Share

Bab 2

Author: Liam
Jangan-jangan dia punya perasaan padaku?

Belum sempat berpikir lebih jauh, Mutia sudah mengeluarkan sebuah cincin dan botol kecil.

Yuli menatap cairan di tangan Mutia dengan penasaran.

Mutia menuangkan cairan itu ke tangannya dan tangan Yuli. Keduanya berdiri di sisi kiri dan kananku, lalu menyentuh perut bawahku dengan lembut.

Empat tangan mengusap perlahan dari atas ke bawah, lalu bergerak kembali ke atas. Cairan itu memberikan sensasi dingin yang perlahan berubah menjadi rasa hangat.

Aku merasa hampir meledak. Desahan tertahan keluar begitu saja dari mulutku, menikmati kenikmatan dari stimulasi ganda ini.

Namun, tepat saat aku hampir mencapai puncak, Mutia mendadak memasangkan cincin itu padaku. Sensasi kenikmatan puncak yang sudah di depan mata langsung tertahan.

Aku tak bisa menahan diri untuk tidak menggeliat di atas ranjang pemeriksaan. Tiba-tiba, sebuah benda dingin dimasukkan ke dalam tubuhku.

“Ah….”

Mutia tiba-tiba melepaskan diriku. Terlihat dia melepaskan stoking hitamnya, memperlihatkan sepasang kaki mulusnya. Saat membuka kakinya, dia tak sengaja memperlihatkan isi di dalamnya.

Aku seolah terhipnotis. Detik berikutnya, dia malah mengambil stoking itu dan menggunakannya untuk membungkam mulutku.

“Jangan teriak, peredam suara di rumah sakit ini kurang bagus.”

Aroma wangi khas wanita dewasa dari tubuh Mutia terhirup di hidungku. Aku menjilat bibirku, merasa seluruh tubuhku membara.

Rangsangan dari area belakang, serta sensasi tertekan akibat ejakulasi yang ditahan menyiksaku dalam kenikmatan ganda.

“Hm….”

Mutia mengukur ukuranku kembali dan mengambil beberapa foto baru pada dua benda milikku.

“Kondisi ereksi maksimal sudah teramati. Sekarang kita masuk ke langkah berikutnya, yaitu mengambil cairan prostat.”

Setelah sibuk cukup lama, jas putih yang dipakai Mutia mulai berantakan, sama sekali tak bisa menutupi lekuk tubuhnya yang montok.

Sementara itu, tangan halus Yuli yang licin bergerak lincah di atas kulitku, terkadang menekan pelan, terkadang mengusap perlahan, terus-menerus menghadirkan sensasi geli yang menjalar.

Sementara itu, Mutia mengambil sebuah kapas pengambil sampel dan menempelkannya tepat di lubang bagian ujung.

Tangan satunya lagi menekan bagian ujungnya dengan jempol, menghadirkan rasa sakit yang menyengat seperti tusukan jarum akupuntur.

Keringat dingin membasahi keningku dan kedua kakiku gemetar tanpa kendali.

“Hmm…” Pria sepertiku bahkan tak sanggup menahan jeritan kesakitan.

Saat ini, kondisi ereksiku sudah melewati batas waktu. Yuli berbisik dengan napas terengah, “Mutia, kamu suka yang sekekar ini?”

Napas Mutia ikut memburu dan menjawab, “Kamu saja yang kurang bersyukur. Aku malah ingin sekali mencoba seberapa nikmat rasanya barang sebagus ini?”

Usai bicara, Mutia memutar kapas hingga terbalut rata, lalu memasukkannya ke dalam botol sampel.

Setelah itu, dia mengulurkan jarinya yang halus dan mengusap dua benda milikku beberapa kali.

Tak lama kemudian, Mutia menatapku dengan pandangan sayu dan menjulurkan lidah merah mudanya.

Apa yang mau dilakukan Mutia?

Terlihat dia memejamkan mata, menjilat jarinya sendiri dengan ekspresi wajah penuh gairah.

Sensasi menjalar dan geli langsung melesat ke kepala. Aku menarik napas dalam-dalam, terus menggerutu di dalam hati, apa-apaan ini!

“Aromanya sangat pekat. Rasa dan aroma juga menjadi faktor penting untuk mendiagnosis penyakit.”

