"Oh, jadi kamu nggak setuju dengan ucapan Ibu?" "Bukan begitu, Bu," jawab Hanifa pelan. "Lah, terus kamu bilang apa itu, nggak etis, nggak etis! Ibaratnya Tania cuma numpang tidur, lho, Fa. Pagi sampai sore dia kerja, pulang capek, ya tidur. Apanya yang nggak etis? Lagian, kayak Tania orang lain saja." "Mbak..." Tania ikut menimpali. "Sebagai rasa terima kasih karena boleh numpang, nanti aku bantu Mbak Hanifa masak. Atau kalau perlu, bersih-bersih rumah juga." "Tuh, Fa. Tania juga tahu diri kok jadi tamu. Nggak kayak kamu, sudah dibikin hidup enak, tapi nggak bisa bahagiain suami," sahut Damayanti lagi. Setelah mendengar semua kalimat Damayanti, memangnya apa lagi yang bisa Hanifa katakan? Belum lagi ketika ia menoleh pada suaminya, Prabu juga masih tak acuh. Berapa banyak sabar lagi yang harus Hanifa pelihara? Rasanya, tak ada sedikit pun ruang yang bisa ia gunakan untuk bernapas dengan lega. "Tania... Kita bereskan saja kopermu. Setelah ini kamu ikut sama Prabu." Dam
Última actualización : 2026-09-11 Leer más