Aku berulang kali mencoba menolak. Tak kusangka, sahabat yang dimaksud istriku adalah Mutia, mantan primadona kampus kami yang dulu dikenal polos dan juga gadis yang diam-diam kusukai.Saat melihat Mutia di ruang pemeriksaan, gairahku langsung memuncak.Mutia memakai jas dokter ketat yang hampir tak bisa menutupi bokong montoknya. Kedua kelembutannya seolah hampir melompat keluar. Penampilannya kini sudah jauh berbeda, kesan polosnya sudah hilang, digantikan pesona seorang wanita dewasa yang memikat.“Lepaskan celanamu, lalu baringlah, teman lama.”Aku sangat khawatir, begitu celanaku dilepas, dua benda milikku itu akan membuat Mutia jijik padaku.Yuli mencoba menenangkanku, “Sayang, Mutia itu teman kita sendiri, nggak perlu malu.”Mutia mengelus bahuku pelan dan menyahut, “Di depan dokter, pasien nggak dibedakan jenis kelaminnya. Nggak ada yang perlu dimalukan, sini kubantu lepaskan.”Aku tak bisa membantah, hanya bisa pasrah saat Mutia dan Yuli melucuti celanaku dari kiri dan kanan.
Read more