Napasku semakin memburu. Aku merasa dua benda milikku hampir meledak karena tekanan yang terkumpul, hingga diriku tak bisa menahan erangan pelan.

“Mutia, dia masih punya kemampuan yang lebih hebat lagi….”

“Sekitar 10 detik sebelum ejakulasi, bakal muncul benjolan daging yang keras… mirip seperti manik-manik yang sering dibicarakan di internet.”

Mutia mendongak, wajahnya tampak antusias dan mengharapkan, rona gairah tampak terpancar di wajahnya.

“Langkah terakhir dari pemeriksaan kita adalah pengambilan sperma.”

“Bentuk alat kelaminmu sangat khusus. Alat pengambil sperma biasa nggak bisa digunakan. Jadi, kami harus membantumu mengeluarkannya dengan manual.”

Mutia? Membantuku dengan mengeluarkannya dengan manual?

Aku terbata-bata hingga tak sanggup menjawab. Sementara Yuli menggigit pelan cuping telingaku, lalu menyedotnya dengan lembut.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kenikmatan Ganda   Bab 11

    Setelah setengah bulan yang gila itu berlalu, akhirnya suatu hari Mutia berteriak kegirangan dari dalam kamar mandi, “Hamil! Aku hamil!”Sambil memegang alat tes kehamilan, dia memperlihatkannya pada Yuli dan Wendy untuk memastikan dan hasilnya memang positif hamil.Karena tugasku sudah selesai, aku membawa Yuli dan ibu mertua membeli tiket pesawat untuk pulang keesokan harinya, mengakhiri perjalanan gila dan tak masuk akal ini.Uang 4 miliar itu kugunakan untuk membeli rumah baru dan mengganti mobil, sementara sisanya kuserahkan seluruhnya pada Yuli untuk dikelola.Sepuluh bulan kemudian, Yuli sedang bersandar di pelukanku sambil memainkan ponselnya, lalu tak sengaja melihat unggahan terbaru di postingan Mutia.[Terima kasih atas doa semuanya, aku dan anakku baik-baik saja!] Foto yang diunggah memperlihatkan Mutia sedang memeluk bayi laki-laki yang baru lahir dengan senyuman penuh kebahagiaan.Yuli memperbesar foto bayi kecil itu, lalu tersenyum dan berkata, “Sayang, coba lihat, alis

  • Kenikmatan Ganda   Bab 10

    “Aku dan suamiku sudah mencoba program bayi tabung, tapi karena fisiknya lemah dari lahir, tingkat kelangsungan hidup spermanya sangat rendah dan selalu gagal. Aku nggak punya pilihan, hanya bisa meminta bantuan Yuli.”“Kalian berdua juga belum punya anak, ‘kan? Tenang saja, begitu anak ini lahir, aku akan menyuruhnya memanggil kalian orang tua angkat. Dia pasti akan berbakti pada kalian!”Mendengar penjelasan Mutia, pikiranku rasanya kacau balau.Meski setiap pria mendambakan keturunan, membayangkan anak kandungku sendiri kelak tak semarga denganku dan harus memanggil pria lain dengan sebutan ayah, membuat hatiku sangat tidak nyaman.“Lalu… bagaimana dengan video itu?” tanyaku sambil menatap Mutia.Tentu saja dia tahu video yang kumaksud, yaitu rekaman antara Yuli dan suaminya. Dengan terbata-bata, dia menjawab, “Sebenarnya… video itu hanya rekayasa yang kuedit. Aku hanya takut kamu nggak tega melangkah karena terlalu menjaga perasaan Yuli….”Aku terdiam cukup lama. Akhirnya ibu mertu

  • Kenikmatan Ganda   Bab 9

    Ibu mertua melucuti celanaku, lalu menutup salah satu benda milikku dengan kehangatan mulutnya. Meski sudah menyentuh tenggorokannya, tetap saja baru sebagian kecil saja yang berhasil masuk.“Hm… hm….” Dia bersusah payah memanjakannya, wajahnya bahkan sampai memerah hingga tampak seperti hampir kehabisan napas, sementara aromaku memenuhi mulutnya.Benda satunya lagi berada dalam dekapan Mutia yang berlutut di lantai. Mutia menjepitnya erat di antara kedua buah dada montoknya, sambil terus menggeseknya perlahan.Dikepung oleh mereka berdua, pikiranku sepenuhnya tertutup kabut gairah. Aku tak lagi memedulikan batas moral sama sekali.“Sialan….”Desahan pelan keluar dari tenggorokanku. Luapan adrenalin dan gairah memicu aliran darah di seluruh tubuh, hingga aku tanpa ragu menindih tubuh mereka berdua ke atas ranjang.“Ah! Dalam… dalam sekali… menantuku sayang… kamu benar-benar hebat….” Pinggang ibu mertua bergoyang seirama dengan dorongan yang semakin intens. Lekuk tubuhnya yang montok be

