding koridor yang dingin.Anton berhenti tepat di hadapannya, menjulang begitu tinggi hingga bayangannya sepenuhnya mengurung tubuh kecil Maya.Sorot mata kelamnya menatap lurus ke dalam manik mata Maya yang berair dan bergetar hebat oleh rasa panik."Sejak kapan kamu belajar mencuri dengar di depan pintu ruang kerja saya, Maya?" bisik Anton dengan suara baritonnya yang amat rendah dan berbahaya.Maya menelan ludah dengan susah payah.Menyadari bahwa berbohong di hadapan pria secerdas Anton adalah hal yang sia-sia, Maya akhirnya menghembuskan napas patah-patah dan menjawab dengan jujur."A-aku nggak sengaja, Om, aku cuma mau lewat tapi..." Maya menunduk sejenak, membiarkan setitik air mata melunc

  • Janda Perawan Kesayangan Om Anton   Chapt. 19

    "Bicara, Teddy," ucap Anton langsung tanpa basa-basi, begitu tiba di ruang kerjanya.Di seberang telepon, terdengar hembusan napas berat dari Teddy, rekan kerja tepercayanya sekaligus mitra senior di firma hukum milik Anton."Ton, saya baru saja mendapatkan laporan perkembangan terbaru dari tim investigator independen yang kita utus ke lokasi kejadian kecelakaan Riko," tutur Teddy dengan nada bicara yang amat serius.Anton merogoh meja kerjanya, mengambil sebuah pulpen mahal berlapis emas, lalu memutar-mutarnya di antara jemarinya yang tegap dengan gerakan teratur."Apa temuan mereka?""Dugaan awal polisi yang menyebut ini kecelakaan murni akibat rem blong biasa sepenuhnya salah," jawab Teddy menekan setiap kata."Tim kita menemukan adanya bekas irisan halus yang disengaja pada selang minyak rem mobil Riko. Ini bukan sekadar aus atau kerusakan teknis biasa, Ton. Ada dugaan kuat tindakan sabotase."Gerakan jemari Anton yang memutar pulpen seketika terhenti. Rahang tegas sang pengacara

  • Janda Perawan Kesayangan Om Anton   Chapt. 18

    Sinar matahari pagi yang cerah menembus jendela kaca dapur kediaman Anton yang megah, membiaskan cahaya di atas permukaan meja granit dan deretan piring keramik yang sedang dibersihkan oleh Maya.Gemercik air yang mengalir teratur dari keran menjadi satu-satunya suara yang menemani lamunannya.Tubuh Maya masih terasa agak pegal.Jejak kelelahan dan rasa panas dari puncaknya keintiman brutal semalam masih membayang jelas di ingatannya, membuat rona merah seketika menyapu pipinya setiap kali ia teringat bagaimana Anton memperlakukannya tanpa ampun di atas seprai hitam itu.Tiba-tiba, sepasang lengan kekar dan hangat melingkar erat di pinggang mungilnya dari belakang.Punggung Maya seketika menegang saat dada tegap Anton menempel rapat pada tubuh belakangnya.Sebuah ciuman bernada posesif mendarat basah di leher jenjangnya, membuat Maya tersentak kaget hingga piring basah di tangannya hampir saja tergelincir jatuh ke dalam bak cuci.Maya

  • Janda Perawan Kesayangan Om Anton   Chapt. 17

    Maya masih terkulai lemas di bahu Anton, napasnya yang patah-patah menghembus hangat di kulit pria itu.Rasa malu membakar wajahnya, tapi tubuhnya masih bergetar pelan, seolah menolak untuk sepenuhnya tenang.Anton tidak memberinya waktu untuk pulih.Jemari tegapnya merayap turun menyusuri punggung Maya, lalu menangkup pantat mungil yang terbungkus sutra tipis itu dengan cengkeraman posesif.“Kamu belum menjawab, Maya,” bisiknya serak, bibirnya menempel di cuping telinga wanita muda itu. “Kamu menikmati sentuhan saya, kan?”Maya menggigit bibir bawahnya. “Hnn… i-iya, Om…” suaranya hampir tak terdengar, tapi cukup untuk membuat Anton tersenyum puas.Tanpa peringatan, Anton berdiri sambil mengangkat Maya. Tubuh mungil itu terasa ringan di lengannya.Ia membawanya ke tempat tidur besar di tengah kamar, lalu meletakkannya di atas seprai hitam yang dingin.Maya terbaring terlentang, dada yang masih terbuka naik-turun hebat.Gaun tidur sutranya sudah berantakan, menyibak hingga pinggang, da

  • Janda Perawan Kesayangan Om Anton   Chapt. 16

    Malam harinya. Maya melangkah masuk dengan tungkai yang bergetar hebat.Sesuai perintah Anton di gerai lingerie siang tadi, tubuh mungilnya kini terbalut oleh salah satu gaun tidur sutra transparan berwarna hitam pekat.Bahan renda yang amat tipis itu memeluk lekuk tubuhnya tanpa cela, mengekspos garis bahu, dada, hingga paha mulusnya secara gamblang di bawah temaram lampu kamar.Di sudut ruangan, Anton sudah duduk di atas sofa kulit. Kemeja putihnya sudah terbuka dua kancing teratas, memperlihatkan dadanya yang bidang.Pria itu memegang sebuah gelas pendek berisi whiskey amber yang memantulkan cahaya redup.Sorot mata kelamnya begitu liar dan pekat, menatap Maya yang berdiri kaku bagai mangsa yang telah menyerahkan diri."Mendekat, Maya," bisik Anton serak.Anton menyesap whiskey-nya sejenak, lalu meletakkan gelas kristal itu ke atas meja di sampingnya.Pria itu menepuk pahanya sendiri secara perlahan, mengisyaratkan wanita muda itu untuk mendekat.Maya menelan ludah dengan susah pay

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status