Sementara itu, Shaka dan Rose baru saja tiba di apartemen perempuan itu. Tadi dalam perjalanan, mereka sempat membeli makanan melalui drive-thru. Karena Shaka sudah malas turun dan masuk ke sebuah restoran, pilihan itu menjadi satu-satunya yang ia ambil meski ia sempat melihat ekspresi kesal di wajah Rose. “Yang penting kita makan,” begitu ucap Shaka, berusaha menenangkan. Ia meletakkan makanan di meja pantry, lalu mengambil alat makan dan menyiapkannya. Setelah selesai, ia membawa makanan tersebut ke sofa tempat Rose sudah duduk. “Kamu tahu, 'kan, aku pengin makan apa? Bukan yang ini, Shaka!” rajuknya. Ia melirik kesal kepada sang kekasih. “Lain kali kita ke sana.” “Kapan? Untuk ketemu saja sekarang kamu susah, apalagi pergi makan.” Shaka mengalihkan pandangan. Ia berusaha menekan emosinya. Semakin lama, Rose justru membuatnya semakin tidak nyaman. Bukannya mencoba memperbaiki sikapnya, perempuan itu selalu meninggikan ego setiap kali keinginannya tidak terpenuhi. Padahal, se
Última actualización : 2026-10-06 Leer más