Share

Bab 3

Author: Liam
“Keluarkan saja di depan Mutia, biar dia tahu seberapa hebat kamu.”

Apa? Sejak kapan istriku jadi begitu terbuka… dan begitu liar?

Hari ini, Yuli memakai celana yoga merah muda yang ketat demi kenyamanan. Jahitan di bagian belakang membentuk dan menonjolkan lekuk bokongnya yang montok.

Sementara Mutia sudah memamerkan sepasang paha mulusnya yang terbuka… terlihat sangat memikat….

Dua wanita dewasa dan jelita dengan pesona yang berbeda kini berdiri di kedua sisiku. Saat membungkuk, lekuk tubuh mereka terpampang jelas. Satu terbungkus ketat dan kenyal, yang satu lagi terpampang menggoda.

Karena istriku sendiri yang memberi izin, aku pun tak berpura-pura lagi.

Aku mengulurkan kedua tangan. Satu tangan menyibak jas putih Mutia dan mengelus ke atas menuju kelembutan di bokongnya, sementara tangan lainnya meremas lekuk istriku yang kenyal.

Ini pertama kalinya aku menyentuh dua wanita sekaligus dalam satu waktu. Benar-benar terasa seperti puncak pencapaian seorang pria.

Melihat perhatianku agak teralih ke Yuli, Mutia pun sengaja bergoyang menggoda.

Dia menurunkan tubuhnya yang montok, membiarkan bokongnya bersandar di tanganku untuk memudahkan jariku bergerak.

Yuli juga tak mau kalah. Dia berbalik badan dan mengarahkan bokongnya yang montok di tanganku.

Dengan gerakan pinggang dan ayunan kakinya yang perlahan, sentuhan ini terasa semakin membara.

Melihat Yuli mulai menikmati suasana, Mutia bertindak semakin berani.

Dia meletakkan botol sampel, melepas dua kancing jas dokter, lalu menyibak branya hingga dua keindahannya terpampang bebas.

Dia melangkah ke hadapanku sambil tersenyum tipis, lalu membungkuk dan mendekatkan tubuhnya padaku.

Bibir indahnya yang hangat langsung mengunci bibirku. Usapan lidahnya yang lembut dan manis memancing gairah hingga ke tenggorokan.

Suara kecupan yang basah dan intim terdengar di dalam ruangan, benar-benar membangkitkan seluruh hasratku.

Yuli melirik ke arah kami berdua. Bukannya marah, gerakan tubuhnya malah semakin intens diikuti desahan halus yang keluar dari bibirnya, “Sayang… sayang….”

Entah berapa lama waktu berlalu, akhirnya Mutia menghentikan ciumannya dengan napas memburu dan berkata, “Sekarang… saatnya pengambilan sampel.”

Mutia membelakangiku, menarik sedikit rok spannya hingga memperlihatkan thong hitam yang menggoda.

Dia merendahkan tubuhnya, menaikkan pinggulnya dan duduk tepat di atasku.

Meski terhalang jas, aku bisa merasakan suhu tubuhnya yang begitu panas. Pahanya menempel erat, sementara benda milikku sudah mencapai tingkat ketegangan maksimal.

“Ah….” Sensasi ini menghadirkan kepuasan dan kenikmatan yang belum pernah kurasakan sebelumnya.

Yuli sudah tampak lemas dan melepaskan tangannya. Kedua tanganku kini bebas menjelajahi bagian paling empuk yang ingin kuremas.

Gerakan pinggul Mutia yang memutar menghadirkan gelombang panas luar biasa di perut bawahku, membuat area pinggangku terasa kebas.

Rangsangan dahsyat ini membawaku semakin dekat ke puncak kenikmatan yang tak tertahankan, hingga otot punggung bawahku menegang dan bergetar.

“Lihat, Mutia! Benjolannya mulai bermunculan.”

Bersamaan dengan seruan kaget Yuli, Mutia menghentikan gerakannya dan berbalik. Terlihat benjolan-benjolan yang menonjol di kedua benda milikku.

Tampak begitu kekar dan menakutkan, mirip seperti manik-manik.

