Short
Kenikmatan Ganda

Kenikmatan Ganda

By:  LiamCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
11Chapters
1views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Aku memiliki dua alat kelamin dan sebelum mencapai klimaks, muncul tonjolan daging keras yang membengkak. Demi keharmonisan kehidupan rumah tangga kami, istriku bahkan sengaja meminta bantuan sahabatnya yang seorang dokter, sekaligus mantan primadona kampus untuk memeriksaku. Pernikahanku sudah berada di ambang kehancuran gara-gara dua benda besar ini. Saat hubungan suami istri kami mencapai momen terpenting, Yuli menangis sambil memegangi bokongnya karena kesakitan. Sejak saat itu, dia tak pernah lagi mengizinkanku menyentuhnya. Yuli sangat mencintaiku, dia sudah mencari pengobatan ke mana-mana. Pada akhirnya, dia meminta bantuan sahabatnya yang bekerja di bagian reproduksi untuk memeriksaku.

View More

Chapter 1

Bab 1

Aku berulang kali mencoba menolak. Tak kusangka, sahabat yang dimaksud istriku adalah Mutia, mantan primadona kampus kami yang dulu dikenal polos dan juga gadis yang diam-diam kusukai.

Saat melihat Mutia di ruang pemeriksaan, gairahku langsung memuncak.

Mutia memakai jas dokter ketat yang hampir tak bisa menutupi bokong montoknya. Kedua kelembutannya seolah hampir melompat keluar. Penampilannya kini sudah jauh berbeda, kesan polosnya sudah hilang, digantikan pesona seorang wanita dewasa yang memikat.

“Lepaskan celanamu, lalu baringlah, teman lama.”

Aku sangat khawatir, begitu celanaku dilepas, dua benda milikku itu akan membuat Mutia jijik padaku.

Yuli mencoba menenangkanku, “Sayang, Mutia itu teman kita sendiri, nggak perlu malu.”

Mutia mengelus bahuku pelan dan menyahut, “Di depan dokter, pasien nggak dibedakan jenis kelaminnya. Nggak ada yang perlu dimalukan, sini kubantu lepaskan.”

Aku tak bisa membantah, hanya bisa pasrah saat Mutia dan Yuli melucuti celanaku dari kiri dan kanan.

Seketika, Mutia terpaku heran dan berkata, “Astaga, aku hanya pernah membacanya di jurnal. Ternyata ini nyata.”

Dia membungkuk, mendekatkan wajahnya untuk mengamati lebih teliti, bahkan jari lentiknya reflek menyentuhku.

“Masing-masing bisa berkembang sesempurna ini, bahkan jauh lebih kekar dari ukuran normal….”

Aku bisa melihatnya menelan ludah dengan jelas.

Yuli menepukku dengan pelan, “Sayang, kok lagi diperiksa malah bereaksi?”

Mendengarku disindir, Mutia malah tidak marah, malah terlihat agak senang.

Dia mengunci pintu ruang pemeriksaan dan menelepon bagian pendaftaran untuk tidak menerima pasien lagi pagi itu.

“Naiklah ke ranjang pemeriksaan, aku perlu menelitinya lebih detail.”

Aku melepas celana, kedua kakiku terangkat dan bertumpu pada penyangga. Mutia menyalakan lampu pemeriksaan, mengarahkannya tepat ke posisiku, lalu berdiri di depanku.

Wajahnya merona saat mendekat, kemudian kedua tangannya menggenggamku dengan lembut.

Sentuhan hangat di telapak tangannya membuat seluruh tubuhku lemas. Aku berkata, “Mutia… itu… kamu nggak pakai sarung tangan.”

Yuli menganggapku terlalu banyak bicara, dia pun menjawab, “Mutia itu orang kita sendiri, jangan banyak bicara agar nggak mengganggu proses terapinya.”

Mutia menunduk, mengamati dari kiri dan kanan, lalu memijatnya perlahan dari atas ke bawah.

Dia mengukurnya menggunakan penggaris yang dingin, dilanjutkan dengan meneteskan gel hangat di atasnya.

Terbaring telanjang bulat di depan wanita impianku sendiri, merasakan sensasi dingin dan hangat bergantian dari tangannya, ditambah lagi disaksikan langsung oleh istriku sendiri.

Seketika, dua benda milikku menegang dan hampir mengenai wajah cantik Mutia.

“Astaga, ternyata masih bisa membesar lagi?”

Tatapan Mutia tampak terkejut, tapi tersirat sedikit kekaguman di dalamnya.

Yuli mengeluh, “Sekali main langsung dua sekaligus, benar-benar membuatku kewalahan.”

Tangan halus Mutia yang hangat terus meremas dan memijat bagian tubuhku yang berbalut gel tersebut.

“Belum cukup, tingkat kekerasannya belum maksimal. Ini bukan kondisi ereksi terbaikmu.”

Apa lagi yang ingin dilakukan Mutia?

Rasa cemas sempat terlintas, tapi dalam hatiku seolah mengharapkannya.

Belahan antara kedua dadanya tampak begitu dalam di balik pakaian.

Aku sangat berharap Mutia menindihku dan kalau kedua benda milikku bisa menancapnya masuk pasti akan lebih nikmat.

Tiba-tiba, tangan halusnya melepaskan genggamannya. Dia berjalan menuju lemari untuk mengambil sebuah kantong kain beludru berwarna ungu tua. Saat dia membungkuk untuk mengambilnya, sarafku langsung tersengat hebat.

Mutia hanya memakai thong hitam dengan tali tipis yang berkilau terpapar cahaya.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
11 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status