  • Kenikmatan Ganda   Bab 8

    Mendengar panggilan ‘sayang’ dari mulut Mutia, aku tak sanggup menahannya lagi. Aku langsung melucuti celanaku sendiri hingga benda luar biasa milikku terpampang bebas.Aku mengunci kedua lengan Mutia ke ranjang, mengangkat kedua kakinya ke atas bahuku, lalu membungkuk menindihnya….“Tok! Tok”Tepat saat aku bersiap memulainya di atas tubuh Mutia, tiba-tiba pintu kamar digedor dengan kencang.Seketika, alarm bahaya berbunyi di dalam kepalaku. Jangan-jangan suara kami terlalu berisik sampai membangunkan Yuli?Raut panik terlihat jelas di wajah Mutia. Dia bergegas menarik sprei di dekatnya untuk menutupi tubuhnya yang telanjang tanpa sehelai benang.Aku terburu-buru memakai baju dan merapikan celana, lalu membuka pintu kamar sambil memutar otak mencari alasan untuk menjelaskan semuanya pada Yuli.Namun, saat pintu terbuka, sosok yang berdiri di luar malah membuatku membeku di tempat.“Ibu… kok… kok kamu ada di sini?” Aku menatap ibu mertua dengan terkejut, bingung harus melakukan apa.Ib

  • Kenikmatan Ganda   Bab 7

    Fakta sudah terpampang jelas di depan mata, mau tak mau aku harus memercayainya. Mengingat kembali ke masa lalu, memang ada satu masa di mana Yuli sering beralasan sering dinas keluar kota. Setiap kali pulang, dia selalu membawa berbagai pakaian, tas, hingga perhiasan, lalu membohongiku dengan bilang bahwa semua itu hadiah dari acara tahunan kantornya.“Jeff, karena Yuli bahkan sudah mengkhianatimu, apa lagi yang kamu ragukan? Kamu nggak menginginkanku?”Sambil berkata demikian, Mutia bangkit dan melingkarkan tangannya di pinggangku. Dia merapatkan keindahan dadanya yang padat ke tubuhku, sementara kedua tangannya bergerak liar di paha dalamku.Dia menghembuskan napas hangat di telingaku, sambil berkata, “Jujur saja, aku sangat iri dengan Yuli. Aku juga ingin merasakan bagaimana nikmatnya mencapai puncak kenikmatan yang luar biasa. Kamu bisa membantuku?”Video di ponsel Mutia masih terus berputar berulang kali. Entah mengapa, melihat istriku dikuasai pria lain bukannya membuatku marah,

  • Kenikmatan Ganda   Bab 6

    Sambil menatap wajah Mutia di luar pintu, aku membayangkan sosok yang berada di bawah tubuhku saat ini adalah dirinya, membuatku semakin hilang kendali.“Jangan… aku benar-benar nggak sanggup lagi… sayang….” Aku bisa merasakan tubuh Yuli gemetaran. Aku pun mencengkeram pinggang rampingnya semakin erat, mendorongnya ke ambang kehancuran. “Teriak lebih keras! Dasar genit!” perintahku dengan kasar sambil terus bergerak dengan brutal.Jeritan Yuli menggema di dalam kamar, bercampur antara rasa sakit dan kenikmatan. Keindahan dadanya yang padat bergetar hebat di bawah remasan tanganku, meninggalkan bekas memar merah yang terlihat jelas.Yuli menangis menahan sakit yang tak tertahankan. Meski tubuhnya kutindih dengan kuat, dia tetap berusaha sekuat tenaga mendorongku menjauh.“Hentikan… cepat hentikan, aku benar-benar bisa hancur….”Hingga Yuli kehabisan seluruh tenaganya dan terkulai lemas di lantai bagaikan genangan lumpur, barulah aku menghentikannya dengan enggan. Namun, benda milikku

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status