Insiden di penjual bubur tadi akhirnya membawa Hanifa ke apartemen Shaka. Awalnya, Hanifa ingin membawa lelaki itu ke klinik terdekat untuk memastikan luka di punggungnya. Namun, usul tersebut langsung ditolak mentah-mentah oleh Shaka. “Nggak perlu ke klinik.” “Tapi punggungmu bisa melepuh,” ucap Hanifa, berusaha meninggalkan kesan formal di antara mereka. “Aku tahu.” “Justru karena tahu, kita harus ke klinik, Pak Shaka.” “Nggak perlu.” Hanifa sudah gemas luar biasa. Dalam keadaan seperti ini pun Shaka masih saja keras kepala. Akhirnya, setelah beberapa kali berdebat dan tak menemukan titik temu, Shaka memberikan kunci mobilnya kepada Hanifa. Lelaki itu duduk di kursi penumpang dengan tubuh sedikit condong ke depan agar punggungnya tidak terlalu banyak bersentuhan dengan sandaran. “Antar aku pulang,” ujarnya. Apartemen Shaka berada tak jauh dari tempat mereka tadi. Karena klinik terus ditolak, Hanifa menurut saja. Setidaknya, ia bisa membersihkan dan mengobati luka
Última actualización : 2026-09-14 Leer más