“Astaga, wanita mana yang sanggup menahannya? Ini… ini pasti akan rusak dipermainkan, ‘kan.”

“Mutia, kamu mau mencobanya?”

Mata Mutia tampak berkilat penuh gairah dan menginginkannya.

Dia menoleh menatapku dengan tatapan yang luar biasa menggoda, sementara suaranya terdengar semakin manja.

“Aku sudah nggak tahan lagi!”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kenikmatan Ganda   Bab 11

    Setelah setengah bulan yang gila itu berlalu, akhirnya suatu hari Mutia berteriak kegirangan dari dalam kamar mandi, “Hamil! Aku hamil!”Sambil memegang alat tes kehamilan, dia memperlihatkannya pada Yuli dan Wendy untuk memastikan dan hasilnya memang positif hamil.Karena tugasku sudah selesai, aku membawa Yuli dan ibu mertua membeli tiket pesawat untuk pulang keesokan harinya, mengakhiri perjalanan gila dan tak masuk akal ini.Uang 4 miliar itu kugunakan untuk membeli rumah baru dan mengganti mobil, sementara sisanya kuserahkan seluruhnya pada Yuli untuk dikelola.Sepuluh bulan kemudian, Yuli sedang bersandar di pelukanku sambil memainkan ponselnya, lalu tak sengaja melihat unggahan terbaru di postingan Mutia.[Terima kasih atas doa semuanya, aku dan anakku baik-baik saja!] Foto yang diunggah memperlihatkan Mutia sedang memeluk bayi laki-laki yang baru lahir dengan senyuman penuh kebahagiaan.Yuli memperbesar foto bayi kecil itu, lalu tersenyum dan berkata, “Sayang, coba lihat, alis

  • Kenikmatan Ganda   Bab 10

    “Aku dan suamiku sudah mencoba program bayi tabung, tapi karena fisiknya lemah dari lahir, tingkat kelangsungan hidup spermanya sangat rendah dan selalu gagal. Aku nggak punya pilihan, hanya bisa meminta bantuan Yuli.”“Kalian berdua juga belum punya anak, ‘kan? Tenang saja, begitu anak ini lahir, aku akan menyuruhnya memanggil kalian orang tua angkat. Dia pasti akan berbakti pada kalian!”Mendengar penjelasan Mutia, pikiranku rasanya kacau balau.Meski setiap pria mendambakan keturunan, membayangkan anak kandungku sendiri kelak tak semarga denganku dan harus memanggil pria lain dengan sebutan ayah, membuat hatiku sangat tidak nyaman.“Lalu… bagaimana dengan video itu?” tanyaku sambil menatap Mutia.Tentu saja dia tahu video yang kumaksud, yaitu rekaman antara Yuli dan suaminya. Dengan terbata-bata, dia menjawab, “Sebenarnya… video itu hanya rekayasa yang kuedit. Aku hanya takut kamu nggak tega melangkah karena terlalu menjaga perasaan Yuli….”Aku terdiam cukup lama. Akhirnya ibu mertu

  • Kenikmatan Ganda   Bab 9

    Ibu mertua melucuti celanaku, lalu menutup salah satu benda milikku dengan kehangatan mulutnya. Meski sudah menyentuh tenggorokannya, tetap saja baru sebagian kecil saja yang berhasil masuk.“Hm… hm….” Dia bersusah payah memanjakannya, wajahnya bahkan sampai memerah hingga tampak seperti hampir kehabisan napas, sementara aromaku memenuhi mulutnya.Benda satunya lagi berada dalam dekapan Mutia yang berlutut di lantai. Mutia menjepitnya erat di antara kedua buah dada montoknya, sambil terus menggeseknya perlahan.Dikepung oleh mereka berdua, pikiranku sepenuhnya tertutup kabut gairah. Aku tak lagi memedulikan batas moral sama sekali.“Sialan….”Desahan pelan keluar dari tenggorokanku. Luapan adrenalin dan gairah memicu aliran darah di seluruh tubuh, hingga aku tanpa ragu menindih tubuh mereka berdua ke atas ranjang.“Ah! Dalam… dalam sekali… menantuku sayang… kamu benar-benar hebat….” Pinggang ibu mertua bergoyang seirama dengan dorongan yang semakin intens. Lekuk tubuhnya yang montok be

