Pintu gudang terbuka pelan, kaki Aira melangkah masuk perlahan menyapu setiap sudut ruangan yang terlihat temaram. Pandangan tajam, menatap sudut gelap tempat persembunyian Maya berada."Maya!" teriak Aira. "Keluar kamu! Jangan terus bersembunyi!" Hening. Tidak ada jawaban sama sekali, hanya desau angin yang menjawab teriakan Aira. Wanita itu terdiam, tangannya mencengkeram kuat senter yang ia genggam."May!" Di balik tumpukan karung, Maya meringkuk ketakutan. Gaun pesta minimnya kini robek di bagian bawah dan kotor oleh noda tanah merah. Riasan tebal di wajahnya luntur bercampur air mata dan keringat.Melihat Aira berdiri tegap di ambang pintu dengan sorot mata dingin tanpa belas kasihan, Maya seketika merangkak keluar dari persembunyiannya."Ai ... Aira ..." bisik Maya gemetar, kedua tangannya terangkat memohon. "Aira, tolong, jangan bunuh aku. Aku minta maaf, Ai ... aku benar-benar minta maaf!"Aira menatap wanita di bawah kakinya itu tanpa berkedip. Tidak ada lagi sisa kehang
Última actualización : 2026-10-18 Leer más