LOGINSetelah setengah bulan yang gila itu berlalu, akhirnya suatu hari Mutia berteriak kegirangan dari dalam kamar mandi, “Hamil! Aku hamil!”Sambil memegang alat tes kehamilan, dia memperlihatkannya pada Yuli dan Wendy untuk memastikan dan hasilnya memang positif hamil.Karena tugasku sudah selesai, aku membawa Yuli dan ibu mertua membeli tiket pesawat untuk pulang keesokan harinya, mengakhiri perjalanan gila dan tak masuk akal ini.Uang 4 miliar itu kugunakan untuk membeli rumah baru dan mengganti mobil, sementara sisanya kuserahkan seluruhnya pada Yuli untuk dikelola.Sepuluh bulan kemudian, Yuli sedang bersandar di pelukanku sambil memainkan ponselnya, lalu tak sengaja melihat unggahan terbaru di postingan Mutia.[Terima kasih atas doa semuanya, aku dan anakku baik-baik saja!] Foto yang diunggah memperlihatkan Mutia sedang memeluk bayi laki-laki yang baru lahir dengan senyuman penuh kebahagiaan.Yuli memperbesar foto bayi kecil itu, lalu tersenyum dan berkata, “Sayang, coba lihat, alis
“Aku dan suamiku sudah mencoba program bayi tabung, tapi karena fisiknya lemah dari lahir, tingkat kelangsungan hidup spermanya sangat rendah dan selalu gagal. Aku nggak punya pilihan, hanya bisa meminta bantuan Yuli.”“Kalian berdua juga belum punya anak, ‘kan? Tenang saja, begitu anak ini lahir, aku akan menyuruhnya memanggil kalian orang tua angkat. Dia pasti akan berbakti pada kalian!”Mendengar penjelasan Mutia, pikiranku rasanya kacau balau.Meski setiap pria mendambakan keturunan, membayangkan anak kandungku sendiri kelak tak semarga denganku dan harus memanggil pria lain dengan sebutan ayah, membuat hatiku sangat tidak nyaman.“Lalu… bagaimana dengan video itu?” tanyaku sambil menatap Mutia.Tentu saja dia tahu video yang kumaksud, yaitu rekaman antara Yuli dan suaminya. Dengan terbata-bata, dia menjawab, “Sebenarnya… video itu hanya rekayasa yang kuedit. Aku hanya takut kamu nggak tega melangkah karena terlalu menjaga perasaan Yuli….”Aku terdiam cukup lama. Akhirnya ibu mertu
Ibu mertua melucuti celanaku, lalu menutup salah satu benda milikku dengan kehangatan mulutnya. Meski sudah menyentuh tenggorokannya, tetap saja baru sebagian kecil saja yang berhasil masuk.“Hm… hm….” Dia bersusah payah memanjakannya, wajahnya bahkan sampai memerah hingga tampak seperti hampir kehabisan napas, sementara aromaku memenuhi mulutnya.Benda satunya lagi berada dalam dekapan Mutia yang berlutut di lantai. Mutia menjepitnya erat di antara kedua buah dada montoknya, sambil terus menggeseknya perlahan.Dikepung oleh mereka berdua, pikiranku sepenuhnya tertutup kabut gairah. Aku tak lagi memedulikan batas moral sama sekali.“Sialan….”Desahan pelan keluar dari tenggorokanku. Luapan adrenalin dan gairah memicu aliran darah di seluruh tubuh, hingga aku tanpa ragu menindih tubuh mereka berdua ke atas ranjang.“Ah! Dalam… dalam sekali… menantuku sayang… kamu benar-benar hebat….” Pinggang ibu mertua bergoyang seirama dengan dorongan yang semakin intens. Lekuk tubuhnya yang montok be
Mendengar panggilan ‘sayang’ dari mulut Mutia, aku tak sanggup menahannya lagi. Aku langsung melucuti celanaku sendiri hingga benda luar biasa milikku terpampang bebas.Aku mengunci kedua lengan Mutia ke ranjang, mengangkat kedua kakinya ke atas bahuku, lalu membungkuk menindihnya….“Tok! Tok”Tepat saat aku bersiap memulainya di atas tubuh Mutia, tiba-tiba pintu kamar digedor dengan kencang.Seketika, alarm bahaya berbunyi di dalam kepalaku. Jangan-jangan suara kami terlalu berisik sampai membangunkan Yuli?Raut panik terlihat jelas di wajah Mutia. Dia bergegas menarik sprei di dekatnya untuk menutupi tubuhnya yang telanjang tanpa sehelai benang.Aku terburu-buru memakai baju dan merapikan celana, lalu membuka pintu kamar sambil memutar otak mencari alasan untuk menjelaskan semuanya pada Yuli.Namun, saat pintu terbuka, sosok yang berdiri di luar malah membuatku membeku di tempat.“Ibu… kok… kok kamu ada di sini?” Aku menatap ibu mertua dengan terkejut, bingung harus melakukan apa.Ib
Fakta sudah terpampang jelas di depan mata, mau tak mau aku harus memercayainya. Mengingat kembali ke masa lalu, memang ada satu masa di mana Yuli sering beralasan sering dinas keluar kota. Setiap kali pulang, dia selalu membawa berbagai pakaian, tas, hingga perhiasan, lalu membohongiku dengan bilang bahwa semua itu hadiah dari acara tahunan kantornya.“Jeff, karena Yuli bahkan sudah mengkhianatimu, apa lagi yang kamu ragukan? Kamu nggak menginginkanku?”Sambil berkata demikian, Mutia bangkit dan melingkarkan tangannya di pinggangku. Dia merapatkan keindahan dadanya yang padat ke tubuhku, sementara kedua tangannya bergerak liar di paha dalamku.Dia menghembuskan napas hangat di telingaku, sambil berkata, “Jujur saja, aku sangat iri dengan Yuli. Aku juga ingin merasakan bagaimana nikmatnya mencapai puncak kenikmatan yang luar biasa. Kamu bisa membantuku?”Video di ponsel Mutia masih terus berputar berulang kali. Entah mengapa, melihat istriku dikuasai pria lain bukannya membuatku marah,
Sambil menatap wajah Mutia di luar pintu, aku membayangkan sosok yang berada di bawah tubuhku saat ini adalah dirinya, membuatku semakin hilang kendali.“Jangan… aku benar-benar nggak sanggup lagi… sayang….” Aku bisa merasakan tubuh Yuli gemetaran. Aku pun mencengkeram pinggang rampingnya semakin erat, mendorongnya ke ambang kehancuran. “Teriak lebih keras! Dasar genit!” perintahku dengan kasar sambil terus bergerak dengan brutal.Jeritan Yuli menggema di dalam kamar, bercampur antara rasa sakit dan kenikmatan. Keindahan dadanya yang padat bergetar hebat di bawah remasan tanganku, meninggalkan bekas memar merah yang terlihat jelas.Yuli menangis menahan sakit yang tak tertahankan. Meski tubuhnya kutindih dengan kuat, dia tetap berusaha sekuat tenaga mendorongku menjauh.“Hentikan… cepat hentikan, aku benar-benar bisa hancur….”Hingga Yuli kehabisan seluruh tenaganya dan terkulai lemas di lantai bagaikan genangan lumpur, barulah aku menghentikannya dengan enggan. Namun, benda milikku