  • Kenikmatan Ganda   Bab 8

    Mendengar panggilan ‘sayang’ dari mulut Mutia, aku tak sanggup menahannya lagi. Aku langsung melucuti celanaku sendiri hingga benda luar biasa milikku terpampang bebas.Aku mengunci kedua lengan Mutia ke ranjang, mengangkat kedua kakinya ke atas bahuku, lalu membungkuk menindihnya….“Tok! Tok”Tepat saat aku bersiap memulainya di atas tubuh Mutia, tiba-tiba pintu kamar digedor dengan kencang.Seketika, alarm bahaya berbunyi di dalam kepalaku. Jangan-jangan suara kami terlalu berisik sampai membangunkan Yuli?Raut panik terlihat jelas di wajah Mutia. Dia bergegas menarik sprei di dekatnya untuk menutupi tubuhnya yang telanjang tanpa sehelai benang.Aku terburu-buru memakai baju dan merapikan celana, lalu membuka pintu kamar sambil memutar otak mencari alasan untuk menjelaskan semuanya pada Yuli.Namun, saat pintu terbuka, sosok yang berdiri di luar malah membuatku membeku di tempat.“Ibu… kok… kok kamu ada di sini?” Aku menatap ibu mertua dengan terkejut, bingung harus melakukan apa.Ib

  • Kenikmatan Ganda   Bab 7

    Fakta sudah terpampang jelas di depan mata, mau tak mau aku harus memercayainya. Mengingat kembali ke masa lalu, memang ada satu masa di mana Yuli sering beralasan sering dinas keluar kota. Setiap kali pulang, dia selalu membawa berbagai pakaian, tas, hingga perhiasan, lalu membohongiku dengan bilang bahwa semua itu hadiah dari acara tahunan kantornya.“Jeff, karena Yuli bahkan sudah mengkhianatimu, apa lagi yang kamu ragukan? Kamu nggak menginginkanku?”Sambil berkata demikian, Mutia bangkit dan melingkarkan tangannya di pinggangku. Dia merapatkan keindahan dadanya yang padat ke tubuhku, sementara kedua tangannya bergerak liar di paha dalamku.Dia menghembuskan napas hangat di telingaku, sambil berkata, “Jujur saja, aku sangat iri dengan Yuli. Aku juga ingin merasakan bagaimana nikmatnya mencapai puncak kenikmatan yang luar biasa. Kamu bisa membantuku?”Video di ponsel Mutia masih terus berputar berulang kali. Entah mengapa, melihat istriku dikuasai pria lain bukannya membuatku marah,

  • Kenikmatan Ganda   Bab 6

    Sambil menatap wajah Mutia di luar pintu, aku membayangkan sosok yang berada di bawah tubuhku saat ini adalah dirinya, membuatku semakin hilang kendali.“Jangan… aku benar-benar nggak sanggup lagi… sayang….” Aku bisa merasakan tubuh Yuli gemetaran. Aku pun mencengkeram pinggang rampingnya semakin erat, mendorongnya ke ambang kehancuran. “Teriak lebih keras! Dasar genit!” perintahku dengan kasar sambil terus bergerak dengan brutal.Jeritan Yuli menggema di dalam kamar, bercampur antara rasa sakit dan kenikmatan. Keindahan dadanya yang padat bergetar hebat di bawah remasan tanganku, meninggalkan bekas memar merah yang terlihat jelas.Yuli menangis menahan sakit yang tak tertahankan. Meski tubuhnya kutindih dengan kuat, dia tetap berusaha sekuat tenaga mendorongku menjauh.“Hentikan… cepat hentikan, aku benar-benar bisa hancur….”Hingga Yuli kehabisan seluruh tenaganya dan terkulai lemas di lantai bagaikan genangan lumpur, barulah aku menghentikannya dengan enggan. Namun, benda milikku

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status